Kegigihan Anak Yatim yang Lolos Jadi Polisi

Tribratanews.polri.go.id – Pandeglang. Kemauan yang keras ditambah usaha tekun membuat Mardani berhasil menggapai cita-citanya menjadi polisi. Bagaimana kisahnya?

Mardani adalah anak yatim berusia 19 tahun. Ia menjadi salah satu dari 210 siswa Sekolah Bintara (Seba) Polda Banten 2019 yang mengikuti pendidikan di Sekolah Kepolisian Negara (SPN) Mandalawangi, Kabupaten Pandeglang.

Pada Kamis (1/8), Radar Banten berkesempatan mengunjungi SPN Mandalawangi. Dalam perjalanan dari Kota Serang menuju Pandeglang, saya tidak sendiri. Ada sejumlah rekan dari Humas Polda Banten turut mengantar. Informasi keberhasilan anak yatim Mardani lolos menjadi siswa Seba Polda Banten menggugah saya untuk mewawancarai langsung.

Setibanya di gerbang SPN Mandalawangi sekira pukul 14.50 WIB, tampak pria tegap lengkap dengan seragam Polri menunggu. Di pundaknya, terlihat tiga melati. Pria tersebut adalah Komisaris Besar Polisi (Kombes Pol) Sonny Irawan, Kepala SPN Mandalawangi. Ia sengaja menunggu kehadiran Radar Banten beserta rekan Humas Polda Banten.

Sebelumnya, Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Polda Banten Kombes Pol Edy Sumardi Priadinata telah mengontak melalui telepon kepada Sonny Irawan. Edy menyampaikan tujuan rekan media mitra Humas Polda Banten yang ingin berkunjung ke SPN Mandalawangi.

“Selamat datang di SPN Mandalawangi,” sambut Sony kepada kami.

“Gimana perjalanan dari Serang (menyebut Kota Serang-red)?” tanya Sonny.

Kami kompak menjawab, “Lumayan”. Seketika, Sonny tertawa kecil. Dia lalu mengajak kami ke ruangannya. Di dalam ruangan, pria yang pernah menjabat sebagai kepala Polres Demak itu menanyakan maksud dan tujuan kami ke SPN. Obrolannya dengan Kabid Humas Polda Banten Kombes Pol Edy Sumardi Priadinata mungkin membuatnya belum menerima informasi yang jelas.

Radar Banten lalu menjelaskan maksud dan tujuannya. Sekira berbincang selama 15 menit, Sonny mengerti. Dia lalu memanggil pengasuh siswa Seba Polda Banten, namanya Bripda Alfin. “Alfin, kamu coba tolong arahkan mereka menemui Mardani,” perintah Sonny. “Siap, Ndan,” sahut Alfin.

Kami lalu meninggalkan ruangan kepala SPN Mandalawangi dan menuju lapangan. Ada ratusan siswa Seba berkumpul. Mereka sedang berlatih baris berbaris dan kekompakan yel-yel. “Yang bernama Mardani, keluar barisan,” ujar Bripda Alfin menggunakan pengeras suara.

Mendengar pengumuman itu, sesosok pemuda mengenakan seragam cokelat berlari. Rambutnya tipis. Mukanya tampak menghitam. “Siap, saya, Bang,” kata Mardani.

Saat sesi wawancara akan dimulai, saya menanyakan identitas lengkap dan kehidupannya. Mardani menjawab satu per satu. Termasuk statusnya sebagai anak yatim. Diakui Mardani, ayahnya Husen telah meninggal pada 2010. Sejak saat itu, Mardani dihidupi oleh ibunya, Marni (45), yang kini menjadi tukang gosok pakaian di tempat usaha konfeksi di kampungnya, Desa Sindangsari, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Serang. “Pekerjaan Ibu bantu-bantu tetangga dan kerja di konfeksi,” kata Mardani.

Semangat dan kegigihan yang dijalani ibunya sehari-hari membuat Mardani berkeinginan untuk segera bekerja. Ia ingin segera meringankan beban ibunya. Sejak ayahnya telah tiada, kehidupan keluarga semakin sulit. Untuk makan, Mardani dan dua kakak serta adiknya hanya menyantap menu seadanya.  “Saya bersyukur masih bisa makan,” ucap Mardani.

Cita-cita menjadi polisi baru muncul saat Mardani duduk di kelas VIII SMP. Dia melihat polisi yang mengatur lalu lintas. “Saya melihat ada polisi gagah berani mengatur lalu lintas. Dalam hati saya ingin jadi seperti itu (polisi-red),” kata Mardani.

Untuk menggapai cita-citanya itu, Mardani mulai mempersiapkan diri. Dia mulai tekun belajar dan sering berolahraga. “Tekad saya dalam hati harus lulus jadi polisi,” ucap Mardani.

Isu di luar yang menyebut jadi polisi harus mengeluarkan uang ratusan juta rupiah tidak dipedulikan Mardani. Dia terus berlatih fisik dan terus belajar. “Selain itu juga saya berdoa,” tutur Mardani.

Dia berpesan kepada adik-adiknya yang akan lulus SMA sederajat dan bercita-cita menjadi polisi agar tidak percaya calo. Yang terpenting, kata dia, adalah persiapan yang matang. “Yang penting percaya diri. Masuk polisi enggak bayar,” kata Mardani.

Setelah berbincang hampir 30 menit dengan Mardani, Radar Banten pamit dengan Kepala SPN Mandalawangi Kombes Pol Sonny Irawan. Tak lupa kami mengucapkan terima kasih karena telah dibantu dan diterima dengan baik.

TERMOTIVASI DARI KAKAK

Keberhasilan Mardani lolos menjadi siswa Seba Polda Banten membuat saya penasaran dengan kehidupan Mardani. Jumat (2/8) sekira pukul 08.30 WIB, saya mengunjungi rumah Mardani. Beruntung bagi saya, ibu Mardani, Marni, saat itu masih berada di rumah. Dia sedang menyuci pakaian.

Saat mengetahui tamu yang datang adalah wartawan, Marni berhenti menyuci. Dia lalu mengajak masuk ke dalam rumah dan melayani sesi wawancara. “Biasalah kalau Ibu (menyebut dirinya-red) sebelum kerja ke konfeksi begini, bersih-bersih rumah, habis itu nyuci,” katanya.

Marni tidak menampik saat ayah Mardani pergi, kehidupannya sangat sulit. Kondisinya mulai sedikit membaik saat kakak perempuan Mardani, Susi Susanti (25), diterima bekerja di klinik di Baros sehingga perekonomiannya sedikit terbantu. “Karena kalau kerja di konfeksi pendapatan saya paling Rp1,5  juta sebulan. Kadang kalau enggak ada kerjaan saya menganggur di rumah,” ucap Marni.

Marni bersyukur anaknya diterima sebagai siswa Seba Polda Banten. Sebab, dirinya sampai saat ini kadang tidak menyangka. “Saya sangat bersyukur Pak, anak saya jadi polisi,” katanya.

Sehari-hari Mardani, kata Marni, menerapkan kehidupan yang disiplin. Apalagi, setelah melihat kakaknya Jaya (24) lolos menjadi tamtama TNI AD. “Kakaknya sudah dua tahun dinas di Papua. Saat melihat kakaknya lolos jadi tentara, Mardani semakin giat olahraga dan belajar,” kata Marni.

Marni mengaku, sempat tak kuasa menahan tangis saat mengetahui anaknya diumumkan lolos sebagai siswa Seba Polda Banten. “Saya kalau melihat perjuangan anak sangat sedih, Pak (menyebut wartawan-red). Saya saat tahu dia lolos, saya peluk dia dan menangis. Saya enggak punya apa-apa, Pak. Untuk dukung anak saya jadi polisi, saya hanya kasih dia ongkos sama jajan kalau dia lapar saat ikut tes,” tutur Marni sambil terisak.

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password