Bulan Ramadan, Bulan Tertib

Hasanudin Abdurakhman

 

Selama bulan Ramadan kantor-kantor memberi kesempatan kepada karyawan untuk pulang lebih awal. Biasanya mereka pulang jam 5 sore, kini boleh pulang jam 4. Tujuannya, agar karyawan bisa tiba di rumah sebelum magrib, dan buka puasa bersama keluarga. Waktu yang tersedia agak terbatas, suasana jalan padat oleh kendaraan, sering membuat kita jadi terburu-buru dan tak sabar.

Sering saya saksikan pada waktu-waktu itu orang berkendara bagai kesetanan. Menerobos lampu merah, melanggar marka, memyerobot antrean dilakukan, agar bisa tiba lebih cepat. Padahal ia sedang berpuasa.

Sadarkah Anda bahwa perilaku seperti itu merusak pahala ibadah puasa? Salah satu hikmah puasa adalah untuk melatih kesabaran. Kita sabar dalam mengendalikan napsu. Perut lapar, menuntut makan, tapi kita tahan. Kita bersabar.

Tapi sering kali kesabaran kita hanya sampai di situ. Kita ingin buka puasa di rumah, bersama keluarga. Tapi jalan macet. Lalu kita menjadi tak sabar. Kita menyerobot antrean. Soal kecil? Tidak. Menyerobot antrean itu sama artinya dengan kita merampas hak orang lain. Di saat kita dianjurkan untuk berbagi, kita malah merampas. Betulkah puasa kita?

Puasa adalah membuktikan ketundukan kepada Allah. Kita melaksanakan perintah secara apa adanya. Akan sangat timpang kalau saat puasa kita justru melanggar ketertiban. Maka, puasa seharusnya diiringi dengan ketertiban berperilaku.

Banyak orang menganggap bahwa peraturan lalu lintas bukan hukum Allah, karena itu tak wajib dipatuhi. Itu pandangan keliru. Allah melalui rasulNya telah mewajibkan kita untuk patuh, selama kita tak disuruh melakukan yang maksiat. Ketentuan itu tertuang dalam sebuah hadits. “Mendengar dan taat adalah kewajiban setiap muslim, pada hal-hal yang ia sukai maupun yang ia benci, selama ia tak disuruh melakukan yang maksiat.”

Jadi, mematuhi peraturan, apapun itu, adalah kewajiban. Melanggarnya adalah dosa. Melanggar peraturan saat bepuasa, merusak ibadah kita.

Puasa adalah latihan untuk menjadi manusia yang berakhlak baik, bukan sekadar ibadah ritual menahan lapar dan haus. Maka selayaknya kita besabar, menahan diri, untuk menjadi orang yang tertib. Teritib itu salah satu ciri orang berakhlak mulia. Maka, mari jadikan bulan Ramadan ini sebagai bulan tertib, dan kita pertahankan prestasi tertib itu di bulan-bulan yang lain.

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password