Tribratanews.polri.go.id – Jakarta. Direktur Film, Musik, dan Seni Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) Irini Dewi Wanti mengajak para sineas Indonesia untuk mengangkat kearifan lokal dan kekayaan budaya Nusantara dalam karya film yang didaftarkan ke berbagai festival perfilman.
Direktur Irini menilai pengangkatan nilai-nilai lokal penting untuk memperkuat identitas bangsa di tengah arus modernisasi dan globalisasi.
Menurutnya, Indonesia memiliki kekayaan budaya yang luar biasa, tidak hanya dalam bentuk kuliner dan wastra, tetapi juga kearifan lokal yang dapat menjadi sarana untuk mengingatkan masyarakat terhadap nilai-nilai budaya yang mendamaikan dan membentuk jati diri bangsa.
"Pemerintah siap mendukung perkembangan industri perfilman, termasuk melalui skema pendanaan seperti Dana Indonesia Raya dan fasilitas travel grant yang dapat diakses sineas melalui program kementerian," tegas Direktur Irini, Rabu (3/6/2026).
Selain mendorong partisipasi pada festival internasional, Kemenbud berharap unsur kearifan lokal hadir dalam berbagai karya film, mulai dari festival tingkat kampus hingga komunitas.
Direktur Irini juga berpesan agar sineas yang lolos ke Balinale memanfaatkan kesempatan tersebut untuk belajar, berdiskusi, dan membangun jejaring dengan sineas dari berbagai negara.
Balinale ke-19 yang berlangsung pada 1–7 Juni 2026 menampilkan 94 film dari 38 negara, termasuk 26 karya sineas Indonesia.
Salah satu film Indonesia yang lolos seleksi adalah A Mixed Blessing (Bunga-Bunga di Jala Ikan) karya sutradara dan penulis Cinta Setia. Film pendek tersebut mengangkat tradisi Sedekah Rawa Pening di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.
Cinta Setia menjelaskan bahwa filmnya berkisah tentang sebuah keluarga yang menghadapi kesulitan ekonomi dan menggantungkan harapan pada tradisi melarung tumpeng di Danau Rawa Pening sebagai simbol membuang kesialan dan memohon kelancaran rezeki. Menurutnya, pengangkatan kisah lokal tidak hanya membawa film tersebut ke panggung internasional, tetapi juga membuka kesadaran akan kekayaan budaya Indonesia yang masih lestari namun belum banyak terekspos.
"Kami berharap festival seperti Balinale menjadi ruang pertukaran gagasan, kolaborasi, dan penguatan posisi sinema Indonesia di tingkat global, sekaligus menjadikan film sebagai media pelestarian budaya dan identitas nasional," jelas Direktur Irini.