Berniat Jual Satwa Langka, SR Diglandang Petugas

tribratanews.polri.go.id -PoldaDIY, Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda DIY berhasil mengungkap kasus penjualan ilegal satwa langka burung yang dilindungi, Kamis (12/4/2018).

Dirreskrimsus Polda DIY Kombes Pol Drs. Gatot Agus Budi Utomo mengatakan Subdit 4 Tipiter Ditreskrimsus Polda DIY berawal dari informasi masyarakat bahwa di wilayah Srandakan Bantul ada seseorang SR yang akan melakukan penjualan satwa yang dilindungi berupa kakak tua seram (jambul orange ) seharga 3.500.000,-( tiga juta lima ratus ribu rupiah) kemudian anggota opsnal atas bantuan masyarakat menindak lanjuti informasi tersebut ternyata benar di dalam rumah pelaku SR menyimpan dan memiliki beberapa jenis burung yang dilindungi antara lain
2 ( dua ) ekor kakak tua seram (jambul orange );
2 ( dua ) ekor kakal tua jambul kuning;
2 ( dua ) ekor elang bondol dan
1 ( satu ) elor elang bido.

Saat diperiksa, pelaku SR tidak dapat menunjukan surat ijin memeliki dan memelihara dari semua jenis burung yang dipeliharanya. Selanjutnya Polda DIY bekerja sama dengan BKSDA melalukan identifikasi jenis burung dan pengecekan penyakit dan virus.hasil identifikasi BKSDA menyimpulkan bahwa ketujuh burung tersebut masuk dalam satwa yang dilindungi.

“Dalam hal ini pelaku dijerat dengan pasal 40 ayat (2) jo pasal 21 ayat (2) huruf a UURI No 4 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, dengan ancaman hukuman maksimal 5 tahun penjara dan denda Rp 100.000.000,-( seratus juta rupiah ),” jelas Dirreskrimsus.

Dari hasil pemeriksaan tersangka SR sudah 3 tahun melakukan jual beli satwa yang dilindungi tersebut yaitu dengan cara-cara konvesional dengan datang ke pasar-pasar untuk menawarkan satwa tersebut. Satwa tersebut didapat tersangka SR dari masyarakat dan pencinta burung dan ada juga yang dibeli dari pasar.

Disaat yang sama Kepala BKSDA Ir Junita Parjanti MT menegaskan bahwa burung-burung tersebut dalam keadaan sehat tapi agak stress dan belum mau makan. Burung tersebut kami kandangkan satu-satu sesuai jenis satwanya. Dalam bekerja BKSDA mengacu pada Undang-undang nomor 5 tetang konservasi Keanekaragama Hayati karena sudah ada pasal memiliki memperdagangkan satwa yang dilindungi termasuk sanksinya dan UU no 41 tentang Kehutanan juga UU no 18 tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Penggrusakan Hutan.

“Untuk sementara satwa ini kami bawa kestasiun flora fauna di Tahura Borobudur yang dilengkapi kandang penyelamatan satwa,” tuturnya.

penulis : Amir
editor : R. Dwi Candra
publish : Jay

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password