Selama Tiga Bulan, Densus 88 Antiteror Berhasil Tangkap 72 Terduga Teroris di 8 Provinsi
Admin Humas
Sabtu, 15 Agustus 2020 - 11:33 WIB
Selama Tiga Bulan, Densus 88 Antiteror Berhasil Tangkap 72 Terduga Teroris di 8 Provinsi

Tribratanews.polri.go.idJakarta. Densus 88 Antiteror Polri melakukan penangkapan terhadap 72 tersangka dalam kasus tindak pidana terorisme. Penangkapan dilakukan di delapan provinsi di Indonesia selama periode 1 Juni hingga 12 Agustus 2020.

"Densus 88 antiteror Polri berhasil melakukan penegakkan hukum dengan menangkap pelaku sebanyak 72 orang pelaku tindak pidana terorisme dalam rangka preventive strike terhadap pelaku tindak pidana terorisme di delepan wilayah Indonesia," terang Karo Penmas Divisi Humas Polri, Brigjen Pol. Awi Setiyono di Mabes Polri, Jumat (14/08/2020).

Brigjen Pol. Awi Setiyono menjelaskan bahwa penangkapan terhadap terduga 72 teroris tersebut tersebar di delapan provinsi. Delapan daerah tersebut antara lain Sumatera Barat, Bali, Sulawesi Tengah, Jawa Timur, Jawa Tengah, Riau, DKI Jakarta dan Jawa Barat.

Karo Penmas Divisi Humas Polri menuturkan dalam satu pekan Densus 88 juga berhasil meringkus setidaknya 15 pelaku terduga teroris jaringan Jamaah Ansharut Daulauh (JAD) dan Muhajidin Indonesia Timur (MIT). Penangkapan dilakukan di DKI Jakarta dan Jawa Barat.

Menurut Jenderal bintang satu sebanyak 15 teroris itu diamankan polisi di wilayah Jakarta dan Jawa Barat. Belasan terduga teroris itu tergabung dalam dua kelompok teroris yang berbeda dan memiliki peran yang berbeda-beda.

"(Tergabung dalam) kelompok JAD pengiriman logistik dan pendanaan kelompok MIT serta fasilitator keberangkatan ke Suriah di wilayah DKI Jakarta dan Jabar," jelas lulusan Akabari Tahun 1992

Tindak kejahatan terorisme merupakan kejahatan yang luar biasa extra ordinary crime dan kejahatan terhadap kemanusiaan atau trafficking humanity dan pelanggaran hak asasi manusia (HAM). Oleh karena itu harus dilakukan upaya-upaya pencegahan, Gakkum maupun identifikasi dan soisalisasi.

"Gakkum terhadap pelaku tindak pidana teroris dilakukan dengan soft approach dan hard approach. Dalam upaya gakkum dilakukan juga preventive strike yaitu penindakan terhadap pelaku tindak pidana terorisme sebagai upaya pencegahan sebelum terjadinya tindak pidana terorisme," tutup Brigjen Pol. Awi Setiyono.

(ym/bq/hy)

0 KOMENTAR
Silahkan Login untuk memberikan komentar