Kapolsek Marioriawa bersama Mahasiswa Lamappaoleonro Gelar Penyuluhan Kamtibmas

Tribratanews.polri.go.id – Soppeng Sulsel, Guna menciptakan situasi kamtibmas yang aman dan kondusif, Kapolsek Marioriawa Akp Syamsuddin bekerja sama Mahasiswa KKLP STIE – STIMIK Lamappaoleonro memberikan penyuluhan kamtibmas pada warga kelurahan Limpomajang Kecamatan Marioriawa Kab. Soppeng, Sabtu 22/04/17.

Dalam kesempatan tersebut Kapolsek Marioriawa memberikan Penyuluhan kepada warga yang hadir tentang pentingnya menjaga dan memelihara keamanan dan ketertiban didalam masyarakat, guna membantu Pihak kepolisian dalam hal itu Kapolsek mengajak agar warga senantiasa memperhatikan lingkungan sekitar terhadap gangguan yang dapat menimbulkan masalah kamtibmas dengan cara melapor bilamana ditemukan hal-hal mencurigakan, hal itu penting dilakukan karena tanpa bantuan dari warga pihaknya akan kesulitan bertindak dan mengantisipasi setiap kejadian.

Lanjut, Kapolsek juga menambahkan guna mengantisipasi terjadinya gangguan kamtibmas dibutuhkan kerjasama dan kesadaran masyarakat dengan tidak melakukan kegiatan-kegiatan yang dapat memicu keributan, Penyuluhan tersebut diharapkan dapat bermanfaat dan warga serta aparat pemerintahan dapat bekerja sama dengan Polri dalam menciptakan dan memelihara kamtibmas.

Upaya dialog kamtibmas Kapolsek Marioriawa bersama warga merupakan salah satu fungsi Polri yang berupaya menjaga (memelihara) kamtibmas (harkamtibmas) di wilayahnya. Dengan keterbatasan personil Polri, diharapkan masyarakat dapat berperan aktif, bersama-sama Polri memelihara kamtibmas, sehingga kehidupan masyarakat dapat tentram dan sejahtera.

Upaya pendekatan Polri terhadap masyarakat memang diperlukan, guna mencegah aksi-aksi kriminalitas yang terjadi. Salah satunya melibatkan warga, turut menciptakan harkamtibmas di wilayahnya masing-masing. Selain itu juga, Polri ingin mengubah paradigma masyarakat, bahwa Polri itu adalah milik masyarakat, karena juga berasal dari tengah-tengah masyarakat.

Dalam rangka membangun empati antara Polri dan masyarakat, kita perlu memahami dua kemampuan yaitu kemampuan saling mempercayai dan kemampuan empati. Empati adalah kunci membina kepercayaan dari masyarakat. Dalam kesempatan ini, kedua kapasitas ini akan dibahas secara mendasar walaupun ringkas.

Dalam kehidupan masyarakat, Polisi memainkan banyak peran sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya. Mengatur lalu lintas, menegakkan hukum, menyidik perkara, memelihara keamanan dan ketertiban, dan melindungi keselamatan warga negara adalah sebagian dari tugas polisi. Istilah yang sering digunakan adalah melayani, melindungi, dan mengayomi.

Walaupun peran polisi sangat banyak, atau karena peran polisi sangat banyak, pengetahuan masyarakat mengenai polisi, motif polisi, dan tanggapan atau respons polisi, sangat terbatas. Ada ketidaktahuan dan ketidakpastian di masyarakat luas mengenai kinerja polisi. Pada saat yang sama, dengan peran yang banyak tersebut, yang disertai dengan kewenangan yang dimiliki polisi berdasarkan konstitusi dan undang-undang kita.

Polisi memiliki peluang dan kesempatan untuk mengecewakan harapan-harapan masyarakat. Anggota Polri ada yang melakukan korupsi, pungutan liar, dan penyalahgunaan wewenang lainnnya. Hal di atas menunjukkan betapa relevannya rasa percaya dan trust dalam hubungan antara polisi dan masyarakat. Kemungkinan polisi untuk menyalahgunakan wewenang, ditambah dengan ketidaktahuan dan ketidakpastian masyarakat terhadap polisi, menyebabkan rasa percaya atau trust tidak hanya menjadi relevan, tetapi sangat mudah terganggu.

Apabila polisi menyalahgunakan wewenang, korupsi, dan tindakan-tindakan lain yang menghianati kepercayaan masyarakat, maka kepercayaan masyarakat terhadap Polri akan merosot. Mungkin, yang menghianati kepercayaan masyarakat itu hanya sebagian kecil dari anggota polisi. Akan tetapi, dampaknya bisa mengenai polisi pada umumnya. Salah satu perkiraan mengatakan bahwa hanya 10 persen dari anggota polisi yang kasar dan brutal. Tapi, yang 10 persen itu merusak yang 90 persen sisanya yang tidak kasar dan tak brutal. Gara-gara nila setitik, rusak susu sebelanga – begitu kata pepatah.

Apakah kepercayaan yang sudah rusak dapat diperbaiki? Bagaimana polisi memulihkan kepercayaan masyarakat terhadap profesi dan institusi mereka? Pada umumnya kita bisa mengatakan bahwa kepercayaan akan meningkat apabila kepercayaan itu didukung dengan langkah dan bukti nyata, dan akan merosot jika diabaikan, dikecewakan, dan dikhianati.

Supaya kepercayan pulih, Polri bisa mengembangkan norma dan kode etik yang mewajibkan anggota supaya tidak menghianati warga masyarakat yang memercayainya. Jika warga masyarakat bertemu dengan banyak polisi yang jujur, dan hanya sesekali mendapatkan polisi yang tak jujur, maka kepercayaan masyarakat akan meningkat.

Selanjutnya, polisi akan memiliki reputasi atau nama baik. Kalau institusi Polri memiliki reputasi dan nama baik, anggota polisi akan merasa berkepentingan menjaga reputasi dan nama baik polisi di mata warganegara. Pada gilirannya pula, masyarakat akan semakin mempercayai polisi.

Kerjasama masyarakat-polisi memerlukan rasa percaya timbal-balik : Polisi yang memercayai masyarakat dan masyarakat yang mempercayai polisi. Rumusannya sangat sederhana. Tetapi, jika yang menandai hubungan kedua pihak adalah ketidakpercayaan, maka kerjasama akan gagal. Jika kepercayaan hanya ada di salah satu pihak (hanya polisi yang memercayai masyarakat, tapi tetapi masyarakat tidak memercayai polisi, dan hanya masyarakat yang mempercayai polisi tetapi polisi tidak memercayai masyarakat, maka kerja sama akan gagal.

Jika percayaan itu bersifat “percaya buta”, maka hal itu bisa menjadi insentif untuk berkhianat dan melanggar kerjasama. Jika masyarakat percaya buta kepada polisi, maka polisi memiliki peluang besar melanggar kerjasama dan mengecewakan masyarakat. Dengan kata lain, trust atau rasa saling percaya adalah prasyarat kerjasama polisi-masyarakat yang positif.

Penulis : Apri

Editor : Umi Fadilah

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password