Polsek Panakukang Kembali Ringkus Dua Pelaku Curas Dibawah Umur

Tribratanews.polri.go.id – Makassar Sulsel, Anggota Resmob Polsek Panakkukang meringkus pelaku pencurian dengan kekerasan (Curas), Rabu (19/04/17).

Pelaku curas yang berjumlah dua (2) orang masing – masing lelaki inisial EK (16) warga ABD. Daeng Sirua Makassar dan lelaki inisial FA (13) warga Tello Makassar di amankan Resmob Polsek Panakkukang yang dipimpin Iptu Haryanto Rahman.

Berawal dari anggota Resmob Polsek Panakkukang mendapat informasi bahwa pelaku curas lelaki EK dan lelaki FA sedang berada di warnet yang bertempat di jalan inspeksi PAM Makassar sehingga anggota Resmob langsung bergerak dan berhasil mengamankan kedua pelaku tersebut.

Dari hasil introgasi kedua pelaku mengakui perbuatannya telah melakukan Tindak Pidana Curas dengan menggunakan Busur di jalan dr. Leimena Makassar dan berhasil mengambil 1 buah HP merk Samsung E5 warna putih dan 1 buah dompet.

Selanjutya pelaku di bawah ke Polsek Panakkukang guna penyidikan lebih lanjut.

Kriminalitas yang dilakukan oleh anak-anak di bawah umur di Indonesia disebabkan oleh sejumlah faktor, di antaranya pergaulan yang kebablasan, tekanan ekonomi, kepadatan lalu lintas, pertumbuhan penduduk yang tinggi, serta mudahnya mendapatkan barang terlarang seperti narkotika dan psikotropika. Dan kita dapat melihat bahwa faktor biologis dalam kasus ini yaitu berasal dari hakekat manusia (anak-anak ) sendiri yaitu manusia adalah makhluk biologis yang membutuhkan pangan.

Faktor psikologis di kasus ini yaitu faktor yang timbul dari dalam diri anak-anak itu sendiri yang ingin bergaul dengan orang lain sampai-sampai kebablasan. Lalu dilihat dari Faktor ekonomis yaitu tekanan ekonomi yang di alami anak-anak itu yang mayoritasnya adalah dari keluarga yang mengalami kemiskinan. Lalu dilihat dari Faktor sosiologis yang mencakup tentang faktor sosial yaitu pertumbuhan penduduk yang tinggi yang menimbulkan kepadatan lalu lintas, sehingga hal ini dianggap menjadi kesempatan yang baik untuk melakukan kejahatan.

Kejahatan jalanan atau yang biasa dikenal dengan street crimes merupakan jenis kejahatan tradisional yang sangat meresahkan warga masyarakat. Terlebih hal ini dirasakan di kota-kota besar seperti Jakarta, Makassar, Medan, Surabaya dan beberapa kota metropolitan lainnya.

Di saat hiruk pikuk kejahatan kerah putih (white collar crime) seperti korupsi, money laundering, carding, dan lain sebagainya terus-menerus menghiasi setiap media massa kita saat ini, kejahatan jalanan tetap merupakan ancaman yang amat nyata bagi masyarakat kita. Apalagi bila kejahatan jalanan ini disertai dengan kekerasan (crime by using force) semisal penjambretan, penodongan, pencurian, pemerkosaan, penganiayaan, perampokan, pembunuhan, dan sebagainya.

Bentuk-bentuk kejahatan seperti perampokan dengan kekerasan, jambret, aksi begal dan aksi kriminalitas jalanan di atas tentu saja akan sangat berpengaruh pada keamanan dan ketertiban masyarakat. Karena kejahatan-kejatahan inilah yang paling dekat dengan mayarakat, dan apabila dibiarkan akan menimbulkan ketakutan, perasaan tidak aman dalam masyarakat dan tentunya akan sangat berpengaruh terhadap produktivitas masyarakat dalam melaksanakan kehidupannya sehari-hari.

Kejahatan jalanan merupakan bagian terbesar dari angka statistik kriminalitas. Sistem Peradilan Pidana kita sangat disibukkan oleh “street crimes” ini. Mungkin sebagian besar dari aktivitas penanggulangan kejahatan oleh Kepolisian, Kejaksaan dan Pengadilan berpusat pada kejahatan jalanan ini. Dan apabila kita melihat populasi Lembaga Pemasyarakatan, maka pelaku-pelaku kejahatan jalanan inilah yang memenuhi lembaga.

Meskipun realita diatas tidak serta merta menjawab apa yang menjadi permasalahan utama kejahatan di Indonesia, namun setidaknya, kejahatan jalanan telah memberikan andil yang besar dalam menimbulkan ancaman dan keresahan dalam kehidupan bermasyarakat. Untuk itulah perlunya polisi memiliki strategi yang tepat untuk terus menekan angka kejahatan jalanan ini. Karena tidak dapat dipungkiri bahwa hulu dari kejahatan ini merupakan akibat masalah kehidupan sosial masyarakat kita yang amat pelik. Kita tidak dapat memandang masalah kejahatan jalanan dari segi hukum saja, tanpa memperhatikan aspek sosiologis dalam masyarakat.

Kejahatan jalanan merupakan kejahatan konvensional yang selalu mewarnai kehidupan sosial masyarakat kita. Di kota besar seperti Jakarta, hampir dapat dipastikan setiap hari terjadi kejahatan semacam ini.  Meskipun kejahatan ini sifatnya konvensional namun penyebab bentuk kejahatan ini tidak sederhana lagi. Sehingga polisi dalam hal ini tidak dapat bekerja sendiri untuk memerangi kejahatan jalanan ini.

Solusi yang dapat dilakukan untuk menghindarkan anak-anak dalam masalah seperti ini terutama orang tua dan pemerintah. Para orangtua seharusnya bersikap ekstra hati-hati dan memantau secara rutin setiap tahap perkembangan anaknya. Lalu pemerintah harus bekerja lebih maksimal lagi dalam mensejahterakan rakyatnya.

Misalnya, meringankan biaya pendidikan agar anak-anak memiliki ilmu dan skill yang bisa digunakan untuk meringankan beban orang tua mereka. Lalu memberikan dana/uang jatah bulanan kepada warga miskin. Membatasi jumlah penduduk tiap tiap pulau, sehingga tidak ada pertumbuhan yang terlalu tinggi di salah satu pulau/ pemindahan orang–orang ke pulau lain.

Penulis : Apri

Editor : Umi Fadilah

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password