Tribratanews.polri.go.id - Jakarta. Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian–Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK-PTIK) menjalani tradisi meugang menyambut bulan suci Ramadan 1447 Hijriah bersama warga Langkahan yang terdampak bencana banjir bandang.
“Hari ini, kami dari mahasiswa PTIK angkatan 83 melaksanakan kegiatan penyerahan daging meugang untuk masyarakat Langkahan dan sekitarnya,” ujar mahasiswa PTIK angkatan 83 Iptu Pulung Nur Hidayatullah yang ditemui di titik pengungsian Desa Krueng Lingka, Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, Aceh, Selasa (17/2/2026).
Mahasiswa PTIK, lanjut dia, menyumbang delapan ekor sapi dan tiga ekor kambing. Dana tersebut berasal dari swadaya mahasiswa PTIK angkatan 83 yang melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat di Aceh Utara.
Setelah penyerahan sapi dan kambing untuk meugang, para mahasiswa sekolah kepolisian itu juga melakukan kegiatan masak bersama masyarakat.
“Kami juga melaksanakan kenduri, doa bersama agar keadaan masyarakat Langkahan ke depan semakin baik dan semakin kuat dalam menghadapi bencana yang ada, apalagi sebentar lagi kita akan menghadapi bulan Ramadan,” terang Pulung.
Hasil masakan berupa kuah beulangong kemudian dibagikan kepada masyarakat yang belum memiliki rumah dan masih tinggal di tenda pengungsian.
“Kami utamakan mereka, karena mereka masih sangat membutuhkan. Esensi dari meugang adalah makan bersama dalam satu keluarga. Kami mengusung konsep kekeluargaan dengan makan kuah beulangong bersama,” jelas Pulung.
Berdasarkan laman resmi Pemerintah Aceh, tradisi meugang atau makmeugang merupakan tradisi memasak daging untuk dinikmati bersama keluarga, kerabat, hingga yatim piatu.
Tradisi meugang dilakukan oleh masyarakat Aceh untuk menyambut hari-hari besar umat Islam, yakni sebelum Ramadan, sebelum Idul Fitri, dan sebelum Idul Adha.
Kepala Desa Krueng Lingka, Efendi Noerdin, menyampaikan apresiasi atas bantuan yang diberikan mahasiswa PTIK. Selain bantuan dua ekor sapi dari Presiden Prabowo Subianto, bantuan mahasiswa PTIK turut membantu menyemarakkan tradisi meugang di desa tersebut, terutama di tengah kenaikan harga sapi dari Rp140 ribu–Rp150 ribu per kg menjadi Rp170 ribu–Rp180 ribu per kg.
“Alhamdulillah dapat bantuan ini lagi. Insya Allah dengan adanya daging ini bisa menjadi penambahan, sehingga warga mungkin bisa mendapatkan sekitar 2 kg per KK,” kata Efendi.
Desa Krueng Lingka terdiri atas 312 KK atau sekitar 1.117 jiwa. Saat ini terdapat dua titik pengungsian, dengan 44 KK masih mengungsi. Sebelumnya, desa tersebut juga menerima bantuan dua ekor sapi dari Presiden Prabowo Subianto dengan perkiraan berat kotor 700 kg dan berat bersih daging sekitar 240 kg.
“Kami selaku masyarakat Aceh yang terimbas banjir dan sedang mengalami musibah besar ini sangat berterima kasih kepada Bapak Presiden,” ujar Efendi.
(ndt/hn/rs)