Hormati Keberagaman Agama Dan Budaya Guna Tolak Radikalisme Di Kota Gaplek Wonogiri

Tribratanews.polri.go.id – Wonogiri Jawa Tengah, Budaya atau yang biasa di sebut culture merupakan warisan dari dari nenek moyang tempo dulu  yang masih ada hingga saat ini. Suatu bangsa tidak akan mempunyai ciri khas tersendiri  tanpa adanya budaya-budaya yang di miliki. Budaya  itupun berkembang sesui dengan kemajuan zaman yang semakin modern. Kebuyaan yang berkembang  dalam suatu bangsa itu sendiri di namakan dengan kebudayaan lokal, karena kebudayaan lokal itu sendiri merupakan sebuah hasil cipta, karsa dan rasa yang tumbuh dan berkembang di dalam suku bangsa yang ada di daerah.
Dalam rangka mengantisipasi Terorisme dan propaganda di wilayah Kabupaten Wonogiri di adakan Silahturohmi Tomas,Toga dan elemen masyarakat di ruang pertemuan rumah makan Saraswati Jalan R.M Said Giriwono Wonogiri pada hari Kamis kemarin 2/3/2017 pukul 09.30 wib
Acara dihadiri oleh Wakapolres Wonogiri Kompol Wawan Purwanto, SH dan didampingi Kasat Binmas AKP Suwono,SH dan Kasat Intelkam AKP Sihono.SH, Ketua FKUB Kabupaten  Wonogiri H. Sutopo Broto, Kemenag Kabupaten Wonogiri H. Hidayat Maskur, SAg, Msi dan para Toga, Tomas dan Elemen Masyarakat yang berjumlah 50 Orang.
Kegiatan yang di buka dari Kementrian agama Kabupaten Wonogiori bapak H. Hidayat Maskur. Sag,Msi dan menyampaikan Materi Tentang budaya dan agama di Indonesia Hubungan antara manusia dengan kebudayaan dapat dilihat dari kedudukan manusia tersebut terhadap kebudayaan. Manusia mempunyai empat kedudukan terhadap kebudayaan yaitu penganut kebudayaan,pembawa kebudayaan,manipulator kebudayaan, dan pencipta kebudayaan.
“Kebudayaan, agama, dan adat istiadat erat kaitannya dengan kehidupan manusia. Baik dalam keadaan sendiri maupun saat bersosialisi dengan orang lain. Ketiganya sangat erat hubungannya. Pelaksanaan agama bisa dipengaruhi oleh kebudayaan dan adat istiadat daerah setempat”
“Hubungan antara kebudayaan, agama, dan adat istiadat dalam pelaksanaannya di kehidupan manusia dapat dijelaskan dengan sederhana yaitu, manusia sebagai makhluk sosial dalam kehidupannyayang dapat dipengaruhi oleh unsur-unsurkebudayaan, agama, dan adat istiadat di daerah atau lingkungan tempat dia tinggal.seperti saat dia berbicara atau melakukan suatu kegiatan, misalnya makan, minum dan juga saat dia berjalan.Dalam pelaksanaan kegiatan beragama tidak bisa dihindarkan dari unsur-unsur di atas.”
“Dengan membiasakan diri kita mengenal kebudayaan, agama, dan adat istiadat sejak kecil, maka kita dapat langsung bersosialisasi dengan lingkungan sekitar kita saat kita beranjak dewasa. Dan kita akan berfikir berulang-ulang ketika ada kebudayaan, agama, dan adat istiadat baru yang muncul di sekitar atau lingkungan kita. Sehingga hal itu tidak sampai menjadi punah termakan zaman”jelas Hidayat Maskur.
Dari Ketua FKUB Kabupaten Wonogiri H. Sutopo Broto, menyampaikan materi Agama adalah akidah, FKUB hadir untuk merangkul antar umat beragama. Membantu pemerintah dalam memberikan rekomendasi pendirian tempat – tempat ibadah semua agama.
Dalam giat silaturahmi ini Waka Polres Wonogiri Kompol Wawan Purwanto, SH mewakili Kapolres Wonogiri AKBP Ronald Reflie Rumondor SIK,MSi  memberikan sambutan dan menyampaikan Materi tentang Propaganda di Medsos / Berita bohong (Hoax) Radikalisme, Terorisme dan Intoleransi,Hidupkan kembali budaya Gotong royong di masyarakat.
Wakapolres menuturkan “Perwujudan Kebudayaan dan keseluruhan ide, gagasan, nilai, norma, peraturan, dan sebagainya yang berfungsi mengatur, mengendalikan, dan memberi arah pada kelakuan dan perbuatan manusia dalam masyarakat, yang disebut “adat tata kelakuan”. 
“Keseluruhan aktivitas dari manusia dalam masyarakat, yang disebut “sistem sosial”. Sistem sosial terdiri dari rangkaian aktivitas manusia dalam masyarakat yang selalu mengikuti pola-pola tertentu berdasarkan adat tata kelakuan, misalnya gotong-royong dan kerja sama.” 
“Kepedulian masyarakat terhadap sesama, meninggalkan sikap acuh dan individualisme.Diantara sebab berkembangnya paham radikalisme adalah sikap ketidakpedulian masyarakat terhadap sesama”.
“Sehingga radikalisme dapat berpindah-pindah dari suatu tempat ketempat yang lain dalam menyebarkan doktrin mereka di tengah-tengah masyarakat. Maka diantara solusi yang dapat mengantipasi perkembangan paham radikalisme dan paham-paham sesat lainnya adalah dengan meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap sesama dan meninggalkan sikap acuh serta individualisme.” tutur Wakapolres.//(iwan tribratanews).

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password