Dijambret di Flyover, Dua Pengendara Luka Pertahankan Handphonenya

Tribratanews.polri.go.id – Makassar Sulsel, Dua pengendara berboncengan ini terpaksa mendapat perawatan di RS Ibnu Sina, lantaran terjatuh setelah mempertahankan handphone (HP) miliknya saat akan dijambret di bawah jembatan Flyover, Jalan Urip Sumoharjo, Minggu (19/2/2017) sekira pukul 02.30 Wita. Kedua korban mengalami luka di tangan dan wajah.

Kedua korban yang berboncengan sepeda motor jenis Yamaha Mio yakni Mardani (26) dan Fitriani (24). Mereka sempat tarik menarik dengan pelaku jambret berjumlah dua orang saat mempertahankan HP miliknya.

Informasi yang dihimpun, korban berkendara dari arah DPRD Sulsel. Saat berada di lampu merah Flyover, dua pelaku menghampiri dan berusaha menarik HP Fitriani yang berada di saku.

“Saya tarik HP ku dan terjadi tarik menarik dengan pelaku. Saya berhasil mempertahankan HP namun terjatuh hingga luka,” ujar Fitriani yang ditemui di RS Ibnu Sina.

Saat ditemui di RS Ibnu Sina, belum ada pihak kepolisian yang megambil keterangan korban.

Kejahatan jalanan seperti penjambretan dan penodongan dilakukan pelaku karena banyak hal. Kesulitan ekonomi, salah satu faktor utama alasan pelaku kejahatan melakukan aksi penjambretan dan penodongan.

Pelaku kejahatan jalanan ini bisa dilakukan oleh siapa saja. Tetapi kebanyakan, dilakukan oleh masyarakat di tingkat ekonomi bawah. Pengangguran, menjadi salah satu golongan pelaku yang kerap melakukan aksi penjambretan.

Penjambret ini bisa dilakukan oleh siapa pun, tergantung niat pelaku. Namun dari beberapa kasus yang diungkap kebanyakan dilakukan oleh pengangguran yang tidak memiliki pekerjaan. Alasannya, butuh uang karena tidak ada pekerjaan sehingga menjambret atau menodong.

Untuk lokasi yang rawan kejahatan jalanan, ini biasanya terjadi di pusat perbelanjaan, tempat keramaian hingga jalanan umum. Orang naik motor juga bisa menjadi sasaran.

Kejahatan jalanan seperti perampasan atau jambret dan penodongan banyak menyasar kaum hawa. Perempuan rentan menjadi sasaran karena dianggap tidak akan melawan. Tidak hanya itu, kaum wanita memiliki ciri khas tersendiri dalam membawa tasnya.

Kebanyakan wanita menjadi sasaran pencurian, karena memang wanita cara membawa tasnya unik, spesifik ditaruh di bahu, lengan, ditaruh di motor, sehingga si pelaku dengan mudahnya merampas tas tersebut.

Tindak kejahatan yang terjadi selama ini sudah mencapai batas yang di khawatirkan, yang dampaknya secara luas dapat meresahkan masyarakat, karena tindak kejahatan yang sering terjadi tidak jarang disertai dengan tindakan penganiayaan serta perlakuan kekerasan yang dilakukan terhadap korban.

Sehingga peristiwa-peristiwa semacam itu kemudian menimbulkan trauma bagi masyarakat sekitar. Hal ini tidak saja dialami oleh masyarakat perkotaan namun sudah meluas di lingkungan pedesaan.

Pada prinsipnya banyak usaha dan kegiatan yang ditempuh pemerintah dan aparat hukum dalam rangka mencegah terjadinya tindak pidana pencurian dengan kekerasan, baik melalui penyuluhan hukum dan peningkatan sistem keamanan. Maupun dengan cara penghukuman terhadap pelaku tindak pidana pencurian dengan kekerasan ini dengan hukuman yang berat.

Hukuman bagi pelaku pencurian dengan kekerasan, sesuai dalam KUHP Tindak Pidana Pencurian dengan Kekerasan yang diatur dalam Pasal 365 dengan pidana penjara selama-lamanya dua belas tahun atau jika perbuatan curas itu mengakibatkan kematian, maka diancam dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun atau dengan pidana mati atau pidana seumur hidup atau selama waktu tertentu paling lama dua puluh tahun.

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password