POLISI, MEDIA dan BAHASA

tribratanews.polri.go.id – JOGJA – Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi mau tidak mau menjadi gelombang besar yang akan menghempas siapa pun yang tidak mengikuti.

Media komunikasi yang tadinya hanya dikuasai oleh media pers, dengan kemunculan media sosial menjadikan siapa pun bisa dan mampu menjadi sumber informasi, bahkan pemilik media. Termasuk Polisi, atau POLRI dalam hal ini.

Dengan kewenangan dan tanggung jawabnya di tengah masyarakat, memberitakan polisi, menginformasikan kegiatan polisi, berita kriminalitas dan hal – hal terkait keamanan negara lainnya, polisi menjadi primadona pemberitaan. Baik diberitakan kebaikannya maupun kekurangannya.

Tidak salah jika kemudian Polisi merasa perlu memiliki saluran beritanya sendiri. Tidak untuk mengaburkan yang sudah jelas atau menjelaskan yang masih kabur, hanya untuk memberi sudut pandang lain dari sebuah peristiwa. Sudut pandang sebagai pelaku dalam sebuah peristiwa. Hal ini terbukti dengan dibukanya kanal tribratanews di setiap satuan wilayah, berita – berita yang muncul selalu dalam posisi fresh from the oven.

Sebuah berita yang masih fresh from the oven ini tentu saja akan menjadi rujukan bagi pewarta media luar atau media massa. Di sinilah peran Humas Polri sangat besar. Sebagai bagian integral dari institusi Polri, maka sudah pasti informasi yang disiarkan keluar akan mendapat label “informasi dari dalam”.

Akan tetapi, rupanya hal ini kadang tidak bisa dimanfaatkan dengan baik. Mengapa? Harus diakui, akses untuk mendapatkan informasi dari dalam rupanya tidak semudah mendapat label “orang dalam”. Mengapa? Akan dibahas lain waktu.

Di sini penulis ingin mengkritisi hal lain terkait informasi dari dalam. Bahasa. Ya, bahasa. Kita semua tahu, sebagai bagian dari Polri, bahwa bahasa yang digunakan di lingkungan Polri bukan bahasa umum. Banyak sekali penyingkatan istilah – istilah yang itu terdengar tidak biasa bagi masyarakat pembaca media massa.

Apakah kita harus merubah hal ini secara menyeluruh di dalam Polri? Jawaban ada pada masing – masing dari diri kita. Tetapi yang perlu kita perhatikan adalah bagaimana kita yang diamanahi tugas sebagai penjuru fungsi pemberitaan ini mulai membiasakan menulis dengan bahasa koran. Ya, bahasa yang lazim digunakan di media massa.

Secara substansi, informasi yang kita beritakan keluar melalui media online kita, hampir tidak ada yang bisa menandingi, karena posisi kita sebagai orang dalam. Tetapi dalam penyajian, kita masih tidak bisa melepaskan diri dari ‘bahasa’ polisi. Inilah yang dalam hemat penulis perlu untuk dijadikan perhatian serius. Dari pemilihan kata, hingga penggunaan tanda baca, dan khaidah – khaidah EYD lainnya yang masih sering kita abaikan.

Karena bahasa mempengaruhi kualitas informasi.

Salam Tribrata
#kamihumaspolri

(Penulis Muhammad Fajar, S.IP. Adalah Anggota Humas Polda DIY)
editor: Iqbal96
publish: Jay

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password