Diduga Edarkan Narkoba, Seorang Petani di Bone Ditangkap Polisi

Tribratanews.polri.go.id – Polda Sulsel, Seorang petani warga Tanrung, Desa Lebbae, Kecamatan Ajangale, Kabupaten Bone, dibekuk polisi, Sabtu (4/11/17) sekitar pukul 08.30 Wita.

Petani yang berinisial HS alias Ari (35) diduga sebagai pengedar sabu-sabu ditangkap oleh Polsek Ajang Ale, Polres Bone yang dipimpin Kanit Reskrim Ipda Agustino. L, SH bersama anggota gabungan lainnya. Dari tangan HS, aparat berhasil mengamankan sejumlah barang bukti.

Kapolsek Ajang Ale Akp Gani mengatakan, bahwa penangkapan tersebut berawal dari informasi masyarakat. Dari informasi itu polisi melakukan penyelidikan. Tersangka berhasil dicegat di Desa Telle Kecamatan Ajangale, lalu melakukan penggeledahan dan menemukan delapan sachet diduga sabu terselip di saku celana kanan pelaku.

“Berdasarkan informasi yang didapat jika yang bersangkutan sering melakukan transaksi narkotika di wilayah tersebut. Setelah identitasnya diketahui polisi melakukan pengintaian dan berhasil diringkus,” ungkap Kapolsek.

Ia menjelaskan, dari tangan tersangka dimankan barang bukti sebanyak delapan sachet diduga sabu, satu set alat isap, dua unit Hp, dua buah jepitan dan satu buah tas kecil warna merah serta satu unit sepeda motor beat warna hijau-putih yang digunakan HS melancarkan aksinya.

Kasus yang menjerat petani diatas merupakan bukti makin maraknya peredaran obat-obatan terlarang hingga masuk ke pedesaan. Perlu diketahui bahwa pengaruh dari mengkonsumsi obat ini dapat membahayakan tubuh.

Dalam bahasa Belanda, obat ini lebih dikenal gevaarlijk, dimana ketika digunakan sembarang akan berdampak meracuni tubuh atau memperparah penyakit yang ada.

Ketua Program Studi Farmasi Fakultas Kedokteran Untan, Rise Desnita, S.Farm, M.Si., Apt  mengatakan penggolongan obat secara umum ada beberapa, mulai dari obat bebas, obat bebas terbatas dan obat keras.

Obat bebas adalah obat yang diperjualbelikan secara bebas hanya saja tetap digunakan sesuai dengan kebutuhan atau takaran. Obat bebas ditandai dengan bentuk lingkaran berwarna hijau, seperti vitamin.

Obat bebas terbatas adalah obat yang bebas didapatkan, tetapi pemakaian obat disertakan perhatian. Misalnya, perhatian obat bebas terbatas ini adalah mengantuk. Jika sudah begitu, obat jangan diminum ketika berkendaraan. Obat bebas terbatas ini ditandai dengan bentuk lingkaran berwarna biru.

Obat daftar ‘G’ disebut juga dengan golongan obat keras. Karena obat ini penggunaannya harus membutuhkan pengawasan, sehingga obat bergolongan ‘G’ ini selalu ditulis dengan resep dokter.  Obat bergolongan ‘G’ dengan bentuk lingkaran berwarna merah bergaris tepi hitam dan tulisan huruf ‘K’.

Meski termasuk dalam kategori obat keras, namun obat bergolongan ‘G’ tak melulu berada pada jenis narkoba atau psikotropika. Beberapa golongan antibiotik (penghilang rasa nyeri), seperti asam mefenamat atau ponstan untuk menghilangkan sakit gigi. Golongan obat batuk, seperti ambroksol. Obat oles, seperti antibiotik luka.

“Obat mual, serta obat diabetes juga termasuk obat bergolongan ‘G’,” ujar Sekretaris III Pengurus Daerah Ikatan Apoteker Indonesia Kalbar ini.

Rise menyarankan agar pasien tidak membeli obat bergolongan ‘G’ secara bebas. Termasuk pula bagi pasien yang hanya mengira-ngira penyakit yang diderita. Obat bergolongan ‘G’ ini hanya dapat digunakan sesuai dengan diagnosa. Misalnya obat diabetes, jika digunakan bukan pada pasien khusus, maka akan menyebabkan efek samping.

“Gula darah pasien akan menurun secara drastis dan membahayakan kondisinya,” tutur Rise.

Penulis : Harmeno

Editor : Alfian

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password