Inilah Sosok Aiptu Trimo Kasubag Humas Polres Batu sebagai Seniman Tari Tradisional Sejati

Tribratanews.polri.go.id – Mabes polri. Seni tradisonal bagi Aiptu Trimo bukan hanya untuk ditampilkan, tapi juga harus dijaga sampai mati. Sehingga, meski disibukkan dengan tugas, pria 42 tahun ini tetap meluangkan waktu untuk nguri-nguri budaya tradisional. Bahkan, Trimo tak mau dibayar saat tampil.

Pria yang mengenakan baju putih itu tampak sibuk mengabadikan berbagai momen dalam acara penyerahan kaki palsu yang diselenggarakan Polres Batu bekerja sama dengan Kick Andy Foundation di Balai Kota Among Tani kemarin (8/8). Dengan menggunakan handycam, pria itu tampak sabar mengikuti gerakan berbagai objek yang direkam dalam acara itu.

Dia adalah Aiptu Trimo, pejabat sementara (pjs) kepala Sub Bagian Humas Polres Batu sekaligus seniman tari tradisional. ”Sejak sebulan terakhir ini saya dikasih amanah di humas. Jadi, tiap ada kegiatan pimpinan, saya harus ikut turun bersama tim, mendokumentasikan kegiatan,” kata Aiptu Trimo kemarin.

Sejak remaja, pria kelahiran 12 November 1975 ini sudah mencintai tari tradisional sanduk. Beberapa kali juga dia tampil dalam kegiatan ulang tahun Kota Batu dan kegiatan tari sanduk se-Malang Raya. Saat tampil, dia tak pernah dibayar. Alasannya, karena dia hobi menari dan ingin melestarikan budaya.

Namun, sejak sekitar 2014 lalu dia sudah jarang tampil. Dia memiliki banyak kegiatan di masyarakat dan Polres Batu. Seperti menjadi ketua RW di tempat tinggalnya, RT 02/RW 10, Kelurahan Ngaglik, Kecamatan Batu. ”Sejak itu, jarang ada waktu (buat tampil). Tapi, teman-teman minta saya membina Sanggar Sanduk Trimo Langgeng Mataram,” terang pria 42 tahun ini.

Dipilihnya tari sanduk bukan hanya karena hobi, tapi dia juga merupakan keturunan daerah asal tari tersebut. Yaitu, Madura. ”Kakek saya dari Madura,” tambahnya.

Jabatan sosial sebagai ketua RW tersebut juga dia manfaatkan dalam menjalankan tugasnya sebagai polisi. Yaitu, melayani dan mengayomi masyarakat. Amanah tersebut diemban pria dengan tiga anak ini sejak 2014 atau 3 tahun lalu. Dia mengaku, awalnya sempat ragu. ”Awalnya sempat mikir, apa boleh anggota polisi juga jadi ketua RW? Waktu itu, yang nunjuk langsung Pak Lurah (Arif Adi),” ungkap suami Mastianah ini.

Editor: Umi Fadilah

Publish: Alam / Veri

Sumber: Radarmalang.id

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password