Tribratanews.polri.go.id - Jakarta. Kementerian Kesehatan menyebutkan, pihaknya memberikan perhatian pada kasus-kasus Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA), diare, dan infeksi kulit yang menjadi masalah kesehatan paling banyak ditemukan pasca banjir di Desa Sekumur, Sekerak, Aceh Tamiang.
Dokter Relawan Tim Tenaga Cadangan Kesehatan (TCK) Kementerian Kesehatan dr. Yulia Dewi Irawati menjelaskan kondisi lingkungan pasca banjir, sanitasi yang belum optimal, serta kepadatan di lokasi pengungsian berkontribusi terhadap meningkatnya kasus penyakit tersebut.
“Selain penyakit infeksi, kami juga memberi perhatian khusus pada kelompok rentan seperti bayi, balita, ibu hamil, ibu menyusui, lansia, penyandang disabilitas, ODGJ, serta pasien penyakit tidak menular yang membutuhkan keberlanjutan pengobatan,” jelas dr. Yulia, Senin (12/1/2026).
Tim relawan memastikan pasien dengan penyakit tidak menular seperti hipertensi, jantung, stroke, dan asma tetap mendapatkan pengobatan agar tidak terjadi perburukan kondisi kesehatan di tengah situasi darurat.
Selain pelayanan medis, relawan juga memberikan edukasi kepada masyarakat terkait Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), pemantauan sanitasi lingkungan, serta upaya pencegahan gangguan kesehatan jiwa yang berpotensi muncul pasca bencana.
Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari upaya pencegahan krisis kesehatan lanjutan di wilayah terdampak banjir.
Diketahui, banjir yang melanda Kabupaten Aceh Tamiang berdampak serius terhadap layanan kesehatan masyarakat, khususnya di Desa Sekumur, Kecamatan Sekerak. Fasilitas kesehatan tingkat desa dilaporkan belum dapat beroperasi secara normal akibat kerusakan bangunan dan hilangnya alat-alat kesehatan.
“Ruangan pelayanan belum bisa digunakan sepenuhnya, alat-alat kesehatan banyak yang hanyut, termasuk tempat tidur pasien, oksigen, dan infus. Kami sangat berharap ada perhatian agar pelayanan kesehatan bisa kembali berjalan,” ujar Bidan Puskesmas Pembantu (Pustu) Desa Sekumur Siti Aisyah.
Adapun Kementerian Kesehatan mengirimkan Tim Relawan Tenaga Cadangan Kesehatan (TCK) Batch II untuk memperkuat respons krisis kesehatan di wilayah terdampak, termasuk desa-desa dengan akses terbatas.
Tim relawan melakukan pelayanan kesehatan di posko serta menjangkau langsung masyarakat yang kesulitan mengakses layanan kesehatan akibat keterbatasan transportasi dan kondisi geografis. Selain pelayanan medis, tim juga berkoordinasi dengan tenaga kesehatan setempat untuk mendukung pemulihan layanan kesehatan dasar.
Kementerian Kesehatan memastikan penanganan krisis kesehatan pasca bencana dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan hingga fasilitas kesehatan kembali pulih dan masyarakat dapat memperoleh layanan kesehatan secara optimal.
(ndt/hn/rs)