Satpolairud Gagalkan Penjualan 25 Ribu Benur Antar Kota

Tribratanews.polri.go.id – Polda Jawa Timur, Kurang lebih 25 ribu benur lobster yang hendak dijual di pasar bebas berhasil diungkap Satuan Polisi Perairan dan Udara (Polairud) Polres Banyuwangi. Sopir dan pemilik barang ditangkap petugas saat dalam perjalanan pengiriman barang menuju Jember.

Penangkapan pelaku perdagangan anakkan lobster tersebut melibatkan aparat dari Polsek Kalibaru. Kasat Polairud Polres Banyuwangi AKP Subandi menjelaskan, Sugihari (40), warga Dusun Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran berperan sebagai sopir. Sedangkan  Didik Hermanto (37), warga Dusun Ringin Mulyo, Desa/Kecamatan Pesanggaran merupakan pemilik barang. Sekitar pukul 17.45  WIB, Selasa (6/6/2017), kendaraan Toyota Kijang Inova nopol DK 1357 OI dihadang oleh petugas Polsek Kalibaru.

“Kita sempat melakukan pengejaran tapi tertinggal jarak. Ketika kami sampai Glenmore keduanya sudah sampai Kalibaru. Makanya diputuskan untuk meminta bantuan aparat polsek untuk membantu proses penangkapan,” jelasnya.

AKP Subandi menambahkan, ribuan benur lobster itu berasal dari Perairan Pulau Merah dan Pancer Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran. Supaya tidak mati bayi lobster dikemas dalam beberapa kantong plastik dan dimasukkan ke dalam 5 kemasan streafom.

“Kami kira jumlahnya sedikit, ternyata luar biasa banyak. Setelah streafoam kita buka dan dihitung jumlah benur yang hendak dijual berjumlah 25 ribu ekor,” tambahnya.

Tidak mudah bagi aparat Unit Penegakkan Hukum (Gakkum) Satpolairud Polres Banyuwangi dalam mengungkap kasus ini. Dibutuhkan waktu kurang lebih 8 hari untuk membongkar praktek perdagangan benur yang menurut Undang-Undang Perikanan dilarang. Setiap hari AKP Subandi terpaksa memploting 5 anggotanya untuk bergantian melakukan pengintaian.

“Biasanya tiap 500 meter ganti kendaraan. Mengetahui diintai kendaraan yang dipakai untuk mengangkut barang diganti. Begitu terus selama pengintaian yang dilakukan anggota Polairud selama sepekan terakhir,” jelas AKP Subandi yang memimpin sendiri upaya penangkapan.

Sepandai-pandai tupai melompat akhirnya jatuh ke tanah juga. Begitu pula aksi kucing-kucingan yang dilakukan Didik Hermanto dan Sugihari. Setelah sempat mengelabuhi petugas dari Korps Biru-Biru selama seminggu, akhirnya kewaspadaan keduanya lengah juga.

“Pas hari kedelapan tidak ganti kendaraan. Sebab itu modusnya mudah diketahui yang kemudian dengan aksi pengejaran sampai di wilayah Kalibaru,” sambungnya.

 

Penulis : Ella

Editor   : Umi Fadilah

Publish : Sholeh Hs

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password