Pelaku Editor dan Penyebar Video Hoaks Kapolri dan Panglima TNI Termotivasi Ceramah Di Youtube

Tribratanews.polri.go.id-Jakarta. Pelaku editor dan penyebar video Kapolri Jenderal Tito Karnavian dan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto berinisial FA (20) yang ditangkap Tim Bareskrim Polri mengaku bahwa dia termotivasi untuk melakukan perbuatan tersebut karena tersangka sering mendengar dan menonton ceramah HRS (Habib Rizieq Syihab) melalui media sosial YouTube.

“Tersangka mengaku termotivasi untuk melakukan perbuatan tersebut karena tersangka sering mendengar dan menonton ceramah HRS (Habib Rizieq Syihab) melalui media sosial Youtube, sehingga tersangka tidak suka dengan pemerintahan sekarang ini,” ungkap Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol. Dr. Dedi Prasetyo, M.Hum., M.Si., M.M. dalam keterangan tertulisnya, Jumat (31/5/19).

Dalam video yang diedit FA, Kapolri dinarasikan seolah-olah mengizinkan anggotanya menembak masyarakat.

“Dalam video aslinya tersebut, Kapolri menanyakan kepada anggota Brimob, ‘Saya mau tanya, kalau di lapangan tiba-tiba ada orang bawa parang mau membunuh masyarakat, boleh nggak ditembak?’ Dijawab (oleh anggota), ‘Siap, boleh Jenderal,'” jelas Karo Penmas Divisi Humas Polri, Jumat (31/5/19).

Pelaku mendapatkan video asli video Kapolri Jenderal Tito Karnavian dan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto saat mengecek pasukan pengamanan Pemilu 2019 dari aplikasi pesan WhatsApp Group. Kemudian video itu diedit pelaku dan dinarasikan Jenderal Tito seolah-olah mengizinkan anggotanya menembak masyarakat.

Selain FA, polisi juga menangkap pemuda berinisial AH pada 29 Mei 2019 atau keesokan harinya. AH diduga ikut menyebarluaskan konten yang dibuat oleh FA.

“Diduga menyebarkan informasi yang menimbulkan kebencian dan permusuhan individu atau kelompok, berdasarkan diskriminasi ras dan etnis serta penyebaran berita bohong, yang dapat menimbulkan keonaran dikalangan rakyat melalui Fecebook,” ungkap mantan Wakapolda Kalteng tersebut.

Dari kedua tersangka, polisi menyita barang bukti berupa ponsel dan sim card.

Atas perbuatannya tersangka dijerat Pasal 51 juncto Pasal 35 ayat (1) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang ITE, dan/atau Pasal 45 ayat (2) juncto Pasal 28 ayat (2); dan/atau 14 ayat (1) dan (2); dan/atau Pasal 15 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana.

(ng/sw/hy)

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password