Narkoba di Sulsel : Seorang Pengedar Narkoba Dibekuk Calon Pembelinya Sendiri

Tribratanews.polri.go.id – Enrekang Sulsel, Salah Seorang TSK pengedar Narkoba berhasil di bekuk oleh personil yang melakukan penyamaran sebagai pembeli barang haram jenis Shabu. Kamis (13/4/17).

Satuan Narkoba Polres Enrekang dan Sat Intelkam Polres Enrekang berhasil mengamankan seorang tersangka pengedar Narkotika Jenis Shabu yang berinisial MA alamat Jl. Takkibuku Kelurahan Bangkala, Kecamatan Maiwa.

Kejadian berawal dari laporan salah satu Informan, Kemudian Satuan Narkoba Polres Enrekang yang bekerja sama dengan Satuan Intelkam Polres Enrekang yang dipimpin langsung oleh KBO Sat Res Narkoba Aiptu Wildan. Arm melakukan penyamaran sebagai pembeli dan langsung melakukan transaksi dengan tersangka.

Kemudian TSK dan Personil yang melakukan penyamaran sepakat bertemu di Jalan Poros Enrekang Rappang Desa Batu Mila, Kec. Maiwa, sembari melakukan transaksi dengan petugas yang melakukan penyamaran kemudian dengan sigap langsung dilakukan penangkapan terhadap TSK MA.

Dari tangan tersangka di temukan 7 (tujuh) sachet kristal bening Narkotika jenis shabu siap edar dengan berat keseluruhan 0,5751 Gram, 1 (satu) buah sendok shabu terbuat dari pipet. dan Barang bukti tersebut diakui oleh TSK merupakan barang miliknya.

Kini Tersangka dan Barang bukti diamankan di Mapolres Enrekang guna pemeriksaan lebih lanjut.

Menurut Suryani, SKp, MHSc dalam tulisannya “Permasalahan Narkoba di Indonesia”, saat ini penyalahguna narkoba di Indonesia sudah mencapai 1,5% penduduk Indonesia atau sekitar 3,3 juta orang. Dari 80% pemuda, sudah 3% yang mengalami ketegantungan pada berbagai jenis narkoba.

Bahkan menurut data BNN, setiap hari, 40 orang meninggal dunia di negeri ini akibat over dosis narkoba. Angka ini bukanlah jumlah yang sebenarnya dari penyalahguna narkoba. Angka sebenarnya mungkin jauh lebih besar.

Menurut Dr. Dadang Hawari (dalam tulisannya Penyalahgunaan dan ketergantungan NAZA (Jakarta: Balai Penerbit FKUI 2002), fenomena penyalahgunaan narkoba itu seperti fenomena gunung es. Angka yang sebenarnya adalah sepuluh kali lipat dari jumlah penyalahguna yang ditemukan.

Pemerintah melalui berbagai instansi, telah mencoba untuk mencegah dan membasmi peredaran narkoba di Indonesia. Sudah banyak terpidana kasus narkoba baik yang berasal dari dalam maupun luar negeri divonis mati oleh pengadilan.

Miris memang, setiap tahun jumlah penyalahguna narkoba justru terus bertambah, baik yang digolongkan sebagai pecandu, yakni orang yang menggunakan atau menyalahgunakan narkotika dan dalam keadaan ketergantungan secara fisik dan psikis. Maupun sebagai korban penyalahgunaan narkoba, yakni seseorang yang tidak sengaja menggunakan narkotika karena dibujuk, diperdaya, ditipu, dipaksa atau diancam untuk menggunakan narkotika.

Narkoba pada dasarnya berfungsi sebagai obat atau bahan yang dapat dimanfaatkan dalam pengobatan medis, pelayanan kesehatan dan pengembangan ilmu pengetahuan. Namun kemudian disalahgunakan di luar indikasi medis dan tanpa petunjuk atau resep dokter. Penyalahgunaan ini dikarenakan efeknya yang dapat menimbulkan rasa nikmat, rileks, senang, dan tenang.

Perasaan itulah yang dicari oleh para para pemakai meskipun setelah itu mereka seringkali merasa cemas, gelisah, nyeri otot, dan sulit tidur. Selanjutnya, karena digunakan tanpa pengendalian dan pengawasan yang ketat dan seksama, pemakaian narkoba menimbulkan ketergantungan.

Dilihat dari sudut pandang kesehatan, maupun sosial, penyalahgunan narkoba sangatlah merugikan penggunanya, menjelma bahaya bagi kehidupan manusia, masyarakat, negara serta mengancam kelangsungan suatu generasi. Realita di atas relevan kita kaitkan dengan semakin menggilanya peredaran gelap narkoba yang telah melintasi batas-batas negara, menggunakan modus operandi yang sangat variatif, berteknologi tinggi, dan didukung oleh jaringan organisasi yang luas.

Peredaran narkoba yang luas itu, sudah memakan banyak korban baru. Para korban baru itulah yang kemudian menjadi pasar bagi para pengedar karena efek yang ditimbulkan dari barang-barang haram tersebut adalah ketagihan. Syahdan, tak hanya menjadi pengguna, mereka juga tergiur untuk menjadi pengedar narkoba. Peredaran gelap narkoba yang dilakukan dengan metode multi-level marketing dan terselubung itu seringkali luput dari perhatian kita.

Mengingat harganya yang terhitung tinggi serta didukung pasar yang sangat luas, “bisnis” ini tentu semakin menggiurkan banyak orang,  karena menjanjikan keuntungan yang tidak sedikit, baik berperan sebagai produsen, pengedar, bahkan hingga kurir sekalipun.

Penulis : Apri

Editor : Umi Fadilah

Publish : Apri

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password