Usai Parangi Korbannya Hingga Meninggal, Nua Menyerahkan Diri ke Polisi

Tribratanews.polri.go.id – Bulukumba Sulsel, A. Patta Bin Nganro (55) warga Dusun Mannyaha, Desa Kambuno, Kecamatan Bulukumba, Kabupaten Bulukumba tewas di kebun miliknya setelah terlibat perkelahian dengan An alias Nua (36), Rabu (17/05/17) sekira pukul 16.30 Wita.

Usai peristiwa tersebut Nua langsung menyerahkan diri ke Mapolsek Bulukumba untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya.

Dari hasil pemeriksaan, Kapolsek Bulukumba AKP Abdi Nur mengungkapkan bahwa motif dari kejadian pembunuhan ini adalah masalah tanah (harta warisan).

Adapun kronologis kejadiannya kata Abdi, sekira pukul 16.00 wita korban menuju kebun miliknya yang berdekatan dengan kebun pelaku dengan maksud mengikat merica miliknya.

Setelah selesai korban yang sementara berjalan pulang bertemu dengan pelaku dan saat itu korban mendekati pelaku dan langsung menyerang dengan menggunakan parang namun pelaku menghindar dan menyerang balik korban secara berulang kali (bertubi-tubi) yang menyebabkan korban mengalami beberapa luka terbuka dan meninggal dunia ditempat.

Saat ini Polsek Bulukumba masih melakukan pemeriksaan intensif terkait keterangan pelaku. Bersamaan dengan itu Polisi telah mengamankan barang bukti yang digunakan pelaku menghabisi nyawa korban.

Seorang psikolog, Dr. Wahyu Triasmara mengemukakan bahwa kehidupan saat ini sangat mengerikan, bagaimana mungkin orang tega membunuh orang dengan motif hanya sepele ? Seolah sudah tidak ada rasa takut hingga orang berani mengahabisi nyawa orang lain. Lalu apa motivasi dan penyebab hingga orang tega membunuh ?

Menurut psikiater ini, tentunya banyak motif hingga seseorang tega membunuh orang lain. Namun di sini, Wahyu lebih ingin mengupasnya dari sisi psikologis hingga kenapa orang begitu berani mengahabisi nyawa korbannya. Dari beberapa kasus pembunuhan dia amati didalam berbagai pemberitaan terkait motif-motif terjadinya pembunuhan, sedikit banyak psikiater ini mencoba merangkum berbagai motif hingga orang berani menghabisi nyawa orang lain.

Di urutan pertama, Wahyu Triasmara melihat adanya pribadi yang terlalu obsesif. Pada kondisi ini boleh dibilang biasanya dialami oleh orang-orang yang belum dewasa dan butuh perhatian lebih. Sehingga ketika mereka kehilangan rasa cinta dan kasih sayang, maka dalam pikirannya kekerasan adalah jalan terakhir untuk menyudahi semuanya.

Seseorang yang paranoid, orang tipe ini seringkali mudah dilanda cemburu buta. Sebagai contoh seorang suami dapat membunuh teman laki-laki istrinya yang ia curigai dan takuti akan berselingkuh dengan istrinya tersebut. Padahal hubungan istri dan teman lelakinya itu hanyalah sebatas hubungan kerja. Atau yang lebih mengerikan seorang suami tega membunuh istri karena kauatir ia berselingkuh dengan lelaki lain.

Mereka yang terlalu agresif juga sangat berisiko melakukan tindakan kekerasan, juga pembunuhan. Seolah-olah tak ada rasa takut dalam diri mereka. Orang dengan sifat agresif cenderung spontan dan berani. Orang-orang tipe ini mudah terpancing dalam kemarahan, sehingga tak segan untuk melakukan tindakan kekerasan pada orang lain.

Orang yang tertutup juga menurut Wahyu lagi, juga berbahaya. Orang dengan tipe tertutup boleh dibilang jarang berinteraksi dengan orang lain, sehingga ketika mereka kesal akan sesuatu hanya akan dipendam seorang diri. Bahayanya kemarahan yang menumpuk bisa saja meledak ketika masalah besar yang dia hadapi sudah menemui jalan buntu. Kadang kondisi demikian memaksa orang untuk berbuat kekerasan pada orang lain.

Menjadi pendendam, dapat memunculkan berbagai persoalan baru dikemudian hari. Ketika dia merasa disakiti maka dia dapat membalas rasa sakit hai itu dengan sesuatu yang lebih kejam dari apa yang dia alami.

Trauma yang mendalam juga dapat menyebabkan terjadi tindak kekerasan dan pembunuhan. Pengalaman-pengalam buruk dimasa lampau membuat seseorang berusaha melindungi dirinya sendiri dari hal-hal buruk yang dia anggap dapat hadir kembali di kehidupannya. Itulah beberapa kondisi psiko-sosial yang sangat mungkin mempengaruhi seseorang hingga akhirnya tega membunuh orang lain disekitar mereka.

“Tentunya masih banyak motif pembunuhan lain, bahkan motif politik, SARA, faktor ekonomi pun bisa menjadi faktor tindak kekerasan hingga pembunuhan, belum juga termasuk berbagai persoalam kehidupan yang bisa menjadi pemicu begitu entengnya orang tanpa rasa takut untuk membunuh sesamanya,” papar Dr. Wahyu Triasmara, seorang pakar psikolog.

Penulis : Abu Uwais

Editor : Umi Fadilah

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password