Dr. Aswar Hasan : Polisi Itu Pahlawan Masyarakat

Tribratanews.polri.go.id – Makassar Sulsel, Dosen Fisip Unhas Makassar Dr. Aswar Hasan menyebutkan Polisi adalah pahlawan masyarakat, hal itu tidak terlepas dari tugas anggota Polri dalam menjaga keamanan dan ketertiban umum. Sebelum panjang lebar mengulas kenapa Polisi pahlawan masyarakat terlebih dulu Aswar memberikan contoh tentang sebuah film yang berperan membentuk perilaku masyarakat, berikut kisahnya.

Empat penjahat merencanakan perampokan. Kali ini, sasarannya sebuah mobil yang mengangkut  uang sekitar 160 Milyar  milik perusahaan PT. Abacus. Uang ratusan Milyar itu, nyaris mereka rampok sesuai rencana para penjahat itu. Namun, polisi berhasil menangkap mereka. Ketika diperiksa, mereka mengaku bahwa rencana perampokan itu terinspirasi dari menonton film.

Apakah memang film (tentang kejahatan perampokan dan pembunuhan) bisa  menginspirasi dan mendorong seseorang untuk melakukan kejahatan? Jawabnya, dalam perspektif ilmu komunikasi, bisa ya bisa tidak. Efek menonton film pada perilaku seseorang, tidak bersifat instan mempengaruhi. Namun, dalam studi komunikasi film ada yang disebut proses identifikasi psikologis, yaitu seorang penonton yang terpengaruh, akan berusaha bertingkah laku sesuai apa yang ditontonnya (yang diidolakannya) .

Jika sebuah film mengherokan seorang penjahat dan senantiasa mempecundangi peran polisi, sebagaimana halnya di sebagian film-film India dan diantara beberapa film action Amerika, maka itu tidak berarti penjahat tidak akan terinspirasi dan bisa mengurangi ketakutan dan rasa hormatnya pada polisi. Terlebih lagi, jika di lapangan kehidupan dia tidak menemukan sosok polisi yang baik dan benar untuk diherokan (dipahlawankan).

Bahwa film bisa menginspirasi sebuah modus kejahatan, sangatlah mungkin. Tetapi, keputusan untuk melakukan sebuah tindakan dari inspirasi akibat menonton film, banyak dipengaruhi oleh faktor lainnya, seperti lingkungan keluarga, sosial, teman pergaulan, dan lemahnya upaya pencegahan dan penindakan oleh aparat (kepolisian).

Namun demikian, kita tidak boleh memandang remeh dampak dari sebuah film atau tayangan TV yang bisa menginspirasi atau pun memicu terumuskannya sebuah modus kejahatan yang dipraktikkan di tengah masyarakat. Saat ini, terdapat berbagai teori yang menggambarkan penyebab terjadinya sebuah kejahatan di tengah masyarakat. Inspirasi modus kejahatan dalam berbagai level kehidupan dapat dengan mudah diakses, baik dari Internet, Televisi dan Film (action dan porno).  Tinggal menunggu pemicunya, untuk dimulai atau tidak dimulainya sebuah kejahatan.

Karena itu, untuk mengatasi terjadinya sebuah kejahatan (preemtive, preventif, dan represif) pihak kepolisian harus tak henti belajar dalam bekerja demi melaksanakan tugas kepolisian secara baik dan benar. Tesis umum mengatakan, bahwa tidak ada kepolisian di dunia ini, yang tidak terus menerus dibangun (Satjipto Rahardjo, Membangun Polisi Sipil, 2007). Artinya, polisi harus bergerak sesuai perkembangan dinamika. masyarakat. Terutama menemu kenali sumber inspirasi dan pemicu terjadinya kejahatan dengan berbagai modus vivendi dan operandinya.

Penulis sungguh sangat mengapresiasi upaya pihak Kapolda melakukan coffee Morning beberapa waktu lalu dengan mengundang akademisi dari berbagai bidang yang berasal dari UNHAS, UMI, UNM DAN UIN Alauddin Makassar, serta dihadiri oleh segenap Pejabat Utama di lingkup Polda Sulsel.

Betapa tidak, karena sebuah Coffee Morning bisa berfungsi untuk meng-update (mengaktualkan) pemahaman polisi atas apa yang terjadi di tengah masyarakat, sekaligus sebagai bentuk penyegaran dan sharing pengetahuan serta pengalaman untuk kepentingan tugas ke depan.

Dalam simposium yang diselenggarakan oleh Intercenter di Messina Sisilia, tahun1989 dinyatakan bahwa Polisi abad ke-21 bukan lagi tipe penjaga status quo, tetapi bagaimana Polisi menjadi pemimpin bangsanya, dan harus senantiasa berada satu langkah di depan.

Dalam pada itu, Professor Satjipto Raharjo sebagai ahli sosiologi hukum dan pengajar di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) mengatakan bahwa saat ini polisi diperhadapkan untuk menjadi Polisi yang Antagonis atau protagonis.

Polisi yang protagonis adalah polisi yang selalu dan berpihak pada rakyat. Sementara Polisi yang antagonis justru sebaliknya. Polisi antagonisi bekerja untuk menjaga status quo dan hanya berpikir bagaimana menegakkan norma hukum, tanpa melihat dan mempertimbangkan kepentingan dan dinamika masyarakat.

Salah satu bahaya polisi antagonis adalah jika ia merelakan dirinya menjadi alat represif kekuasaan pemerintahan untuk kepentingan politik kekuasaan golongan tertentu, lalu mengabaikan aspirasi dan rasa keadilan masyarakat yang seharusnya ia ayomi dan lindungi hak-hak konstitusionalnya. Jika itu yang terjadi dalam masyarakat yang sedang membangun demokrasi dalam tuntutan keterbukaan informasi yang tidak bisa lagi ditutup-tutupi, maka itu sama artinya polisi telah memasuki lorong gelap yang tak berujung, atau hanya berfungsi laksana gasing yang sibuk berputar-putar sesuai keinginan pemegang tali kendalinya.

Polisi haruslah menjadi pahlawan masyarakatnya. Bekerja dalam sistem social order berdasarkan bingkai aturan yang bersifat progressif, solutif dan dijalankan secara profesional, obyektif dan transparan serta bertanggung jawab secara hukum kepada negara dan secara moral kepada masyarakat.

Penegakan hukum  secara progressif telah begitu memberi  peluang agar polisi dapat menjadi pahlawan bagi bangsanya, dengan bertindak  bijak dan obyektif secara tepat dalam pekerjaannya. Tapi di sisi lain, peluang itu juga dapat menjerumuskan polisi ke jurang “kenistaan”  karena polisi membiarkan dirinya menjadi korup dan suka melakukan kekerasan, bertindak tidak adil, sehingga menjadikan hidup  masyarakat menjadi  tidak nyaman.

Dengan dipercayainya Polisi sebagai leading sektor dalam gerakan SABER PUNGLI, maka sesungguhnya ini merupakan pintu masuk untuk membangun citra sebagai “Pahlawan Masyarakat.” Sehingga, polisi dicintai masyarakatnya, karena telah bekerja melawan virus masyarakat yang selama ini menggerogotinya, yaitu  virus pungli yang tidak mengenal waktu dan tempat.

Salah satu aspek fundamental agar polisi bisa menjadi pahlawan di tengah masyarakat, adalah dengan menegakkan etika Profesi Kepolisian yang memuat empat prinsip utama, yaitu: Pertama, menjunjung tinggi etika kepribadian dan moral Polisi, sebagai bentuk ibadah selaku umat beragama. Kedua, menegakkan etika kenegaraan dengan menjujung tinggi konstitusi Negara. Ketiga, menjaga etika kelembagaan sebagai sikap moral anggota Polri terhadap institusi yang menjadi wadah pengabdiannya. Keempat, merawat etika dalam berhubungan dengan masyarakat, sebagai sikap moral anggota Polri yang senantiasa memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakatnya. Menjalankan keempat prinsip utama etika tersebut, akan mengantar polisi ke tingkat derajat Agung sebagai pahlawan masyarakat. Semoga.

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password