Aniaya Seorang Murid, Oknum Guru SD di Bone Dipolisikan

Tribratanews.polri.go.id – Bone Sulsel, Kekerasan terhadap pelajar di sekolah masih sering terjadi, Sadisnya lagi, aksi kekerasan atau penganiayaan terhadap murid dilakoni seorang guru, seperti yang terjadi di Kabupaten Bone.

Kasus kekerasan tersebut menimpa seorang murid kelas IV SD 135 Manurunge Kecamatan Ulaweng Kabupaten Bone diketahui berinisial HRN (10) warga jalan Reformasi Kelurahan Cinnong, Kecamatan Ulaweng, Kabupaten Bone. Peristiwa tersebut terjadi pada Rabu (12/4/2017) diduga dilakukan oleh tenaga pendidik di sekolah tersebut berinisial SS (57) warga Kelurahan Watangpalakka Kecamatan Tanete Riattang Kabupaten Bone.

Berawal saat oknum guru matematika yang tak lama memasuki masa pensiun tersebut mengajar di kelas HRN, sementara menerangkan, SS mendapati korban sedang berbincang-bincang dengan temannya. SS lalu menghampiri korban dan langsung melepas sepatu hag yang ia kenakan dan memukulkan kearah hidung HRN berkali-kali. Akibatnya, korban mengalami luka bengkak dan mengeluarkan darah pada bagian hidung.

Usai aniaya anak didiknya, SS membujuk HRN agar tidak menyampaikan kejadian tersebut kepada orang tua dan keluarganya dengan mencekoki uang Rp 5.000.

Orang tua korban, Pinar (42) yang tak terima perlakuan oknum guru tersebut kemudian melaporkan peristiwa penganiayaan yang dialami oleh anaknya ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu Polsek Ulaweng jajaran Kepolisian Resort Bone untuk diproses sesuai hukum yang berlaku.

Menerima laporan tersebut, pihak Kepolisian membawa HRN ke Puskesmas terdekat untuk dilakukan Visum Et Repertum. Setelah itu, Kapolsek Ulaweng Akp Subair  bersama piket fungsi langsung menjemput pelaku di kediamanya di Kel. Watangpalakka Kecamatan Tanete Riattang Barat. Selanjutnya di amankan untuk menghindari amukan dari orang tua korban bersama dengan keluarganya yang menaruh kekecewaan kepada oknum guru tersebut.

“Sudah resmi kita terima laporan polisi dari orang tua korban atas kasus penganiayaan yang dilakukan oknum guru SD 135 Manurunge. Terlapor saat ini, sudah kami amankan dan untuk sementara dilakukan penyelidikan,” ungkap Subair.

“Jika terbukti, lanjut Kapolsek, pelaku bakal dijerat dengan Undang Undang Perlindungan Anak dan Hak Asasi Manusia, dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara.” Tutupnya.

Penyebab kekerasan terhadap peserta didik bisa terjadi karena guru tidak paham akan makna kekerasan dan akibat negatifnya. Guru mengira bahwa peserta didik akan jera karena hukuman fisik. Seharusnya guru memperlakukan murid sebagai subyek, yang memiliki individual differences (Eko Indarwanto,2004). Selain itu kekerasan oleh guru pada siswa disebabkan oleh faktor-faktor sebagai berikut:

  1. Kurangnya pengetahuan guru bahwa kekerasan itu tidak efektif untuk memotivasi siswa atau merubah perilaku,
  2. Persepsi guru yang parsial dalam menilai siswa. Misalnya, ketika siswa melanggar, bukan sebatas menangani, tapi mencari tahu apa yang melandasi tindakan itu.
  3. Adanya hambatan psikologis, sehingga dalam mengelola masalah guru lebih sensitive dan reaktif.
  4. Adanya tekanan kerja guru: target yang harus dipenuhi oleh guru, seperti kurukulum, materi, prestasi yang harus dicapai siswa, sementara kendala yang dihadapi cukup besar.
  5. Pola yang dianut guru adalah mengedepankan factor kepatuhan dan ketaatan pada siswa, mengajar satu arah (dari guru ke murid).
  6. Muatan kurikulum yang menekankan pada kemampuan kognitif dan cenderung mengabaikan kemampuan efektif, sehingga guru dalam mengajar suasananya kering, stressful, tidak menarik, padahal mereka dituntut mencetak siswa-siswa berprestasi.
  7. Tekanan ekonomi, pada gilirannya bisa menjelma menjadi bentuk kepribadian yang tidak stabil,seperti berpikir pendek, emosional, mudah goyah, ketika merealisasikan rencana-rencana yang sulit diwujudkan.

Beberapa solusi yang diberikan untuk mengatasi kekerasan pada siswa di sekolah diantaranyan adalah sebagai berikut:

1)        Menerapkan pendidikan tanpa kekerasan di sekolah.

2)        Mendorong/mengembangkan humaniasi pendidikan;

  • Menyatupadukan kesadaran hati dan pikiran,
  • Membutuhkan keterlibatan mental dan tindakan sekaligus,
  • Suasana belajar yang meriah,gembira dengan memadukan potensi fisik dan psikis.

3)         Hukuman yang di berikan berkolerasi dengan tindakan anak.

4)         Terus menerus membekali guru untuk menambah wawasan pengetahuan, kesempatan, pengalaman baru untuk mengembangkan kreativitas mereka.

5)      Konseling,Bukan siswa saja membutuhkan konseling, tapi juga guru. Sebab guru juga mengalami masa sulit yang membutuhkan dukungan, penguatan, atau bimbingan untuk menemukan jalan keluar yang terbaik.

6)      Segera memberikan pertolongan bagi siapa pun juga yang mengalami tindakan kekerasan di sekolah,dan menindak lanjuti serta mencari solusi alternatif yang terbaik.

Banyak pihak yang masih menghubungkan penegakan disiplin di sekolah  dengan menghukum siswa. Padahal kedua-dua nya tidak saling berhubungan. Karena terbukti penegakan disiplin dengan hukuman hanya akan membuahkan sikap disiplin yang semu yang lahir karena ketakutan bukan karena lahirnya kesadaran akan perbaikan perilaku.

Sebenarnya ada jalan tengah diantara disiplin dan menghukum . Jalan tengah itu disebut konsekuensi. Sebuah konsekuensi berarti menempatkan siswa sebagai subyek. Seorang siswa yang dijadikan subyek berarti diberikan tanggung jawab seluas-luas nya dengan konsekuensi sebagai batasan.

Penulis : Abu Uwais

Editor : Umi Fadilah

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password