BELIAU

MENULIS

Oleh : Tomi Lebang *).

Semua bahasa di dunia mengenal pilihan kata yang menempatkan manusia di tempat mulia, sejajar atau nista, lebih tua atau muda, priyayi atau sahaya, pemenang atau pecundang. Kata-kata itu terentang luas dan terserak di belantara bahasa, tinggal diucapkan atau dituliskan dengan kesadaran pribadi.

Saya bisa menyebut seseorang dengan Bapak, di tempat yang lain ada yang memanggilnya dengan sebutan nama kecil sahaja. Seorang tokoh pemuda ditulis dengan enteng “si codet”, di tempat lain ia disebut “Abang Ji’i” misalnya.

Tapi di media massa, wartawan menulis dengan kesadaran penuh sebagai wakil pers yang sejajar dengan narasumber, siapa pun dia. Itulah sebabnya, tak lazim menemukan kata “beliau” dalam tulisan seorang wartawan, kecuali dalam kutipan. Kata “beliau” menempatkan orang ketiga dalam posisi sangat terhormat, di atas penulis sendiri. Kata yang lazim adalah “dia”.

Dalam penulisan wawancara langsung, juga tak selayaknya menulis kata “Bapak” atau “Ibu” dalam kalimat pertanyaan yang diajukan pewawancara. Kata yang layak adalah “Anda” untuk menegaskan kesejajaran wartawan dan narasumber.

Saya ingat dulu, seorang wartawan senior di satu media besar yang menolak menggunakan panggilan hormat Gus Dur untuk Presiden Abdurrahman Wahid. Yang benar adalah Abdurrahman sahaja. “Gus” adalah julukan hormat para santri dan pengikut untuk keluarga darah biru para nahdliyin. Gus Dur, Gus Mus (Mustofa Bisri), Gus Iful (Syaefullah Yusuf), dll.

Ihwal ini tentu tak berlaku pada orang yang sesungguhnya memang menempati posisi mulia di hadapan umat manusia. “Baginda” Nabi, “Pendekar hukum” Baharuddin Lopa, “Sang Proklamator” Bung Karno atau Hatta, “Sri” Paus, misalnya. Dengan kesadaran penuh dan tanpa perdebatan, kita menempatkan orang-orang itu di posisi terhormat yang diamini oleh umat manusia.

Sebutan, gelar dan panggilan hanyalah sampiran pada seorang tokoh. Semua bahasa di dunia telah menyediakan pilihan: apakah kita akan menyebut sekelompok orang dengan “para tokoh”, “para penggiat”, “dedengkot” atau “cecunguk” atau “para kaki tangan”. Alam bawah sadar, naluri, atau pengalaman hidup seorang penulis tak boleh mengorbankan nama institusi media yang menaunginya. Pers selalu menempatkan diri sejajar dengan narasumbernya.

Lebih dari itu, memilih kata yang menempatkan dirinya dalam posisi sejajar adalah sejenis pekik kemerdekaan pers, juga manusia-manusia yang berkutat di dalamnya.

*). Penulis pernah menjadi wartawan Majalah Tempo dan kini aktif menulis di media social

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password