Antisipasi Hate Speech Dalam Pilkada Serentak Tahun 2018, Polda Bali Imbau Masyarakat Lebih Bijak Menggunakan Media Sosial

Tribratanews.polri.go.id – Polda Bali – Berbagai potensi seperti ujaran kebencian (hate speech), politik uang (money politic), dan kampanye hitam (black campaign) dapat mengganggu kondusifitas pelaksanaan Pilkada serentak tahun 2018. Untuk itu, sebagai leading sector dalam pengamanan Pilkada 2018, Kepolisian harus mampu bersinergi dengan instansi terkait untuk menciptakan Pilkada yang aman, lancar dan damai.

Sebagai wujud sinergitas Polri dalam rangka menciptakan Pilkada yang aman dan damai, Polda Bali bersama Kodam IX/Udayana dan seluruh penyelenggara Pilkada melakukan berbagai hal. Diantaranya, menyelenggarakan apel gelar pasukan Operasi Mantap Praja 2018, megibung kamtibmas atau kegiatan kumpul bersama berbagai pemangku kepentingan, tatap muka penyelenggara pemilu, kegiatan olah raga bersama dan deklarasi damai.

Selain itu, Polda Bali juga melakukan langkah-langkah antisipasi melalui media. Kali ini, Panit 1 Unit 4 Subdit 2 Dit Reskrimum Polda Bali Iptu Andi Prasetio, S.H. hadir sebagai narasumber dalam acara dialog interaktif di Radio Cassanova, Denpasar, Rabu (21/2/2018). Interaktif yang berlangsung dari pkl. 09.00 sampai dengan 10.00 Wita ini mengambil topik “ antisipasi ujaran kebencian (hate speech) dalam pelaksanaan Pilkada di media sosial”.

Dalam dialog interaktifnya, Iptu Andi Prasetio,S.H. menyampaikan bahwa ujaran kebencian adalah tindakan ataupun tulisan yg mengungkapkan rasa kebencian kepada orang /kelompok golongan tertentu dengan tujuan mengajak atau menyebarkan kebencian tersebut kepada orang lain, jika hal ini di biarkan bisa menyebabkan perpecahan karena di Indonesia banyak perbedaan, kalau dibiarkan tanpa dikendalikan secara konkrit akan menjadi bencana.

Panit 1 Unit 4 Subdit 2 Dit Reskrimum Polda Bali mengungkapkan, perkembangan hate speech di media sosial (medsos) sangat cepat. Ada lebih dari 200 jutapemilik akun medsos di indonesia, artinya ini merupakan potensi yang luar biasa utk membentuk suatu opini tertentu, medsos mulai digunakan sbg ajang pembentukan opini publik dan ajang kampanye sejak Pilpres 2009 dan hasilnya sungguh luar biasa

Menurutnya, ujaran kebencian menjadi trend di medsos untuk menjatuhkan orang lain. Hal ini terlihat dari cepatnya perkembangan medsos dalam hal share berita. “Tentu, media sosial cepat mempengaruhi. Karena ketika dilakukan kampanye secara terus menerus yang sebenarnya bohong, akhirnya karena terus menerus di share menjadi sebuah kebenaran,” ungkapnya.

Apakah ada masanya berlaku ujaran kebencian? Iptu Andi Prasetio, S.H. mengungkapkan, perilaku ujaran kebencian terjadi setiap saat, terutama saat ada even tertentu seperti yang sekarang kita laksanakan yaitu Pilkada serentak tahun 2018. “Saya mengimbau kepada seluruh masyarakat, jangan gampang menshare informasi, karena orang yang menyebarkan informasi yang tidak benar (hoax) ataupun yang bersifat ujaran kebencian akan dikenakan Undang Undang RI nomor 19 tahun 2016, tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE),” ucapnya.

Terkait siapa oknum yang menyebarkan ujaran kebencian, Iptu Andi Prasetio, S.H. mengatakan bahwa orang yang fanatik atau secara militan mendukung sesuatu atau seseorang, terkadang bisa menjadi salah satu oknum penyebar ujaran kebencian di medsos. “Targetnya merupakan pengguna media sosial, karena di dunia maya seseorang bisa menjadi bukan dirinya sebenarnya,” katanya.

Diungkapkannya, cukup dengan tidak memposting kembali atau copy paste dari berita yang kita terima, kita dapat menghentikan ujaran kebencian dan batasan agar tidak keterusan, karena itu tujuannya untuk memviralkan berita. “Jadi caranya jangan diteruskan, tapi kalau itu menyangkut SARA bisa dilaporkan saja kepada kami,” ujarnya.

Tidak hanya itu, Iptu Andi Prasetio, S.H. juga mengatakan bahwa Polda Bali bekerjasama dengan Kominfo dan Pemerintah Daerah Bali untuk menanggulangi berbagai hal negatif di medsos. Selain itu, orientasi ke sekolah-sekolah juga dilakukan untuk memberikan imbauan kepada anak remaja, sehingga hal ini dapat dicegah.

“Kita harus sadari internet bukan milik kita sendiri. Saat berbicara di medsos, itu kita bicara pada dunia tanpa batas. Banyak juga yang menjadi korban dari medsos, karena kita bisa menjadi siapa saja ketika berada di media sosial,” imbuhnya.

Pada kesempatan tersebut, Iptu Andi Prasetio, S.H. mengimbau apabila menemukan hal yang berbau hate speech, masyarakat dapat melaporkan ke Direktorat Reskrimum Polda Bali. Namun untuk melakukan penanganan, kita membutuhkan link berita bukan capture berita yang di share. Link tersebut dapat dikirim ke email ditreskrimsus@gmail.com.

“Kalangan anak muda sekarang banyak menggunakan medsos untuk berbagai hal, mulai dari berteman hingga bisnis. Untuk itu, jangan menggunakan internet dengan cara negatif tetapi lebih positif dalam berinternet,” pungkasnya.

Penulis : Komang Arya

Editor   : Swanjaya

Publish : Christian Udayana

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password