Presiden Prabowo Libatkan Swasta Untuk Pengerukan Sungai di Aceh

2 January 2026 - 21:40 WIB
Biro Pers

Tribratanews.polri.go.id – Jakarta. Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto meminta, agar universitas dan swasta dilibatkan dalam program normalisasi sungai di Aceh yang rusak akibat bencana. Kepala Negara mengatakan, normalisasi sungai yang dangkal termasuk pengerukan lumpur atau dredging merupakan pekerjaan besar.

Sebelumnya Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin mengusulkan agar dilakukan normalisasi di muara sungai Aceh melalui jalur laut. Usulan tersebut disampaikan Menhan kepada Presiden Prabowo Subianto.

"Mungkin dari karya-karya (Perusahaan BUMN) dari PU, dan juga dari fakultas-fakultas teknik kalau perlu. Dari perusahaan-perusahaan besar di dunia yang mampu membuat engineering work, ini kan engineering work skala besar ya," ujar Presiden Prabowo saat membuka rapat terbatas di Aceh Tamiang, Kamis (1/1/26).

Selain itu, Presiden Prabowo mendapatkan laporan dari kepala daerah, ada pihak swasta yang tertarik memanfaatkan lumpur. Presiden Prabowo meminta kementerian terkait dan kepala daerah menindak lanjutinya.

"Gubernur melaporkan ke saya, ada pihak-pihak swasta yang tertarik, dia bisa manfaatkan lumpurnya di mana-mana. Jadi tidak hanya di sungai, tapi di sawah, saya kira ini bagus sekali, tolong ini didalami dan kita laksanakan," ungkapnya.

Menurut Presiden Prabowo, merupakan ide yang bagus untuk normalisasi dan pengerukan lumpur di kuala-kuala yang mengalami pendangkalan. Pembersihan kuala sebagai upaya untuk menghadapi cuaca esktrem.

Sebelumnya Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin mengusulkan dilakukan pengerukan di kuala atau muara sungai. Pengerukan untuk melancarkan air dan memudahkan membawa alat berat sehingga lebih mudah ke titik lokasi ketimbang melalui jalur darat.

Jadi normalisasi sungai dilakukan dengan dua kegiatan. Pertama, pengerukan atau pendalaman sungai dan membawa alat berat sehingga cepat sampai ke lokasi.

"Sungai Tamiang itu bisa bermuara, bisa berasal dari laut, kita lakukan dua kegiatan sekaligus. Satu adalah pendalaman, satu yang membawa alat berat sehingga dia bisa masuk sekaligus membersihkan kayu-kayu," jelasnya Menhan.

Operasi besar-besaran pengerukan sungai, tidak hanya di sungai di Aceh Tamiang tetapi wilayah lain seperti Bireun. Menurut Menhan, kerusakan akibat banjir bandang dan longsor sangat massif.

(rz/hn/rs)

Share this post

Sign in to leave a comment