Mencoba Menembak Petugas dengan Senjata Rakitan, Buronan Narkoba Terpaksa Ditembak Mati

Tribratanews.polri.go.id – Soppeng Sulsel, Tim Khusus Polres Soppeng berhasil menangkap Subianto, buronan Rutan Soppeng, di Desa Cendana, Kecamatan Burau, Kabupaten Luwu Timur, Selasa (25/4/17). Subianto adalah terpidana kasus narkoba yang melarikan diri dari Tahanan kelas IIB Soppeng pada Senin (10/4) lalu.

Aiptu Asdar yang memimpin penangkapan terpaksa harus mengambil tindakan tegas setelah Subianto alias Anto mencoba melawan petugas dengan mengambil senpi (Senjata Api) rakitan yang berada dibawah bantal yang telah terisi peluru lalu mengarahkan senpi tersebut ke Bripka Dedi Indra Wijaya.

Subianto terkena dua kali peluru polisi pada bagian kaki dan dada. Saat akan dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD), Subianto meninggal dunia dalam perjalanan.

Tiba di Rumah Sakit, Kasat Narkoba AKP Maulud melakukan pengecekan terhadap jenazah Anto. Dalam pemeriksaan RSU Rampoang Kota Palopo menyebutkan, bahwa Subianto meninggal dengan luka tembak pada bagian dada sebelah kiri.

Dalam penggerebekan petugas mengamankan barang bukti berupa 1 (satu) buah senpi rakitan, 5 (lima) butir  peluru Revolver dan 1 (satu) buah badik.

Dari sisi penjahat yang sudah nekat dan melakukan aksi kejahatannya dengan penuh persiapan, bahkan membawa senjata tajam, menurut Psikolog, Prof Dr Abd Munir MPd,  perlu dilihat latar belakang mengapa orang itu nekat. Faktor itu banyak hal, tetapi intinya kebutuhan.

Jadi kalau pihak aparat main tembak? Kata Munir, itu bukan langkah yang bijak, walaupun mempunyai pengaruh yang kuat terhadap perubahan. Seperti yang dulu terjadi pada penembak misterius (petrus) di masa Orde Baru itu, memang aman. Tapi dalam tatanan, orang penuh ketakutan, dampaknya bisa-bisa orang yang tidak jahat jadi sasaran. Jadi negatifnya juga ada.

Menembak mati seorang tersangka yang melakukan kejahatan adalah sudah tepat sebagai bagian pembalasan. Pendapat seperti ini tentunya juga benar karena sala satu tujuan dari pemidanaan itu sendiri adalah sebagai pembalasan.

Tindakan kepolisian Menembak mati seorang tersangka dengan dalil merupakan kewenangan diskresi yang diatur dalam UU Nomor 2 tahun 2002 tentang kepolisian.

Dalam pasal 16 UU Nomor 2 tahun 2002 diberikan batasan mengenai kewengan kepolisian dibidang proses pidana dimana pada huruf I melakukan tindakan lain menurut hukum yang bertanggung jawab dan inilah landasan hukum bagi aparat penegak hukum dalam hal ini polri dalam melaksanakan tindakan Dikresi tersebut.

Undang-Undang mempunyai syarat, yaitu :

  1. Tidak bertentangan dengan suatu aturan hukum;maksudnya bahwa tindakan tersebut tidak boleh melanggar hukum apapun termasuk hukum internasional.
  2. Selaras dengan kewajiban hukum yang mengharuskan tindakan tersebut dilakukan;artinya tindakan tersebut sudah merupakan kewenangannya dan memang sudah kewajiban yg harus diambil.
  3. Harus patut, masuk akal, dan termasuk dalam lingkungan jabatannya;haarus patut bahwa tindakan tersebut merupakan kepatutan ,masuk akal bahwa ada keseimbangan antara apa yg harus dilakukan dengan fakta dan kondisi yang ada.
  4. Pertimbangan yang layak berdasarkan keadaan yang memaksa; dan tindakan diksresi ini harus dilakukan dalam keadaan terpaksa dimana tidak ada lagi upaya yang lain yg bias dilakukan.
  5. Menghormati hak Asasi manusia. Tindakan tersebut harus menghormati hak asasi manusia.

Penulis : Sumarwan

Editor : Umi Fadilah

Admin Polri56114 Posts

tribratanews.polri.go.id "Portal Berita Resmi Polri : Obyektif - Dipercaya - Patisipatif"

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password