Safari Ramadhan di Mesjid Nurul Taibyn Mappaoudang, Kapolda Sulsel Ingatkan Jaga Persatuan dan Toleransi Umat Beragama

Tribratanewss.polri.go.id – Makassar Sulsel, Kapolda Sulsel Irjen Pol Muktiono didampingi Wakapolda Sulsel dan beberapa Pejabat Utama Polda Sulsel melaksanakan Safari Ramadhan di Mesjid Nurul Taibyn Mappaoudang, Minggu (04/06/17) malam.

Safari ramadhan yang dibarengi dengan tarawih bersama masyarakat seputaran Mesjid tersebut, Kapolda Sulsel memberikan ceramah dan pesan Kamtibmas kepada para jamaah usai pelaksanaan Shalat Isya

Memulai ceramah Kapolda Sulsel menyampaikan rasa syukur dan kebahagiaan bisa tarwih bersama para jamaah Masjid, “Alhamdulillah situasi kondisi Sulsel sampai saat ini masih dalam keadaan aman, oleh karenanya mari kondisi ini sama-sama kita jaga dengan sebaik baiknya,” katanya.

Kapolda juga berpesan kepada para jamaah agar dibulan yang penuh rahmat ini, hendaknya memperbanyak ibadah dan berbuat baik, karena bulan ramadhan adalah bulan yang penuh berkah.

“Coba kita melihat Negara-negara tetangga kita yang mempunyai agama mayoritas muslim seperti Siria, Irak, Mesir dan terakhir Filiphina semua bergejolak perang saudara, ini patut kita waspadai dan kita hindari, mari saling menghormati dan menyayangi,” ucap Muktiono.

Oleh karenanya, Kapolda Sulsel mengajak jamaah untuk bersama-sama menjaga persatuan dan toleransi antar umat beragama, saling menghormati, tidak mudah terhasut agar hidup senantiasa damai dan tentram.

Setelah pelaksanaan Shalat Tarwih, di sela-sela salam-salaman dengan para jamaah yang hadir, Kapolda Sulsel memberikan santunan tali asih kepada pimpinan dan pengurus Mesjid Nurul Taibyn Mappaoudang.

Prinsip toleransi dalam islam telah jauh hari disebutkan Allah Ta’ala dalam firmannya,

“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al Mumtahanah: 8-9)

Ayat ini mengajarkan prinsip toleransi, yaitu hendaklah setiap muslim berbuat baik pada lainnya selama tidak ada sangkut pautnya dengan hal agama.

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Allah tidak melarang kalian berbuat baik kepada non muslim yang tidak memerangi kalian seperti berbuat baik kepada wanita dan orang yang lemah di antara mereka. Hendaklah berbuat baik dan adil karena Allah menyukai orang yang berbuat adil.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 7: 247). Ibnu Jarir Ath Thobari rahimahullah mengatakan bahwa bentuk berbuat baik dan adil di sini berlaku kepada setiap agama. Lihat Tafsir Ath Thobari, 14: 81.

Sedangkan ayat selanjutnya yaitu ayat kesembilan adalah berisi larangan untuk loyal pada non muslim yang jelas adalah musuh Islam. Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 7: 248.

Bagaimana toleransi atau bentuk berbuat baik yang diajarkan oleh Islam?

1- Islam mengajarkan menolong siapa pun, baik orang miskin maupun orang yang sakit.

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Menolong orang sakit yang masih hidup akan mendapatkan ganjaran pahala.” (HR. Bukhari no. 2363 dan Muslim no. 2244). Lihatlah Islam masih mengajarkan peduli sesama.

2- Tetap menjalin hubungan kerabat  pada orang tua atau saudara non muslim.

Allah Ta’ala berfirman,

“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (QS. Luqman: 15). Dipaksa syirik, namun tetap kita disuruh berbuat baik pada orang tua.

Lihat contohnya pada Asma’ binti Abi Bakr radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Ibuku pernah mendatangiku di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan membenci Islam. Aku pun bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk tetap jalin hubungan baik dengannya. Beliau menjawab, “Iya, boleh.” Ibnu ‘Uyainah mengatakan bahwa tatkala itu turunlah ayat,

“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu ….” (QS. Al Mumtahanah: 8) (HR. Bukhari no. 5978).

3- Boleh memberi hadiah pada non muslim.

Lebih-lebih lagi untuk membuat mereka tertarik pada Islam, atau ingin mendakwahi mereka, atau ingin agar mereka tidak menyakiti kaum muslimin.

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata,

“’Umar pernah melihat pakaian yang dibeli seseorang lalu ia pun berkata pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Belilah pakaian seperti ini, kenakanlah ia pada hari Jum’at dan ketika ada tamu yang mendatangimu.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berkata, “Sesungguhnya yang mengenakan pakaian semacam ini tidak akan mendapatkan bagian sedikit pun di akhirat.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam didatangkan beberapa pakaian dan beliau pun memberikan sebagiannya pada ‘Umar. ‘Umar pun berkata, “Mengapa aku diperbolehkan memakainya sedangkan engkau tadi mengatakan bahwa mengenakan pakaian seperti ini tidak akan dapat bagian di akhirat?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Aku tidak mau mengenakan pakaian ini agar engkau bisa mengenakannya. Jika engkau tidak mau, maka engkau jual saja atau tetap mengenakannya.” Kemudian ‘Umar menyerahkan pakaian tersebut kepada saudaranya  di Makkah sebelum saudaranya tersebut masuk Islam. (HR. Bukhari no. 2619). Lihatlah sahabat mulia ‘Umar bin Khottob masih berbuat baik dengan memberi pakaian pada saudaranya yang non muslim.

Penulis : Abu Uwais

Editor : Umi Fadilah

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password