Respons Kasus Siswa Bunuh Diri di NTT, Menkes Siapkan Layanan Psikologi Klinis

4 February 2026 - 19:33 WIB
Antara

Tribratanews.polri.go.id - Jakarta. Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin merespons kasus anak bunuh diri karena tidak mampu membeli alat tulis di Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang menjadi sorotan publik, dan menyatakan pihaknya tengah menyiapkan layanan psikologi klinis.

"Kesehatan mental anak memang kita sudah lakukan skrining, ada 10 juta anak yang berisiko (terkena penyakit mental). Nah, sekarang, saya mau menyiapkan ada psikologi klinis di masing-masing puskesmas, supaya penyakit-penyakit jiwa yang selama ini enggak tertangani di rumah sakit, bisa ditangani di puskesmas," jelas Menkes, Rabu (4/2/2026).

Menkes menyadari bahwa kasus kesehatan mental pada anak masih belum mendapatkan perhatian yang maksimal, oleh karena itu, melalui Cek Kesehatan Gratis (CKG), pemerintah juga tengah berupaya memasukkan pemeriksaan kesehatan mental pada anak, termasuk memberikan pelayanan di puskesmas-puskesmas.

"Sebelumnya kan kita enggak tahu ada masalah kejiwaan pada anak, nah sekarang melalui skrining, kita sudah tahu ada 10 juta, itu harus ditangani dengan menaruh psikolog klinis di puskesmas yang bekerja sama dengan sekolah, supaya bisa diobati secara preventif dan promotif," ujar Menkes

Sementara itu, dihubungi secara terpisah, Psikiater Bidang Pengabdian Masyarakat Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia, dr. Lahargo Kembaren menyampaikan anak di usia 9-10 tahun dengan beban yang terlalu berat rentan memiliki kesimpulan ekstrem untuk mengakhiri hidupnya.

"Anak usia sekitar 9–10 tahun sudah mulai memahami kematian sebagai sesuatu yang permanen, meski pemahamannya belum matang secara emosional dan kognitif. Dari sudut pandang kesehatan jiwa, anak belum mampu menimbang konsekuensi jangka panjang dengan cara berpikir yang masih hitam-putih, maka, saat tertekan, anak mudah sampai pada kesimpulan ekstrem 'Kalau aku tidak ada, masalah akan selesai," jelas dr. Lahargo.

Untuk itu, menurutnya, pencegahan harus dilakukan berlapis, tidak bisa melalui satu pihak saja. Di keluarga, perlu membangun komunikasi emosional, bukan hanya disiplin, kemudian perlu mem-validasi perasaan anak sebelum memberi nasehat, dan orang tua perlu berani mencari bantuan, bukan menahan sendiri.

"Di sekolah, guru perlu dilatih mengenali tanda-tanda stres psikologis dan melakukan pertolongan pertama pada luka psikologis (P3LP/Psychological First Aid), sistem konseling aktif, bukan reaktif, serta budaya anti-perundungan yang nyata, bukan slogan," ujar dr. Lahargo.

Sementara di masyarakat dan negara, akses layanan kesehatan jiwa perlu diperluas, meningkatkan literasi kesehatan mental sejak dini, serta membuat kebijakan yang sensitif terhadap dampak ekonomi pada keluarga.

Sedangkan Kapolda NTT Irjen Rudi Darmoko telah mengirim konselor psikologi untuk memberikan pendampingan terhadap keluarga, khususnya orang tua dari siswa kelas IV SD yang bunuh diri karena tak dibelikan buku dan pensil.

"Tim sudah ke Kabupaten Ngada hari ini dan memberikan pendampingan serta penguatan bagi keluarga korban," ujar Kapolda.

Konseling dan pendampingan akan dilakukan tim mulai Rabu (4/2) sampai dengan Minggu (8/2) di Karadhara, Desa Nenowea, Kecamatan Jerubuu, Kabupaten Ngada.

Kasus siswa kelas IV SD yang bunuh diri karena tidak bisa membeli alat tulis akibat himpitan ekonomi keluarga menjadi sorotan publik. Surat perpisahan yang ditulisnya kemudian menyebar yang menyebabkan masyarakat menyayangkan kejadian tersebut.


(ndt/hn/rs)

Share this post

Sign in to leave a comment