Sempat Jadi DPO, Otak Pelaku Kasus Pemerkosaan Gadis Belia di Kajuara Dibekuk di Kendari

Tribratanews.polri.go.id – Bone Sulsel, Tim Reserse Mobile (Resmob) Polres Bone berhasil membekuk pelaku pemerkosaan gadis belia yang masih di bawah umur berinisial NU (14) dan AM (15) di Desa Gona Kecamatan Kajuara yang terjadi pada bulan Januari 2017 lalu.

Pelaku yang diketahui bernama Ardi alias Enol warga Dusun Tobunne Desa Gona Kecamatan Kajuara Kabupaten Bone di bekuk di Kota Kendari Sulawesi Tenggara setelah dua bulan dijadikan Daftar Pencarian Orang (DPO) oleh Polsek Kajuara Polres Bone, Senin (20/3/2017) sekira pukul 15.30 Wita.

Berawal saat Tim Resmob Polres Bone yang dipimpin Aiptu Abustan Mappa memperoleh informasi dari salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya bahwa pelaku Ardi berada di Kota Kendari. Aparat langsung bergerak, dan alhasil Ardi dibekuk ditempat persembunyiannya.

Saat diintrogasi Ardi mengakui perbuatannya telah mempemerkosa anak di bawah umur bersama temannya sebanyak 12 orang. Dihadapan petugas Ardi mengakui menyetubuhi korban NU (14) sementara 12 orang temannya memperkosa AM (15), 3 orang diantaranya sudah di tangkap lebih dulu,

Usai diamankan, aparat lalu membawa Ardi kembali ke wilayah Kabupaten Bone namun pelaku mencoba mengelabui petugas dengan berpura-pura buang air kecil dan berusaha melarikan diri. Tembakan peringatan ke udara sebanyak 3 kali tidak dihiraukan oleh pelaku sehingga aparat memberikan tindakan tegas dengan tembakan terukur ke arah betis kaki kiri dan pelaku tersungkur. Ardi lalu dibawa Ke Rumah Sakit Tenriawaru untuk mendapatkan penanganan medis.

Kapolres Bone Akbp Raspani, S.Ik melalui Paur Humas Iptu Adenan membenarkan penangkapan terhadap pelaku utama kasus pemerkosaan yang terjadi di Desa Gona Kecamatan Kajuara Kabupaten Bone.

“Setelah beberapa bulan jadi DPO, Tim Resmob berhasil menangkap pelaku di Kota Kendari, Pelaku menderita luka tembak saat mencoba mengelabui dan berusaha melarikan diri dari petugas kami” ujar Adenan.

Maraknya kasus pemerkosaan belakangan ini banyak yang meresahkan para kaum wanita dan para orang tua yang mempunyai anak gadis. Pemberitaan tentang kasus tersebut senantiasa mendapat liputan media, baik media cetak, media elektronik sampai media sosial. Terkadang juga suatu pemerkosaan itu seringkali diikuti dengan pembunuhan, bahkan ada yang di mutilasi untuk menghilangkan jejak korban dan suspek itu sendiri.

Banyak orang berkata  kasus pelecehan seksual dan pemerkosaan terhadap wanita  terjadi karena faktor wanita sendiri. Dan yang sering menjadi poin permsalahan adalah karena faktor cara berpakaian wanita itu sendiri dan nafsu seks pria tak terkendali apabila dan setelah melihat wanita berpakaiana mini.

Pemikiran dan anggapan seperti sering diuar-uarkan ketika terjadi kasus pelecehan dan pemerkosaan . Pemikiran yang sederhana ini hanyalah anggapan semata tanpa melakukan riset dan penelitian. Dan seakan-akan wanitalah yang menyebabkan sebuah pemerkosaan terjadi. Sudah menjadi korban pemerkosaan dan di salahkan juga sebagai penyebabnya. Apakah ini adil?

Bagaimana pula dengan negara-negara  Timur Tengah yang sebagian wanitanyanya hampir menutup aurat  ? Apakah disana tidak ada pemerkosaan  ?  tanpa menafikan faktor penampilan dan cara berpakaian wanita juga mempengaruhinya. Namun jangan beranggapan penuh bahwa wanita adalah penyebab utama terjadinya kasus tersebut.

Sebenarnya pada umumnya terjadinya kasus pelecehan seksual dan pemerkosaan itu justeru dilakukan oleh orang yang telah dikenali. Misalnya Keluarga, saudara, tetangga, guru, atasan bahkan pemuka agama yang dihormati. Dan ada juga kasus yang terjadi karena teman yang baru dikenali baik yang dikenali secara tatap muka atau dikenali di media sosial seperti Facebook, twitter atau media chattting lainnya.

Pergaulan sehari-hari dan lingkungan juga mempengaruhinya, bagaimana kita berinteraksi dan dengan siapa kita menghabiskan waktu serta berinteraksi sosial setiap harinya. Namun secara umunya faktor pemerkosaan itu terjadi apabila di lihat dari motif pelakunya adalah :

  1. Seductive Rape, Pemerkosaan terjadi karena pelaku merasa terangsang nafsu birahinya dan biasanya pemerkosaaan ini terjadi pada mereka yang sudah saling mengenal. Contohnya pemerkosaan oleh pacar, keluarga, teman atau orang-orang terdekat lainnya.
  2. Sadistic Rape, pemerkosaan yang dilakukan secara sadis, yang mana si pelaku akan merasa mendapatkan kepuasan seksual bukan karena bersetubuh. namun mendapatkan kepuasan dari cara penyiksaan terhadap korban yang tidak didapatkan dalam hubungan seksual secara normal
  3. Anger rape , Pemerkosaan yang dilakukan untuk mengungkapkan rasa marahnya pada korban. Kepuasan seksual bukan tujuan utama yang diharapkan pelaku. namun sekedar untuk melampiaskan rasa marahnya pada korban.
  4. Domination Rape ,Pemerkosaan ini hanya ingin menunjukan dominasinya pada korban dan pelaku hanya ingin menguasai korban secara seksual. misalnya pemerkosaan majikan terhadap pembantunya.
  5. Exploitation Rape, pemerkosaan yang terjadi karena ada rasa ketergantungan korban terhadap pelaku baik secara ekonomi maupun sosial. Dan biasa kasus ini terjadi tanpa adanya kekerasan oleh pelaku terhadap korban. contohnya atasan terhadap bawahanya, majikan terhadap pembantunya.

Ternyata faktor terjadinya pemerkosaan bisa di pengaruhi faktor lingkungan, motif pelaku pemerkosaan, situasi dan kesempatan, faktor ekonomi dan pergaulan seseorang seseorang.

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password