Pasca Bencana Banjir, Pusdokkes Polri Imbau RS Bhayangkara Se-Indonesia agar Dirikan Posko Kesehatan
SW01
Kamis, 17 Desember 2020 - 11:05 WIB
Pasca Bencana Banjir, Pusdokkes Polri Imbau RS Bhayangkara Se-Indonesia agar Dirikan Posko Kesehatan

Jakarta - Pasca banjir yang terjadi di beberapa wilayah di Indonesia, Pusat Kedokteran dan Kesehatan (Pusdokkes) Polri mengimbau semua rumah sakitnya agar membuka pelayanan kesehatan untuk para korban banjir. Kepala Pusat Kedokteran dan Kesehatan (Kapusdokkes) Polri berharap dengan menyiagakan personelnya, maka korban bencana lebih cepat mendapat pertolongan medis.
“Ada sekitar 52 RS Bhayangkara di seluruh Indonesia. Yang sudah mendirikan rumah sakit lapangan itu RS Bhayangkara Tingkat III Wahyu Tutuko Bojonegoro. Saya imbau (RS Bhayangkara se-Indonesia) untuk mendirikan rumah sakit lapangan sederhana sebagaimana yang sudah dibuat Bojonegoro,” kata Kapusdokkes Polri Brigjen Musyafak, Selasa (7/1/2020).
“Kalau ada kejadian bencana banjir, RS Bhayangkara yang ada di tiap-tiap Provinsi, tiap Polda bisa mendirikan sehingga bisa membantu masyarakat, korban bencana dengan lebih cepat,” tambah Jenderal Bintang Satu.
Rumah sakit lapangan siaga bencana juga di lengkapi dengan peralatan medis seperti di rumah sakit pada umumnya, Tenda tersebut didesain agar pasien dapat menjalani rawat inap. “Juga kita siagakan dokter anestesi, dokter bedah, dokter penyakit dalam. Harus ada dokter ahlinya di samping dokter umum dan perawat,” jelas Kapusdokkes Polri Brigjen Musyafak.
Kepala Pusat Kedokteran dan Kesehatan Polri Brigjen Musyafak mengatakan rumah sakit lapangan dapat didirikan di area yang dekat dengan lokasi bencana dan pengungsian. Dia menambahkan, dalam situasi bencana beberapa penyakit yang kerap dialami korban atau pengungsi adalah gatal-gatal, leptospirosis, dan masalah pencernaan. “Gatal-gatal tentu karena terkena genangan air yang tentu saja itu kotor, lalu menularnya penyakit yang disebabkan urine tikus serta kurangnya asupan makanan bergizi, makanan bersih yang bisa mengganggu pencernaan. Ini yang harus diwaspadai,” tutup Kepala Pusat Kedokteran dan Kesehatan (Kapusdokkes).

0 KOMENTAR
Simpan nama, email, dan situs web pada browser ini untuk komentar berikutnya.