Start Up dan Kapitalisasinya

images (61)

Tribratanews.polri.go.id – SOLO : Selama ini kita mengenal perusaaan yang baru saja masuk bursa dengan kapitalisasi raksasa seperti Google dan Facebook. Start up ini, atau Google di tahun 1998 baru saja menjadi thesis mahasiswa Stanford oleh Sergey Brin dan Larry Page, sedangkan mesin pencari paling popular di saat itu adalah Yahoo. Google bahkan pernah menjadi partner Yahoo didalam pencarian, kalau Yahoo tidak menemukan index pencarian maka lari ke Google. Semakin lama Google yang menggantikan peran Yahoo, menjadi mesin pencari primer. Google semakin menggurita sehingga ketika turun di bursa saham, sahamnya diawarkan cukup tinggi. Di Amerika, kapitalisasi bursa saham tidak hanya berdasar kinerja keuangan perusahaan tersebut, tapi juga berdasar besar data yang bisa dikolek oleh perusahaan tersebut.

Hal ini juga berlaku bagi Facebook, sebelumnya dalam dunia pertautan pertemanan ada Friendster yang menggurita tapi gagal dalam bursa saham. Facebook akhirnya pelan pelan menggantikan Friendster, dan cepat menggurita, di Amerika dikabarkan ada 1 billion user dari Facebook, ini belum di Eropa, maupun di Indonesia. saham Facebook dikapitalisasi dari banyaknya user yang bergabung, Facebook sendiri belum terlalu bagus kinerja keuangannya.

Kira kira beginilah cara kerja perusahaan giant Silicon Valley, mereka didukung oleh kelompok tertentu untuk bisa sukses di bursa saham meski kinerja keuangan belum begitu baik. Merek dan besarnya kolektivitas data yang mereka koleksi dianggap kapitalisasi saham. Akhir akhir ini, dengan semakin banyaknya user internet, besarnya kapitalisasi saham sangat cepat tumbuh. Seperti Facebook atau Twitter tak sampai 10 tahun untuk turun ke bursa saham dan mempunyai kapitalisasi yang besar. 10 besar orang terkaya menurut Forbes juga dikuasai oleh mereka para baron IT, seperti Bill Gates, Mark Zuckerberg, Sergey Brin, Larry Pages, Jeff Bezos, mereka menguasai kapitalisasi perusahaan berbasis IT.

Amerika memang menawarkan America Dream, mimpi ala Amerika untuk cepat menjadi kaya. American Dream ini terutama di bidang IT. Misal pendatang atau immigran seperti Jan Koum yang membuat Whatsapp yang kemudian dibeli oleh Facebook. Saat ini masih banyak start-up yang dibesarkan oleh Facebook maupun Google. Mereka adalah calon billionaire baru. Amerika memang satu satunya negara yang mempunyai iklim paling bagus untuk start up. Amerika juga negeri yang paling menarik bagi para visioner seperti Elon Musk, Steve Jobs dan tokoh lainnya. Amerika adalah negara yang menawarkan setiap orang berkarya di bidangnya masing masing, sehingga fisikawan Albert Einstein sampai Richard Feynman juga memilih ber-imigrasi ke Amerika, termasuk Sergey Brin pendiri Google yang masa kecilnya dihabiskan di Moscow.

Nikola Tesla, seorang jenius inventor, dari listrik AC sampai wirelesstechology juga seorang immigran dari Serbia, dan hijrah ke Amerika atas ketertarikannya dengan Thomas Alfa Edison. Kekuatan ekonomi Amerika memang utamanya di bidang inovasi teknologi. Hal ini sudah berlangsung sejak abad 18-19.
Start up di Indonesia

Di Indonesia pernah booming bisnis dotcom. Dulu ada kapital dari Afrika Selatan, yaitu M-Web, pernah membangun portal berita Satunet atau Astaga dotcom. M-Web juga punya jaringan bisnis warnet di beberapa kota di Indonesia. Pada tahun 2000 detik.com sebagai portal berita online pertama dikabarkan mendapat investor baru. Hal ini saya kira menjadi bukti bahwa bisnis dotcom di Indonesia pernah berjaya.

Saat ini di Indonesia juga mula banyak start-up yang sedang di-inkubasi. Start-up yg telah berhasil meraup dana investasi million usd dari Amerika, juga sudah ada, contohnya Go-Jek. Namun di Indonesia belum pernah ada start-up yang turun di bursa saham di Indonesia yg sukses. Rata rata perusahaan IT di bursa saham Indonesia, nilai kapitalisasi-nya biasa biasa saja, bahkan boleh dibilang cukup rendah. Semoga tradisi ini segera dipecahkan, dan mulai ada start-up yang sukses di bursa saham di Indonesia. Bursa saham Indonesia selama ini masih banyak emiten yang terjun di bidang tambang dan menjadi saham yang primadona.

(Wawan Setiawan , Pemerhati IT  tinggal di Solo dan Penulis tetap di tribratanews.polri.go.id)

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password