Atlet Judo Terbaik Dimiliki Kabupaten Bone Ternyata Seorang Polisi, Ini Orangnya

Tribratanews.polri.go.id – Bone Sulsel, Prosesi Mattompang Arajang merupakan salah satu rangkaian kegiatan ritual disetiap acara Peringatan Hari Jadi Bone (HJB) yang dilaksanakan setiap tahunnya. Seperti halnya peringatan HJB ke-687 Tahun 2017 ini acara ritual penyucian benda-benda pusaka peninggalan kerajaan Bone yang biasa disebut ” Mattompang Arajang ” dilaksanakan di halaman Museum Arajangnge Bone yang berada di Kompleks Rumah Jabatan Bupati Bone Dr.H.A.Fahsar M. Padjalangi, jalan Petta Ponggawae Watampone, Minggu (5/04/2017).

Kapolda Sulsel Irjen Pol. Muktiono, SH, MH bersama Wakil Gubernur Sulsel Agus Arifin Nu’mang dan pejabat luar Sulawesi berdarah Bone hadir menyaksikan kemeriahan rangkaian acara HJB tahun ini.

Ditengah prosesi acara Mattompang Arajang, Dedi Risaldi, Seorang Polisi berpangkat Brigadir Pembantu Dua (Bripda) yang saat ini bertugas difungsi Sabhara Polres Bone, menyita banyak perhatian pengunjung. Putra Kabupaten Bone pendamping pembawa pusaka Raja Bone tahun 2017 tersebut merupakan salah satu putra terbaik Bone di bidang atlet Judo.

Putra kelahiran Waetuo 21 Nopember 1995 tersebut mampu menorehkan prestasi sebagai peraih medali emas kejuaraan Porda tahun 2014 di Bantaeng dan peraih medali perunggu pada kejuaraan Nasional Judo Kapolri Cup 2016 di Medan.

Dedi, yang hobi memancing tersebut juga dikenal apik dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sehari-hari sebagai seorang pelindung pengayom dan pelayan masyarakat.

Kepala Kepolisian Resort Bone Akbp Raspani, S.Ik yang hadir dalam acara Mattompang Arajang tersebut mengaku bangga dengan torehan prestasi yang diraih oleh anggotanya yang berkiprah hingga ke tingkat Nasional.

Judo adalah seni bela diri Jepang, ciptaan Jigoro Kano pada tahun 1882. Sumbernya diambil dari seni bela diri jujitsu, semacam silat yang berasal dari Cina. Aliran bela diri ini mengambil teknik gerakan lunak, menangkap dan membanting, tanpa meninju ataupun menendang. Di kemudian hari, judo berkembang menjadi olahraga yang digemari di seluruh dunia.

Olahraga ini berkembang dari seni bela diri para biksu Budha untuk dapat mempertahankan diri pada saat diserang. Karena para biksu tak pernah menyan­dang senjata, mereka harus dapat mempertahankan diri dengan tangan kosong.

Prinsip judo ialah memperoleh kemenangan atas lawan dengan memberi jalan, tanpa menolak kekuatan lawan. Kemudian kita menyesuaikan diri untuk meng­ambil manfaat, mengalihkan serangannya, dan akhir­nya memetik keuntungan untuk diri sendiri. Atau se­cara sederhana: menggunakan kekuatan lawan untuk mengalahkannya. Dalam istilah modern, filsafat judo ialah “efisiensi maksimum dengan usaha minimum”. Penciptanya sendiri, Jigoro Kano, menyatakan bahwa tujuan judo dapa* disarikan dalam tiga kalimat, yaitu (1) mencapai kesempurnaan sebagai manusia, atau menyempurnakan watak; (2) kesejahteraan yang sa­ling menguntungkan dan manfaat yang timbal-balik; dan (3) efisiensi yang maksimal. Dengan demikian je­las bahwa apa yang diperoleh melalui judo dalam pe­ngertian yang sempit, yaitu judo di atas matras, ha­rus dapat dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari di tengah masyarakat.

Meskipun judo menonjolkan kelembutan, pejudo dituntut memiliki kekuatan. Lawan dibanting tetapi tidak dihancurkan. Falsafahnya menggariskan: dalam menghadapi lawan, harus tetap diperhatikan kesela­matannya. Itulah sebabnya pada saat pejudo melaku­kan teknik membanting (tori), tangan lawan (uke) tak boleh dilepas. Di sini terlihat estetika judo.

Judo berasal dari kata Jepang ju yang artinya “lembut” dan do yang artinya “cara”. Jadi judo ber arti “cara yang lembut”. Dalam arti sempit, judo mengajarkan penguasaan atas teknik judo dan mem­beri penyegaran jasmani. Tetapi judo juga merupa­kan olahraga bela diri, untuk mempertahankan diri bila diserang. Olahraga ini juga mengandung unsur seni, yakni gerakan lembut dan menarik bila diperaga­kan. Dalam perkembangannya, judo menjadi bersifat internasional. Meskipun judo berasal dari Jepang, dalam Olimpiade Seoul tahun 1988, Jepang hanya mampu meraih satu gelar dari tujuh gelar yang di­sediakan.

Olahraga ini masuk ke Indonesia tahun 1949. Me­lihat perkembangan judo di Indonesia, sejumlah pe­muka masyarakat terdorong untuk mendirikan induk organisasi. Pada tanggal 25 Desember 1955 didirikan Persatuan Judo Seluruh Indonesia (PJSI) yang ma­sih bertahan sampai sekarang. Pada tahun yang sama PJSI menjadi anggota KONI dan IJF (International Judo Federation). Sampai Agustus 1989, Indonesia mempunyai seorang pejudo dengan tingkatan Dan-8, 2 orang Dan-7, 4 orang Dan-6, 13 orang Dan-5, dan 24 orang Dan-4.

Penulis : Abu Uwais

Editor : Umi Fadilah

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password