Tribratanews.polri.go.id – Jakarta. Kementerian Kesehatan mengatakan perluasan layanan kesehatan mental berbasis web dapat mengatasi sejumlah tantangan dalam penyediaan layanan kesehatan, seperti keterbatasan akses dan marak stigma kasus itu, sehingga perlu inovasi guna mengembangkan jenis layanan tersebut.
"Tantangan kesehatan mental sangat kompleks karena faktornya beragam. Biologis, psikologis, dan sosial," ujar Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes Imran Pambudi, Kamis (8/1/2025).
Oleh karena itu, ia mengapresiasi Universitas YARSI yang menjalin kerja sama dengan platform This Way Up dari Australia melalui lokakarya guna adopsi pengetahuan agar pengembangan itu dapat tercapai dan layanan kesehatan di Indonesia menjadi lebih inklusif.
Ia menjelaskan dua persen dari orang dewasa di Indonesia mengalami masalah kesehatan mental. Selain itu, 1,4 persen mengalami depresi, sedangkan sebagian besar dari kalangan usia 15-24 tahun. Direktur Imran juga menyebutkan empat di antara 1.000 orang mengalami skizofrenia.
Seringkali para penderita masalah kesehatan jiwa tidak mendapatkan layanan yang dibutuhkan, karena keterbatasan akses, kurangnya tenaga profesional, serta stigma.
"Selain itu, akhir-akhir ini, kita tahu bahwa beberapa daerah di Indonesia terdampak bencana, dan itu akan menyebabkan tantangan kesehatan jiwa, seperti depresi, kecemasan, dan lain-lain," ungkapnya.
Oleh karena tantangan-tantangan seperti itu, banyak yang menggunakan layanan konsultasi berbasis web dibandingkan dengan konsultasi tatap muka.
Hal tersebut menunjukkan perlunya inovasi dalam alternatif layanan. "Hal ini sesuai dengan transformasi kesehatan," kata Direktur Imran.
Sebagai bentuk komitmen untuk memperluas layanan kesehatan, pihaknya memperluas akses layanan kesehatan di fasilitas kesehatan primer, komunitas, melalui program-program yang bertujuan memperkuat ketahanan serta menciptakan lingkungan yang suportif.
(ndt/hn/rs)