Anak Sebagai Pelaku Kejahatan di Wilayah Hukum Polsek Sukawati, Ini Faktor Penyebabnya!

kapolsek-sukawati-kompol-i-wayan-wisnawa_

Tribratanews.polri.go.id-Polda Bali.   Anak merupakan generasi penerus bangsa, keberadaan anak adalah sangat penting karena anak merupakan potensi nasib bangsa yang berperan menentukan sejarah bangsa sekaligus cermin sikap hidup bangsa pada masa mendatang.
Seorang anak yang merupakan bibit unggul serta memiliki harapan yang seluas-luasnya guna mempersiapkan masa depannya sebagai tonggak keberhasilan suatu bangsa dan negara di masa yang akan datang, tidak seharusnya terjerembab dalam dunia kejahatan.
Alangkah disayangkan apabila anak-anak di usia dini telah terlibat perkara hukum pidana.
Tidak sewajarnya seorang anak yang sedang merajut mimpi indahnya justru harus berjuang dan melewati sebagian masa mudanya di balik jeruji besi yang secara otomatis akan melenyapkan mimpi-mimpi indahnya hari esok.
Begitu besarnya potensi yang dimiliki oleh anak-anak generasi bangsa ini, namun di dalam kehidupan sehari-hari tak jarang kita menyaksikan berbagai tindakan pidana justru dilakukan oleh anak di bawah umur tersebut.
Kita tidak dapat menutup mata terhadap berbagai kejahatan yang dilakukan oleh para generasi penerus bangsa tersebut.
Anak yang melakukan tindak pidana adalah salah satu permasalahan yang sering terjadi saat ini.
Seringkali kita melihat dan mendengar berita bahwa perbuatan yang melanggar hukum pidana seringkali melibatkan anak-anak di bawah umur.
Hal ini umum terjadi di kota-kota besar di Indonesia, namun dewasa ini perbuatan melanggar hukum pidana yang melibatkan anak di bawah umur tersebut sudah merambah ke kota kecil seperti Sukawati, Gianyar, Bali.
Perlunya suatu pemecahan masalah dalam menanggulangi dan menindaklanjuti hal ini sangatlah  diharapkan.
Anak  sebagai  generasi  penerus, dan merupakan  sumber  daya  manusia  yang  perlu  mendapatkan  perhatian  khusus, yang menentukan nasib bangsa kedepannya, dimana perkembangan globalisasi ekonomi, teknologi, dan modernisasipun semakin maju dan meningkat.
Negara Indonesia adalah negara berkembang yang memiliki kapasitas kepadatan penduduk yang cukup tinggi. Banyaknya penduduk membuat tingklat kriminalitas semakin tinggi.
Kejahatan yang dilakukan oleh anak di bawah umur beragam jenisnya, mulai dari tindak kejahatan ringan sampai tindak kejahatan berat.
Arus globalisasi dan modernisasi dapat dikatakan sebagai salah satu alasan untuk mendorong banyak kejadian kejahatan oleh anak saat ini, ataupun disitegrasi moral dimana norma agama, kesusuilaan adat istiadat, maupun norma lain yang ada dan hidup dalam masyarakat, tidak lagi diperhatikan dan ditaati oleh generasi anak anak saat ini.
Di Sukawati, Gianyar, jenis kejahatan yang mendominasi adalah kejahatan pencurian, apabila kita golongkan lagi secara spesifik pencurian yang dimaksud adalah kasus pencurian sepeda motor.
Selain kejahatan anak-anak di bawah umur di Sukawati cenderung ada beberapa jenis pelanggaran atau bisa di bilang jenis kenakalan anak berupa trek-trekan sepeda motor di jalan raya hingga minum-minuman keras.
Dari data tindak pidana di polsek sukawati di tahun 2016 tingkat kejahatan yang dialakukan oleh anak-anak adalah 15% hal ini sangat memprihatinkan sekali.
Namun pada kesempatan ini yang  akan dibahas lebih spesifik tentang kejahatan yang dilakukan oleh anak di bawah umur di wilayah hukum Polsek Sukawati, faktor penyebabnya dan langkah kepolisian untuk mencegah terjadinya kejahatan sehingga harapan membuat sukawati aman dan tertib serta menyelamatkan generasi bangsa dapat terwujud.
Kejahatan-kejahatan yang dilakukan oleh anak pada umumnya dilakukan karena kurang pemahaman terhadap hal yang baik dan hal yang buruk.
Masa anak-anak adalah masa yang sangat rawan melakukan tindakan, karena masa anak-anak suatu masa yang rentan dengan berbagai keinginan dan harapan untuk mencapai sesuatu ataupun melakukan sesuatu.
Suatu kejahatan, kenakalan ataupun perbuatan pidana yang dilakukan oleh anak dibawah umur biasanya memiliki latar belakang yang menyebabkan mengapa perbuatan itu dilakukan.
Faktor-faktor yang mendorong perbuatan itu dilakukan sering disebut sebagai motivasi dimana didalamnya mengandung  unsur niat, hasrat, kehendak, dorongan kebutuhan, cita-cita yang kemudian diwujudkan dengan lahirnya perbuatan-perbuatan.
Anak yang melakukan tindak pidana di wilayah Polsek Sukawati pasti memiliki alasan ataupun sebab mengapa melakukan perbuatan pidana.
Berdasarkan data anak yang melakukan kejahatan di wilayah hikum kepolisian sektor Sukawati hampir 90% dikarenakan faktor lingkungan salah pergaulan.
Anak melakukan tindak pidana pada dasarnya belum memahami akibat dari perbuatannya.
Dari hasil observasi terhadap anak sebagai pelaku perbuatan pidana di Sukawati dapat ditarik beberapa faktor penyebab anak melakukan perbuatan pidana seperti :

Pertama adalah lingkungan pergaulan.
Proses pembentukan kepribadian anak biasanya mulai dan berkembang pada saat anak tersebut menghabiskan sebagian besar waktunya untuk berkumpul dengan teman-temannya.
Dengan demikian, pengaruh lingkungan pergaulan terutama pengaruh teman-teman bermainnya sangat besar bagi anak dapat melakukan apa yang dianggap baik menurutnya dan apa yang menjadi sumber bagi anak untuk melakukan perbuatan menyimpang.
Pergaulan anak menjadi sangat penting untuk membentuk karakter dan pertumbuhan mentalnya.
Anak sering salah bergaul justru membuatnya semakin dekat dengan kejahatan.
Anak yang sekolah bergaul dengan orang yang lebih dewasa justru mengajari anak tersebut hal-hal yang buruk seperti merokok, minum-minuman keras, berkelahi hingga melakukan tindak pidana seperti pencurian sepeda motor.

Faktor kedua adalah perkembangan tehnologi.
Saat ini kita dapat dengan mudah mengakses internet dimana para pelaku kejahatan melakukan modus operandinya, hal ini cenderung ditiru oleh anak-anak remaja kita.
Semakin  berkembangnya  teknologi  mempengaruhi  perkembangan  Anak,  seperti  kecanduan  main  game  di  warnet.
Anak  sering  lupa  waktu  ketika bermain  game  di  warnet,  uang  jajan  dari  orangtua  tidak  cukup  untuk  memenuhi   kebutuhanntya   untuk   bermain   game   di   warnet,   sehingga menjadikan anak mencari uang jajan tambahan.
Menggunkan uang sekolah untuk bermain game di warnet salah-satu cara yang dilakukan anak demi terwujudnya  keinginannya  untuk  bermain  game  di  warnet,  kemudian  untuk  menutupi  semua  perbuatannya  anak  menjadi  pelaku  pidana  seperti melakukan pencurian.

Faktor ketiga adalah keluarga.
Keluarga   juga   menjadi   faktor   penentu perkembangan  anak.
Sejak  mulai  bayi  hingga  beranjak  remaja,  keluarga adalah  tempat  pertama  anak  belajar  dari  segala  hal.
Peran  orangtua menjadi     sangat     penting     untuk     ikut     sama -sama     memperhatikan perkembangan anak.
Orangtua sering lupa memperhatikan anaknya karena tuntutan  pemenuhan  kebutuhan  sehari-hari,  kembali  ekonomi  keluarga menjadi   faktor   utama   mengapa   orangtua   menjadi   kurang   mampu memperhatikan dan mengawasi perilaku anaknya, pergaulan anaknya baik di lingkungan tempat tinggal maupun lingkungan sekolah

Faktor keempat adalah ekonomi.
Faktor Ekonomi menjadi salah satu faktor anak melakukan kejahatan, latar belakang   ekonomi   keluarga   yang   tidak   mampu   memenuhi   segala kebutuhan  anak  menyebabkan  anak  mencari  pemenuhan  kebutuhannya  dari    lingkungan    luar.
Kebutuhan anak-anak di jaman sekarang dengan alasan untuk memenuhi tren atau mode sebagai suatu kebutuhan, sebagai contoh menggunakan HP dengan paket internet tertentu, serta penggunaan sepeda motor ke sekolah walau anak tersebut belum pantas memiliki SIM, hal ini memicu anak untuk berusaha menghalalkan segala macam cara untuk mendapatkan apa yang menjadi keinginannya.

Faktor kelima adalah pendidikan.
Latar belakang pendidikan yang rendah merupakan faktor anak melakukan kejahatan, pemahaman hukum yang rendah dari anak anak tersebut.
Anak yang melakukan tindak pidana yang seharusnya merasakan suka duka di bangku sekolah justru  harus  berhenti  sekolah  cenderung  membuat  mental  anak  menjadi  semakin labil dan mudah sekali tersinggung.
Merasa berbeda dengan anak seusianya  yang  sekolah,  merasa  minder  dan  agak  malu  untuk  bergaul bersama   anak   seusianya   sekolah   membuatnya   menjadi  melakukan perbuatan pidana.

Faktor keenam, adanya anggapan anak tidak ditahan apabila melakukan tindak pidana
Diversi adalah merupakan pengalihan penyelesaian perkara anak dari proses peradilan pidana ke proses di luar peradilan pidana, sebagaimana disebut dalam Pasal 1 angka 7 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak .
Undang-undang tersebut secara substansial telah mengatur secara tegas mengenai keadilan restoratif dan diversi yang dimaksudkan untuk menghindari dan menjauhkan anak dari proses peradilan sehingga dapat menghindari stigmatisasi terhadap anak yang berhadapan dengan hukum dan diharapkan anak dapat kembali ke dalam lingkungan sosial secara wajar.
Lemahnya pemahaman hukum oleh anak-anak di bawah umur, rentan terhadap hasrat anak-anak untuk mecoba-coba hal yang baru sehingga kebanyakan anak-anak terjerumus ke tindak pidana kejahatan.
Setelah kita kaji banyaknya faktor yang menyebabkan anak melakukan tindak pidana maka Polsek sukawati melakukan langkah langkah tindakan sebagai berikut :

1.       Pre-emtif
Kapolsek Sukawati beserta para perwira setiap ada kegiatan upacara bendera di sekolah-sekolah menyempatkan diri memberikan bimbingan dan penyuluhan kepada Guru dan siswa sekolah tentang kejahatan maupun pelanggaran yang sering dilakukan oleh anak anak dan remaja seperti mabuk mabukan, trek-trekan sepeda motor, narkoba, pencurian dan lain sebagainya.
Serta meberikan pemahaman hukum akibat yang terjadi apabila melakukan pelanggaran hukum tersebut.
Selain giat tersebut Kapolsek juga sudah memerintahkan para bhabinkamtibmas polsek untuk lebih intens melaksanakan giat sambang ke rumah warga masyarakat sukawati dengan metode DDS (door to doors system) dan giat sosialisiasi dimasing masing desa binaan para bhabinkamtibmas. Selain itu polsek sukawati juga aktif memeberikan himbauan kamtibmas di media social dan memebentuk jaringan grup masyarakat sadar kamtibmas, grup ini sebagai wadah sharing kejahatan yang sedang trend dan langkah pencegahannya.

2.       Preventif
Unit patroli polsek sukawati melakukan giat pencegahan dengan cara rutin selalu melaksanakan giat patroli untuk mengantisipasi kejadian kejahatan maupun pelanggaran yang dilakukan oleh anak anak di wilayah hukum polsek sukawati. Selain itu unit patroli aktif berkeliling untuk memeberikan no telphon pejabat dan instansi terkait sebagai langkah percepatan dan quick respon apabila ada kejadian kamtibmas.

3.       Refresif
Setiap tindak pidana yang melibatkan anak-anak di sukawati selalu mengedepankan pertimbangan masa depan si anak tersebut, jadi apabila ada pelaporan  tindak pidana melibatkan anak di bawah umur di utamakan penyelesaian perkara dengan cara diversi dengan melibatkan BAPAS, dinas social, P2TP2A, kepala dusun, tokoh masyarakat dan orang tua. Seandainya ada anak yang terlibat pidana, maka anak tersebut akan dikonseling dan dibina agar tidak melakukan tindak pidana lagi.  Kecuali anak tersebut sudah melakukan tindak pidana secara berulang kali (residivis) maka si anak tersebut akan diproses sesuai Hukum yang berlaku dalam hal ini Undang-undang no 11 tahun 2012 tentang Sistem peradilan pidana anak. Anak  yang  melakukan  kejahatan  tentu  saja  belum  matang  secara  mental  dan psikologis,  sehingga  perlu  penanganan khusus  dan  berbeda  dibandingkan pelaku  kejahatan  dewasa.
Selain langkah-langkah yang telah dialakukan Polsek Sukawati diharapkan kepada masyarakat lebih meningkatkan control social dan perlunya pengawasan orang tua atas lingkungan dan pergaulan  anak-anaknya.
Pemerintah juga diharapkan dalam hal ini pemerintah daerah bisa menerapkan suatu regulasi jam malam atau jam wajib belajar bagi anak-anak sehingga anak anak sekolah tersebut yang dibawah umur tetap dalam kendali control tidak berkeliaran di luar rumah atau di jalanan pada jam-jam yang telah ditentukan.
Dan untuk pihak sekolah dimohon mengkatifkan kembali giat ekstrakulikuler seperti pramuka, ataupun pesramaan kilat. Serta saat liburan sekolah semesteran, giat study banding ke museum atau tempat pergelaran teknologi.
Besar harapan seandainya anak-anak sudah dapat dikontrol dan diawasi jam keluar malamnya, maka kegiatan belajar anak-anak dapat terfokus.
Lingkungan pergaulan ke arah negatif dapat dicegah sehingga angka tindak pidana dengan pelaku anak di bawah umur dapat ditekan, sehingga penyelamatan generasi bangsa untuk meraih cita-cita memajukan bangsa dan negara astungkara dapat terwujud.

Penulis: Kapolsek Sukawati, Kompol I Wayan Wisnawa Adiputra, S.I.K., M.Si.
Publish ; Swan

 

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password