Police Goes to School: Kasat Intel Berikan Materi Kepada Siswa SD Sempan Timika

tribratanews.polri.go.id Polda Papua, Polres Mimika – Maraknya kasus kekerasan terhadap anak, khususnya kekerasan seksual terhadap anak, tidak hanya dilakukan oleh orang asing, tetapi justru banyak juga dilakukan oleh orang yang dekat dengan korban. Kasus-kasus seperti ini selayaknya menjadi sebuah peringatan bahwa harus ada pengawasan dengan baik lingkungan dimana anak-anak beraktivitas. Mulai dari lingkungan rumah, sekolah, dan dimana sang anak beraktivitas sehari-harinya.

Dengan adanya kasus-kasus seperti ini, sudah saatnya Indonesia membudayakan sebuah kebiasaan yang mengajarkan anak-anak kewaspadaan terhadap orang asing dan tindakan-tindakan yang berpotensi mengarah kekerasan dan pelecehan seksual. Maraknya kasus kerkerasan terhadap anak polres mimika melalui kasat Intelkam AKP Banu Maulana isya, SIK Memberikan Edukasi terhadap siswa – siswi di SD Sempan , timika, papua agar terhindar dari kejahatan seksual dan kekrasan terhadap anak senin, 20/02/2017.

Kembali ke budaya, para orangtua di Amerika Serikat akan terbiasa mengajarkan anak-anak mereka untuk waspada terhadap orang asing. Mereka diajarkan untuk tidak berbicara dengan orang asing, menghampiri orang yang tidak dikenal, dan bagaimana bereaksi terhadap orang asing yang menghampiri mereka. Mereka juga diajarkan untuk mengidentifikasi bagaimana mencari bantuan ketika tersesat.

Hal-hal tersebut sangat membudaya sehingga orang-orang dewasa akan segera waspada apabila melihat ada orang tidak dikenal yang berada di lingkungan mereka dan mendekati anak-anak. Para anak-anak pun sudah terbiasa untuk tidak mendekati orang-orang yang mereka tidak kenali sebelumnya dan meminta bantuan orang-orang yang dipercaya.

Polisi dapat mengabarkan warga, terutama populasi yang dinilai rentan seperti sekolah, bahwa ada seorang yang pernah menjadi pelaku kejahatan seksual dan dinilai berpotensi mengulangi kejahatannya berada di komunitas mereka.

Pada contoh ini, seorang pelaku kejahatan seksual tidak akan lepas dari pengawasan negara dan masyarakat. Ia akan terus diwaspadai dan diamati untuk menghindari kemungkinan terulangnya tindak pidana tersebut.

Untuk mengamankan anak dari bahaya kekerasan seksual,  Kasat intelkam AKP Banu Maulana Isya, SIK menghimbau kepada siswa agar tidak boleh pulang dengan orang asing, siswa tidak boleh berbicara dengan orang asing, siswa tidak boleh menerima barang apapun dari orang asing, jika siswa didekati orang asing saat berada di dekat sekolah siswa harus segera kembali ke sekolah dan memberitahukan staf sekolah, siswa yang masih kecil harus diantar dan dijemput dan siswa yang lebih tua sebisa mungkin pergi dan pulang sekolah dengan berkelompok.

Semuanya berawal dari budaya di tengah masyarakat. Budaya yang sama penting untuk di tanamkan di Indonesia. Sebuah budaya kewaspadaan untuk melindungi anak-anak. Misalnya saja dengan cara kita mengajarkan anak-anak untuk mengenali siapa saja yang boleh menyentuh diri mereka. Misalnya saja orang tua, saudara kandung, atau orang yang di percaya untuk berinteraksi dengan anak-anak. Selain itu, mengajarkan anak-anak  untuk berani mengatakan frase-frase yang menunjukkan penolakan, seperti “Jangan sentuh anak saya” atau berteriak “Jangan dekati saya” ketika ada orang lain berusaha mendekatinya.

Semoga kedepannya dapat membangun kebiasaan dan sistem yang dapat melindungi anak-anak dari kejahatan seperti ini, sehingga anak-anak yang juga masa depan bangsa dapat tumbuh dan berkembang dengan aman.

Penulis : Banu Maulidina Isya
Editor   : Iqbal96
Publis   : Sosrapapu

Admin Polri56599 Posts

tribratanews.polri.go.id "Portal Berita Resmi Polri : Obyektif - Dipercaya - Patisipatif"

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password