Lihat Kemacetan, Bhabinkamtibmas Ini Turun Tangan Lakukan Pengaturan

Tribratanews.polri.go.id – Polda Sulsel, Bhabinkamtibmas yang berperan sebagai pengemban tugas multifungsi di Desa sangatlah dibutuhkan kehadirannya di tengah masyarakat terutama dalam hal memperlancar arus lalu lintas, yang notabenenya kehidupan bermasyarakat ini semuanya beraktifitas dengan kendaraan.

Boleh dikata setiap kepala rumah tangga tidak adalagi yang tidak memiliki kendaraan, sehingga volume kendaraan setiap harinya semakin meningkat dengan ruas jalan yang sudah tidak seimbang dengan kendaraan yang ada.

Inilah salah satu faktor penyebab sehingga seringnya terjadi kepadatan bahkan sampai kemacetan ditiap ruas jalan yang ada di Kab. Gowa, sehingga sebagian pengguna jalan merasa risih akan situasi yang demikian. Namun apa hendak dikata karena sudah kondisinya demikian.

“Pihak Kepolisian tidak henti-hentinya dan bosan-bosanya sebagai Pelayan, Pengayom dan Pelindung masyarakat, menurunkan dan menerjunkan personilnya dalam menangani problematika yang dialami masyarakat untuk melakukan dan berbuat hal yang Positif demi keamanan dan kelancaran di jalan sehingga masyarakat dapat menikmati perjalanannya dengan baik dan tenang,” terang Kapolres Gowa Akbp Shinto Silitonga SIK., MSi.

“Beginilah yang biasa terjadi di ujung jembatan kembar setiap harinya yang mana di pertigaan jalan Pengendara dan Pengemudi sering tidak memberi Prioritas sehingga pengguna jalan mengalami antrian yang cukup panjang ditambah banyaknya Pengendara yang tidak Disiplin dalam berlalu lintas,” ungkap Aiptu Muh. Tahir yang ditugaskan di wilayah tersebut, Selasa (20/02/18). (Humas Polres Gowa)

Meski bukan tugasnya untuk mengatur laku lintas namun ini merupakan bentuk Police Care, yang mana polisi senantiasa melaksanakan tugas secara ikhlas walaupun tidak pada fungsi atau tugas pokok masing-masing. Tindakan Aiptu Tahir dilapangan merupakan insting kemanusiaan.

Dengan program Police Care diharapkan semua fungsi mampu bertugas dan menguasai bidang lain, tidak hanya fokus pada tugas pokoknya saja melainkan dapat bekerja dan menjalankan semua fungsi yang ada di Kepolisian baik itu reserse, Intel lantas, binmas dan Sabhara.

Polisi terus melakukan pembenahan dan memperbaiki citranya yang berangsur-angsur mulai membaik. Bentuknya antara lain seperti yang dilakukan Brigpol Musrihun, selain itu perbaikan sistem dan manajemen ditubuh kepolisian, peningkatan kualitas SDM, penambahan alat-alat penunjang operasional kepolisian, peningkatan kesejahteraan anggota Polri, dan penegakan reward and punishment terhadap anggota Polri.

Dibalik semua pembenahan tersebut, kita pun tidak dapat menutup mata bahwa sebagian masyarakat masih melihat polisi sebagai sosok yang angker, arogan, kurang bersahabat, kaku, dan menyeramkan sehingga masyarakat enggan berhubungan dengan polisi.

Ketika bertemu dengan polisi, justru merasa kurang nyaman, takut ditilang walaupun surat-surat kendaraan lengkap karena ada oknum polisi yang suka menjebak dan mencari-cari kesalahan pengendara, takut melapor jika menjadi korban kecelakaan atau tindak kejahatan karena takut menjadi objek pemerasan polisi.

Berbagai kesan dan catatan negatif dari sebagian masyarakat terhadap polisi harus disikapi secara bijak karena dalam melaksanakan tugasnya, polisi bersentuhan dengan kepentingan masyarakat. Misalnya dalam pelayanan pembuatan SIM, STNK, SKCK, pengaturan lalu lintas, pelayanan pembayaran pajak kendaraan, dan penanganan laporan dan pengaduan dari masyarakat.

Maka dari itu Polisi harus menjawab berbagai kesan negatif tersebut dengan semakin meningkatkan kinerjanya agar kepercayaan masyarakat dapat semakin meningkat. Kepolisian pun tidak perlu alergi terhadap kritik dan masukan dari masyarakat dan pihak-pihak yang concern terhadap kinerja polisi.

Kritik dan masukan dari masyarakat sebagai tanda bahwa polisi dicintai dan diperhatikan oleh masyarakat. Hal telah dicontohkan Kapolda Sulsel Irjen Pol Umar Septono yang lebih senang diberikan kritik untuk membangun daripada pujian. Berbagai kritik dan masukan tersebut justru dapat dijadikan sebagai bahan acuan dan pertimbangan bagi polisi untuk mewujudkan sosok polisi yang diharapkan masyarakat.

Dalam meningkatkan citranya, polisi pun harus mampu menjadi sahabat masyarakat, antara lain dengan melakukan penegakan dan penyuluhan hukum kepada masyarakat dengan cara yang simpatik dan persuasif. Ibarat sebuah lirik lagu, benci tapi rindu, itulah realitas sikap masyarakat atas kinerja polisi. Polisi dibenci ketika dianggap melakukan kesewenang-wenangan dan menjadi alat penguasa. Dan polisi dirindukan ketika masyarakat membutuhkan pelayanannya.

Masyarakat cukup memiliki peran dalam mewujudkan sosok polisi yang tegas dan humanis. Masyarakat jangan hanya bisa menuntut pelayanan dari polisi, tetapi juga berkewajiban untuk menaati hukum untuk meringankan tugas polisi. Ada kalanya perilaku menyimpang yang dilakukan oleh oknum polisi juga karena tawaran “damai” dari masyarakat yang terjerat pelanggaran hukum.

Penulis : Juan

Editor : Alfian

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password