Tribratanews.polri.go.id - Jakarta. Wakil Menteri Agama Muhammad Syafi’i menegaskan bahwa rumah ibadah tidak hanya berfungsi sebagai tempat pelaksanaan ritual keagamaan, tetapi juga harus menjadi pusat pelayanan kemanusiaan yang menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Agama tidak berhenti pada ritual. Rumah ibadah harus menjadi pusat pelayanan kemanusiaan. Dari sinilah nilai kasih sayang, kebajikan, dan persaudaraan tumbuh dan dirasakan secara nyata oleh masyarakat,” ujar Wamenag, Selasa (10/2/2026).
Wamenag menekankan kehadiran rumah ibadah harus mampu memperkuat solidaritas, mengurangi penderitaan, serta merawat persaudaraan di tengah masyarakat yang majemuk.
Menurutnya, peran rumah ibadah sebagai pusat layanan kemanusiaan sejalan dengan paradigma beragama yang dikembangkan Kementerian Agama, yakni menjadikan agama sebagai kekuatan pemersatu dan penopang ketahanan sosial nasional.
“Inilah wajah agama yang kami dorong di Kementerian Agama,” katanya.
Wamenag menyampaikan hal tersebut saat menyaksikan langsung pembagian sekitar 4.000 parsel dan angpau Imlek yang diinisiasi Asosiasi Buddhist Center Indonesia di Vihara Mahavira Graha, Jakarta, dalam rangka menyambut Tahun Baru Imlek.
Ia menilai pembagian ribuan parsel dan angpau tersebut bukan sekadar bagian dari perayaan keagamaan, melainkan juga wujud tanggung jawab sosial umat beragama terhadap lingkungan sekitarnya.
Praktik keberagamaan yang berdampak sosial merupakan fondasi penting dalam membangun harmoni dan persatuan bangsa. Wamenag pun mengapresiasi peran Vihara Mahavira Graha yang secara konsisten menghadirkan nilai-nilai kemanusiaan melalui aksi nyata.
“Pemberian angpau dan bingkisan cinta kasih bukan hanya membagi parsel, tetapi merawat sesuatu yang jauh lebih penting, yakni persaudaraan dan persatuan bangsa. Di tengah ketegangan global, Indonesia memilih jalan yang berbeda," paparnya.
(ndt/hn/rs)