Resmob Polsek Panakkukang Tangkap Remaja Pencuri Tabung Gas bersama Penadahnya

Tribratanews.polri.go.id – Polda Sulsel, Tim Resmob Polsek Panakkukang berhasil mengamankan pelaku pencurian dengan pemberatan (curat) dan seorang penadah, Selasa (30/1/18) Pukul 03.30 wita.

Pelaku yang berinisial FK alias Pooh (16) warga jalan Adhyaksa baru Lr. 5 dan seorang perempuan inisial SR (55) warga jalan Adhyaksa baru Lr. 7 Makassar merupakan penadah barang curian.

FK merupakan pelaku pencurian 5 (lima) buah tabung gas di jalan Adhiyaksa Lr. 3 kelurahan Pandang Makassar, setelah itu dijual kepada Pr. SR (55) dengan harga 1 tabung gas Rp. 100.000,- di jalan Adhiyaksa Lr.7 rumah Pr. SR.

Kompol Ananda menjelaskan, FK berhasil diamankan saat Resmob Polsek Panakkukang yang dipimpin Dantim Resmob Polsek Panakkukang Bripka Zulqadri melakukan penyelidikan.

Dari hasil interogasi Pelaku FK, dirinya membenarkan telah melakukan pencurian 5 buah tabung gas dan juga mengakui bahwa dirinya telah pernah melakukan penodongan dan perampasan Hp di wilayah maros sekitar bulan Januari 2018.

Kini FK dan SR beserta dengan barang buktinya diamankan di Polsek Panakkukang untuk dilakukan penyidikan lebih lanjut. Tutup Ananda. (Polrestabesmakassar.com)

Pelaku kejahatan atau pelaku perilaku jahat di masyarakat tidak hanya dilakukan oleh anggota masyarakat yang sudah dewasa, tetapi juga dilakukan oleh anggota masyarakat yang masih anak-anak atau yang biasa kita sebut sebagai kejahatan anak atau perilaku jahat anak. Fakta menunjukkan bahwa semua tipe kejahatan anak itu semakin bertambah jumlahnya dengan semakin lajunya perkembangan industrialisasi dan urbanisasi.

Kejahatan yang dilakukan oleh anak-anak pada intinya merupakan produk dari kondisi masyarakatnya dengan segala pergolakan sosial yang ada di dalamnya. Kejahatan anak ini disebut sebagai salah satu penyakit masyarakat atau penyakit sosial. Penyakit sosial atau penyakit masyarakat adalah segala bentuk tingkah laku yang di anggap tidak sesuai, melanggar norma-norma umum, adat-istiadat, hukum formal , atau tidak bisa diintegrasikan dalam pola tingkah laku umum.

Kejahatan dalam segala usia termasuk remaja dan anak-anak dalam dasawarsa lalu, belum menjadi masalah yang terlalu serius untuk dipikirkan, baik oleh pemerintah, ahli kriminologi , penegak hukum, praktisi sosial maupun masyarakat umumnya. Perilaku jahat anak-anak dan remaja merupakan gejala sakit (patologis) secara sosial pada anak-anak yang disebabkan oleh salah satu bentuk pengabaian sosial.

Sehingga mereka itu mengembangkan bentuk tingkah-laku yang menyimpang. Pengaruh sosial dan kultural memainkan peranan yang besar dalam pembentukan atau pengkondisian tingkah-laku kriminal anak-anak dan remaja. Perilaku anak-anak  dan remaja ini menunjukkan tanda-tanda kurang atau tidak adanya konformitas terhadap norma-norma sosial.

Anak-anak dan remaja yang melakukan kejahatan itu pada umumnya kurang memiliki kontrol-diri, atau justru menyalahgunakan kontrol-diri tersebut, dan suka menegakkan standar tingkah-laku sendiri, di samping meremehkan keberadaan orang lain. Kejahatan yang mereka lakukan itu pada umumnya disertai unsur-unsur mental dengan motif-motif subyektif, yaitu untuk mencapai satu objek tertentu dengan disertai kekerasan.

Pada umumnya anak-anak dan remaja tersebut sangat egoistis, dan suka sekali menyalahgunakan dan melebih-lebihkan harga dirinya. Adapun motif yang mendorong mereka melakukan tindak kejahatan itu antara lain adalah :

1.Untuk memuaskan kecenderungan keserakahan.

2.Meningkatkan agresivitas dan dorongan seksual.

3.Salah-asuh dan salah-didik orang tua, sehingga anak tersebut menjadi manja dan lemah   mentalnya.

4.Hasrat untuk berkumpul dengan kawan senasib dan sebaya, dan kesukaan untuk meniru-niru.

5.Kecenderungan pembawaan yang patologis atau abnormal.

6.Konflik batin sendiri, dan kemudian menggunakan mekanisme pelarian diri serta pembelaan diri yang irrasional.

Penulis : Marwan

Editor : Alfian

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password