Tribratanews.polri.go.id - Jakarta. Meditasi kerap dilakukan untuk menenangkan pikiran dan mengurangi stres, namun apa yang terjadi pada otak dan tubuh jika dilakukan secara intensif selama sepekan?
Melansir dari Science Daily, Kamis (29/10/26), penelitian dari University of California San Diego (UCSD) menemukan bahwa program meditasi dan latihan pikiran-tubuh selama tujuh hari berkaitan dengan perubahan aktivitas otak.
Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Communications Biology ini melibatkan 20 orang dewasa sehat yang mengikuti program meditasi intensif selama tujuh hari, berikut sederet perubahan yang ditemukan peneliti, antara lain:
1. Aktivitas otak berubah
Peneliti menggunakan pemindaian functional magnetic resonance imaging (fMRI) untuk melihat aktivitas otak peserta sebelum dan setelah mengikuti program. Hasilnya menunjukkan perubahan aktivitas pada sejumlah wilayah otak, termasuk bagian yang berkaitan dengan pikiran internal atau obrolan dalam kepala saat bermeditasi.
Peneliti juga menemukan indikasi peningkatan neuroplastisitas, yaitu kemampuan otak untuk beradaptasi dan membentuk koneksi baru. Meski menarik, temuan ini belum membuktikan bahwa kemampuan otak peserta meningkat dalam kehidupan sehari-hari.
2. Sistem kekebalan tubuh menunjukkan perubahan
Peneliti juga menemukan perubahan pada sinyal sistem kekebalan tubuh peserta. Sinyal yang berkaitan dengan peradangan maupun respons antiinflamasi sama-sama meningkat setelah program meditasi.
Hal tersebut menunjukkan adanya perubahan aktivitas biologis yang cukup kompleks, bukan sekadar sistem kekebalan menjadi lebih aktif atau lebih tenang.
3. Metabolisme sel ikut berubah
Perubahan juga terlihat pada proses metabolisme, yaitu cara sel mengolah zat untuk menghasilkan energi. Dalam eksperimen laboratorium, sel yang terpapar plasma darah peserta setelah program menunjukkan peningkatan glikolisis, salah satu proses yang digunakan sel untuk mengubah glukosa menjadi energi.
4. Tubuh menunjukkan peningkatan zat pereda nyeri alami
Peneliti menemukan peningkatan kadar opioid endogen dalam darah setelah program. Opioid endogen merupakan zat yang diproduksi secara alami oleh tubuh dan berperan dalam mengatur rasa sakit.
5. Pengalaman meditasi terasa lebih mendalam
Tak hanya memeriksa kondisi biologis, peneliti meminta peserta mengisi kuesioner untuk mengukur perubahan kesadaran selama meditasi. Rata-rata skor peserta meningkat dari 2,37 sebelum program menjadi 3,02 setelahnya.
Peserta yang melaporkan pengalaman lebih mendalam juga cenderung menunjukkan peningkatan integrasi aktivitas antardaerah otak. Ini berarti pengalaman subjektif selama meditasi berkaitan dengan pola komunikasi di antara jaringan otak.
6. Pola aktivitas otak menyerupai pengalaman dengan zat psikedelik
Salah satu temuan yang tak kalah menarik adalah pola konektivitas otak setelah meditasi menunjukkan kemiripan dengan pola yang pernah diamati dalam penelitian mengenai zat psikedelik, seperti psilosibin. Zat ini dapat mengubah persepsi dan cara jaringan otak berkomunikasi.
Penelitian ini memberi gambaran bahwa program meditasi intensif yang dikombinasikan dengan latihan pikiran-tubuh dapat berkaitan dengan perubahan di berbagai sistem biologis.
Hanya saja, studi ini masih terbatas karena hanya melibatkan 20 orang dewasa sehat dan mengamati program yang terdiri dari beberapa aktivitas sekaligus. Penelitian lanjutan masih diperlukan untuk mengetahui manfaatnya dalam mendukung kesehatan mental, mengelola nyeri kronis, dan kondisi lainnya.
(sy/hn/rs)
Studi Ungkap Dampak Meditasi Sepekan pada Otak
Tribratanews.polri.go.id - Jakarta. Meditasi kerap dilakukan untuk menenangkan pikiran dan mengurangi stres, namun apa yang terjadi pada otak dan tubuh jika dilakukan secara intensif selama sepekan? Melansir dari Science Daily, Kamis (29/10/26),…