Melayat Kerumah Warganya yang Meninggal, Bripka M. Jufri Ikut Bantu Persiapkan Kain Kafan Jenazah

Tribratanews.polri.go.id – Polda Sulsel, Kurangnya rasa percaya (trust) masyarakat terhadap polisi di Indonesia adalah salah satu masalah yang masih dihadapi Polri ketika melaksanakan tugas dan ketika bekerjasama dengan masyarakat. Tetapi, polisi juga seringkali tidak percaya kepada masyarakat, tokoh masyarakat, dan lembaga swadaya masyarakat.

Dalam rangka membangun empati antara Polri dan masyarakat, perlu dipahami kedua kemampuan ini yakni kemampuan saling mempercayai dan kemampuan empati. Empati adalah kunci membina kepercayaan dari masyarakat. Rasa percaya atau trust relevan sekali dalam kondisi sosial tertentu.

Dalam kehidupan masyarakat, Polisi memainkan banyak peran sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya. Mengatur lalu lintas, menegakkan hukum, menyidik perkara, memelihara keamanan dan ketertiban, dan melindungi keselamatan warga negara adalah sebagian dari tugas polisi. Istilah yang sering digunakan adalah melayani, melindungi, dan mengayomi.

Walaupun peran polisi sangat banyak, atau karena peran polisi sangat banyak, pengetahuan masyarakat mengenai polisi, motif polisi, dan tanggapan atau respons polisi, sangat terbatas. Ada ketidaktahuan dan ketidakpastian di masyarakat luas mengenai kinerja polisi.

Pada saat yang sama, dengan peran yang banyak tersebut, yang disertai dengan kewenangan yang dimiliki polisi berdasarkan konstitusi dan undang-undang, polisi memiliki peluang dan kesempatan untuk mengecewakan harapan-harapan masyarakat. Anggota Polri ada yang melakukan korupsi, pungutan liar, dan penyalahgunaan wewenang lainnnya.

Apabila polisi menyalahgunakan wewenang, korupsi, dan tindakan-tindakan lain yang menghianati kepercayaan masyarakat, maka kepercayaan masyarakat terhadap Polri akan merosot. Mungkin, yang menghianati kepercayaan masyarakat itu hanya sebagian kecil dari anggota polisi.

Akan tetapi, dampaknya bisa mengenai polisi pada umumnya. Salah satu perkiraan mengatakan bahwa hanya 10 persen dari anggota polisi yang kasar dan brutal. Tapi, yang 10 persen itu merusak yang 90 persen sisanya yang tidak kasar dan tak brutal. Gara-gara nila setitik, rusak susu sebelanga – begitu kata pepatah.

Apakah kepercayaan yang sudah rusak dapat diperbaiki? Bagaimana polisi memulihkan kepercayaan masyarakat terhadap profesi dan institusi mereka? Pada umumnya kita bisa mengatakan bahwa kepercayaan akan meningkat apabila kepercayaan itu didukung dengan langkah dan bukti nyata, dan akan merosot jika diabaikan, dikecewakan, dan dikhianati.

Supaya kepercayan pulih, Polri bisa mengembangkan norma dan kode etik yang mewajibkan anggota supaya tidak menghianati warga masyarakat yang memercayainya. Jika warga masyarakat bertemu dengan banyak polisi yang jujur, dan hanya sesekali mendapatkan polisi yang tak jujur, maka kepercayaan masyarakat akan meningkat.

Selanjutnya, polisi akan memiliki reputasi atau nama baik. Kalau institusi Polri memiliki reputasi dan nama baik, anggota polisi akan merasa berkepentingan menjaga reputasi dan nama baik polisi di mata warganegara. Pada gilirannya pula, masyarakat akan semakin mempercayai polisi.

Perlu ditekankan di sini bahwa polisi yang memiliki empati bukanlah polisi yang lembek dan main perasaan. Justru sebaliknya: Polisi yang berempati memiliki dua ciri yang saling berhubungan yakni, pertama, setia melaksanakan tugas pokok dan fungsi profesi polisi. Kedua, peduli terhadap, dan memahami, kebutuhan, keprihatinan, dan keinginan masyarakat.

Polisi yang memiliki empati tinggi memiliki kemampuan menyelesaikan masalah yang lebih tinggi juga. Karena polisi berusaha memahami dan peduli dengan kebutuhan, kepentingan, dan keprihatinan masyarakat, maka polisi memiliki bekal informasi dan pengetahuan yang diperlukan supaya profesinya dapat dijalankan lebih baik.

Seperti yang dilakukan Bhabinkamtibmas Kelurahan Pandang Kecamatan Panakkukang Bripka Muh. Ismail yang selalu berupaya untuk melaksanakan tugas mendasar sebagai seorang Polri, salah satunya menghadiri acara duka dirumah warga binaannya di RT 013, RW 004, Lingkungan Bontobaddo, Kel. Bontoramba, Kecamatan Somba Opu, yang meninggal karena sakit, Ahad (22/04/18).

Sebagai Bhabinkamtibmas Bripka M. Jufri senantiasa berusaha untuk selalu ada untuk warganya baik itu dalam acara pesta pernikahan atau acara syukuran apatalagi kalau ada warganya yang kedukaan.

Dalam kesempatan tersebut Bripka M. Jufri menyampaikan belasungkawa kepada keluarga almarhum sekaligus memberikan dukungan moril dan nasehat kepada keluarga yang ditinggalkan bahwa kita semua pasti akan kembali kepada Tuhan yang maha kuasa serta membantu menyiapkan kelengkapan kain kafan untuk almarhum.

Perintah dan arahan Kapolres Gowa Akbp Shinto Silitonga bahwa anggota Polri khususnya bhabinkamtibmas yang bersentuhan langsung dengan masyarakat untuk membantu dan menyelesaikan masalah yang terjadi diwilayahnya. (Humas Polres Gowa)

Penulis : Marwan

Editor : Alfian

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password