Tribratanews.polri.go.id - Jakarta. Belakangan, banyak orang ramai memamerkan angka resting heart rate (RHR) atau detak jantung istirahat dan bangga jika angkanya semakin rendah. Lantas, benarkah semakin rendah artinya tubuh semakin sehat atau justru berbahaya?
RHR sendiri merupakan jumlah detak jantung per menit saat tubuh berada dalam kondisi rileks atau beristirahat, bukan saat beraktivitas atau berolahraga.
Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, Vito A Damay mengatakan, RHR memang berhubungan dengan kondisi jantung seseorang.
"Karena kalau dia [angka RHR] lebih tinggi, artinya sebenarnya risikonya [penyakit jantung dan kardiovaskular] lebih tinggi juga. Karena itu berkaitan dengan metabolisme," ujar Vito dikutip dari Detik, Rabu (14/10/26).
Ia melanjutkan, idealnya angka RHR seseorang dalam kondisi istirahat berada di sekitar 60 bpm.
"Ketika lagi tidur, lagi diam aja maksudnya, ya," tuturnya.
Namun, angka tersebut bisa saja lebih rendah lagi. Kondisi ini biasanya terjadi pada atlet atau mereka yang rajin berolahraga. Pada atlet, angka RHR bisa lebih rendah dari umumnya.
"Kalau orang sangat rajin olahraga, marathon, atau rajin olahraga aerobik malah bisa 40 atau 50 bpm waktu tidur. Sangat rendah dan itu tidak apa-apa," jelasnya.
Detak jantung lambat biasanya disebabkan oleh banyak faktor. Normalnya, detak jantung dalam kondisi rileks atau beristirahat berkisar antara 60-100 bpm. Namun, angka itu bisa turun hingga 40 bpm saat tidur nyenyak.
Melansir dari laman Siloam Hospital, detak jantung yang stabil sendiri bergantung pada sekelompok kecil sel yang terletak di bilik kanan atas jantung yang disebut nodus sinoatrial. Sel-sel ini menghasilkan impuls listrik kecil yang membuat jantung berkontraksi untuk memompa darah ke seluruh tubuh.
Secara umum, semakin rendah detak jantung istirahat seseorang, maka semakin sehat otot jantungnya. Namun, dalam kondisi tertentu, detak jantung lambat juga perlu mendapatkan perhatian.
Pada dasarnya, detak jantung lambat yang tidak disertai gejala apa pun tidak perlu dikhawatirkan. Kondisi ini sering ditemukan pada atlet dengan detak jantung istirahat serendah 40 bpm. Angka ini dianggap normal lantaran jantung atlet atau mereka yang sering berolahraga lebih efisien dalam memompa darah dibandingkan dengan lainnya.
Namun, jika detak jantung lambat disertai gejala seperti pusing, kepala terasa ringan, kelelahan, sesak napas, tekanan darah rendah, kebingungan, nyeri dada, atau tanda-tanda syok lainnya, maka segera lakukan konsultasi dengan dokter.
(sy/hn/rs)
Ramai Pamer RHR Rendah, Apakah Tanda Jantung Lebih Sehat?
Tribratanews.polri.go.id - Jakarta. Belakangan, banyak orang ramai memamerkan angka resting heart rate (RHR) atau detak jantung istirahat dan bangga jika angkanya semakin rendah. Lantas, benarkah semakin rendah artinya tubuh semakin sehat atau…