Mengenal Lebih Dekat Bripda Nurysta Thamarindus Sugiarto, Polwan Polres Kediri Kota yang Juga Pelatih Tari

Tita-750x450

Tribratanews.polri.go.id – Polres Kediri Kota –
Meski memakai seragam polisi, ternyata banyak potensi terpendam yang dimiliki oleh anggota Polri di Indonesia , salah satunya Bripda Nurysta Thamarindus Sugiarto, “polisi seniman” yang mengajar tari dan sekaligus menciptakan kreasi seni tari sendiri.

Bripda Nurysta Thamarindus Sugiarto, adalah polwan anggota Polres Kediri Kota yang bertugas di Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Sat Reskrim Polres Kediri Kota.

Dilahirkan di Nganjuk, 1 November 1992 dari pasangan Sri Agustina dan Bambang Sugiharto, Tita panggilan akrab Nurysta Thamarindus Sugiarto anak ketiga ketiga dari tiga bersaudara ini  memang memiliki cita-cita sejak kecil menjadi seorang penari.

Hal ini ia buktikan, SD hingga SMA ia terus berlatih menari di sanggar “Ayu Sekar Putih” di Kertosono Nganjuk. Selama hampir kurang lebih 12 tahun les tari, Tita mampu menguasai sedikitnya 7 tari dan sekaligus memegang sertifikat tari.

3e900f47-5164-450d-b121-aaec85dfa2d0-1024x683
Ketujuh tari yang ia kuasai antara lain tari  jaran pegon, salepok, wareng, merak, bondan, remo pendek dan gambyong. Dari kemahirannya menari inilah akhirnya ia memilih meneruskan kuliah di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Prodi Tari.

“Alhamdulillah setelah melalui perjuangan yang panjang akhirnya diterima di Unesa Fakultas Sendratasik ( Seni Drama Tari dan Musik) Prodi Tari. Yang lebih membanggakan di Prodi Tari ini dari hampir kurang lebih 500 peminat, yang diterima hanya 28 dan itu termasuk saya,” kata Tita bangga.

Kuliah di Unesa ia jalani hingga semester VI dan sekaligus mampu menguasai puluhan seni tari antara lain remo pendek, remo resnowati, remo bolet, remo jombangan , remo munalifata , gandrung, jejer, topeng bapang , topeng medura , jaranan trenggalek , tari jogja, bali , nusantara , maduraan dan lain sebagainnya.

Namun sayang, saat ditengah perjalanan semester VI, godaan yang juga cita-citannya yang lain dari kecil datang. Yakni menjadi polisi.

“Saat itu saya sedang periksa ke puskesmas oleh perawatnya diberitahu kalau ada pendaftaran polisi. Kabar itu langsung saya beritahukan ayah dan direstui, namun sempat ada penolakan dari ibu,” ungka Tita.

Tekadnya yang bulat, akhirnya membawannya mendaftar polisi yakni Diktuk Brigadir Polwan pada tahun 2014. Bangku kuliah ia tinggalkan demi menggapai cita-citannya,” Saat proses pendaftaran dan hingga diterima saya tidak lapor kampus, sebab serba salah,” jelas Tita.

Karena optimisme yang tinggi akhirnya Tita diterima menjadi anggota polisi dan menjalani pendidikan selama 7 bulan,” Setelah proses selesai saya baru laporan ke kampus dan akhirnya pindah kuliah dan transfer ke kampus di Kediri setelah tahu penempatan di Polres Kediri Kota,” ungkapnya.

Diterima menjadi polisi bukan berarti bakat yang diasah sejak kecil ia tinggalkan. Bahkan semakin menjadi-jadi. Salah satunya mendirikan sanggar tari dan memiliki 25 murid dan semua ia gratiskan.

Bahkan ia juga menciptakan tari kreasi baru dan ditampilkan di berbagai acara. Dua karya tari yang telah ia ciptakan antara lain operet anak metamorfosa, dan yang kedua  dunia malam.

“Meski pekerjaan saya saat ini polisi, namun harapan ke depan saya juga  akan lebih juga memfokuskan pada dunia tari. Dan mengembangkan sanggar yang telah saya rintis di Jatikalen Nganjuk. Tujuannya generasi muda akan lebih cinta pada seni budaya Indonesia yang adilihung. Tidak ketinggalan pesan kamtibmas selalu saya sampaikan kepada anak didik saya setiap kali ada kesempatan,” pungkasnya.

“Bersama Menjaga Kamtibmas – KEDIRI MENANG”
#panjalujayati #RakyatbersamaPOLRI

Penulis : GUS. B
Editor : Iqbal96
Publis : DIDIK

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password