Dua Pelaku Curas Modus Pecah Kaca Mobil Lintas Provinsi Ditembak Petugas Tim Jatanras Polrestabes Makassar

Tribratanews.polri.go.id, Makassar Sulsel – Anggota kejahatan dengan kekerasan (jatanras) Polrestabes Makassar berhasil mengungkap kasus pencurian dengan kekerasan (curas) lintas Provinsi dengan modus pecah kaca mobil. Dua pelaku masing- masing bernama Akmaluddin alias Akmal alias Udin (52), warga Pontianak Timur dan Benny Sapalas alias Khoiril (37), warga Desa Jeruji, Kalimantan Barat (Kalbar), keduanya tewas ditembak oleh Anggota Jatanras Polrestabes Makassar, Kamis, 2 Februari 2017.

Penangkapan kedua pelaku dipimpin langsung oleh Kanit Jatanras AKP Edy Sabhara Manggabarani, S.IK berawal dari informasi bahwa pelaku pecah kaca yang sementara DPO berada di tempat kostnya. Selanjutnya anggota Jatanras langsung menuju ketempat yang dimaksud, kemudian berhasil mengamankan kedua pelaku.

Di hadapan Polisi pelaku mengakui perbuatannya melakukan pencurian dengan modus pecah kaca mobil. Pelaku menggasak dua tas berisi uang Rp 400 juta dan satu unit HP Blackberry Z10 di jalan Komplek Ruko Topaz Jalan Boulevard Makassar.

Kasubbag Humas Polrestabes Makassar Kompol Burhanuddin mengatakan kedua pelaku tersebut spesialis pecah kaca mobil lintas Provinsi dengan modus membuntuti nasabah Bank. Pada saat kedua pelaku di bawah untuk menunjukkan TKP, pelaku berusaha melarikan diri dari kawalan anggota Jatanras Polrestabes Makassar dengan cara melakukan perlawanan.

Sehingga anggota jatanras Polrestabes Makassar memberikan tembakan peringatan. Namun kedua pelaku tidak menghiraukannya dan anggota memberikan tindakan tegas dengan menembak pelaku. Tembakan aparat tersebut tepat mengenai dada pelaku yang mengakibatkan kedua pelaku meninggal dunia, kemudian pelaku di evakuasi ke RS. Bhayangkara Makassar.

Kasubbag Humas Polrestabes Makassar Kompol Burhanuddin mengatakan, pelaku ditembak lantaran melakukan perlawanan. Petugas terpaksa melumpuhkannya, sebab terdesak saat kedua pelaku melakukan perlawanan. Meski diberikan tembakan peringatan, namun tidak digubris, akhirnya petugas menembaknya hingga tewas.

Sejumlah aksi kejahatan jalanan, seperti pada kasus pencurian dengan kekerasan (curas) pecah mobil dengan dua pelakunya, AK alias Koi (52), dan SA (37), hingga akhirnya keduanya tewas ditembak oleh Anggota Jatanras Polrestabes Makassar marak terjadi di sejumlah daerah di Indonesia. Kejahatan curas dengan modus pecah kaca mobil, terutama terjadi di beberapa kota besar, termasuk di wilayah hukum Polrestabes Makassar.

Kejahatan jalanan atau yang biasa dikenal dengan street crimes merupakan jenis kejahatan tradisional yang sangat meresahkan warga masyarakat. Terlebih hal ini dirasakan di kota-kota besar seperti Jakarta, Makassar, Medan, Surabaya dan beberapa kota metropolitan lainnya.

Di saat hiruk pikuk kejahatan kerah putih (white collar crime) seperti korupsi, money laundering, carding, dan lain sebagainya terus-menerus menghiasi setiap media massa kita saat ini, kejahatan jalanan tetap merupakan ancaman yang amat nyata bagi masyarakat kita. Apalagi bila kejahatan jalanan ini disertai dengan kekerasan (crime by using force) semisal penjambretan, penodongan, pencurian, pemerkosaan, penganiayaan, perampokan, pembunuhan, dan sebagainya.

Bentuk-bentuk kejahatan seperti perampokan dengan kekerasan, jambret, aksi begal dan aksi kriminalitas jalanan di atas tentu saja akan sangat berpengaruh pada keamanan dan ketertiban masyarakat. Karena kejahatan-kejatahan inilah yang paling dekat dengan mayarakat, dan apabila dibiarkan akan menimbulkan ketakutan, perasaan tidak aman dalam masyarakat dan tentunya akan sangat berpengaruh terhadap produktivitas masyarakat dalam melaksanakan kehidupannya sehari-hari.

Kejahatan jalanan merupakan bagian terbesar dari angka statistik kriminalitas. Sistem Peradilan Pidana kita sangat disibukkan oleh “street crimes” ini. Mungkin sebagian besar dari aktivitas penanggulangan kejahatan oleh Kepolisian, Kejaksaan dan Pengadilan berpusat pada kejahatan jalanan ini. Dan apabila kita melihat populasi Lembaga Pemasyarakatan, maka pelaku-pelaku kejahatan jalanan inilah yang memenuhi lembaga.

Meskipun realita diatas tidak serta merta menjawab apa yang menjadi permasalahan utama kejahatan di Indonesia, namun setidaknya, kejahatan jalanan telah memberikan andil yang besar dalam menimbulkan ancaman dan keresahan dalam kehidupan bermasyarakat. Untuk itulah perlunya polisi memiliki strategi yang tepat untuk terus menekan angka kejahatan jalanan ini. Karena tidak dapat dipungkiri bahwa hulu dari kejahatan ini merupakan akibat masalah kehidupan sosial masyarakat kita yang amat pelik. Kita tidak dapat memandang masalah kejahatan jalanan dari segi hukum saja, tanpa memperhatikan aspek sosiologis dalam masyarakat.

Kejahatan jalanan merupakan kejahatan konvensional yang selalu mewarnai kehidupan sosial masyarakat kita. Di kota besar seperti Jakarta, hampir dapat dipastikan setiap hari terjadi kejahatan semacam ini. Meskipun kejahatan ini sifatnya konvensional namun penyebab bentuk kejahatan ini tidak sederhana lagi. Sehingga polisi dalam hal ini tidak dapat bekerja sendiri untuk memerangi kejahatan jalanan ini.

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password