Ketika Polisi Santri di Luwu Makin Memasyarakat

Tribratanews.polri.go.id, Luwu Sulsel – Terobosan spiritual Polri yang dibungkus dalam program Polisi Santri semakin memasyarakat di Kabupaten Luwu. Jumlah polisi yang disebar untuk mengisi khutbah Jumat bertambah dari waktu ke waktu, dan mendapat antusiasme besar dari jemaah. Seperti apa sambutan warga Luwu?

“Sejak ada program Polisi Santri, masyarakat bisa berinteraksi dengan polisi secara langsung. Dulu masyarakat hanya bisa ketemu polisi kalau ada kasus, sekarang polisi hadir di masyarakat dengan misi berbeda,” ujar aktivis yang juga tokoh pemuda Luwu, Muh Ikbal.

Mahasiswa pascasarjana UNM ini berpendapat, balutan seperti inilah yang diinginkan masyarakat dari seorang polisi. Polisi tidak saja hadir di tengah-tengah mereka saat ada kekacauan, tapi juga dalam komunikasi sosial dan spiritual.

Cara ini justru lebih mudah merangkul warga daripada penegakan hukum. Artinya kata Ikbal, polisi itu sudah memahami fungsinya yang bukan lagi bagian dari militeristik.

“Polisi sekarang lebih condong sebagai penggerak sipil. Pola ini bentuk pendekatan psikologi. Syiarnya positif,” ujarnya.

Pakar komunikasi publik Aswar Hasan, mengatakan, setelah reformasi, polisi telah menanggalkan pakaian militernya. Polisi dikembalikan ke rakyat.

Tanggung jawabnya mengurus keamanan rakyat, mengayomi dan melindungi kepentingan rakyat. Untuk tugas-tugas itu, polisi harus bisa masuk ke semua aspek. Dari keamanan, sosial, religius sampai pendekatan budaya dan ekonomi.

Itulah sebabnya sekarang kata Aswar, polisi turun dengan berbagai program berbasis kemasyarakatan. Salah satunya Polisi Santri yang dikemas dengan hawa spiritual.

“Cara ini ternyata efektif. Masyarakat bahu membahu dengan Polri dalam berbagai kegiatan. Polisi Santri ini disambut baik karena masyarakat Sulsel adalah masyarakat religius. Mereka bisa dengan mudah menerima hal-hal baru jika dibungkus dengan warna-warna keagamaan,” jelas Aswar.

Aswar menjelaskan, bukan hanya bidang agama polisi bisa bersatu dengan warga. Di beberapa aspek, penyatuan itu bisa terjalin.

Diantaranya, polisi yang terjun dalam budidaya pertanian. Di beberapa daerah, polisi menjadi pelopor di bidang ini. Mereka sukses menginspirasi masyarakat untuk menggarap lahan-lahan tidur dan menjadikannya kebun produktif.

Ada juga polisi yang terjun di bidang pendidikan atau kemanusiaan. Seperti di Bone, seorang Bhabinkantibmas menjadi pelopor pemberantasan buta aksara di kalangan anak-anak putus sekolah di sebuah desa terpencil.

Semua ini menurut Aswar, menunjukkan terbangunnya paradigma baru kepolisian. Polisi menempatkan dirinya sebagai pengayom sekaligus pendorong kemajuan.

“Dan ini harus kita apresiasi. Semoga ke depan, semakin banyak polisi menjadi inspirator,” imbuhnya.

Di Luwu, Jumat kemarin, Aipda Fahmi, Bhabinkamtibmas Polsek Bajo, Polres Luwu, menjadi khatib Salat Jumat di Masjid Sarurang, Desa Ramaju, Kecamatan Bajo, Luwu. Seperti semangat yang mendasari program ini, dalam khatbahnya, Aipda Fahmi menyampaikan pesan-pesan religius dipadu kamtibmas.

Ia mengajak jemaah untuk istiqomah di jalan Allah. Menjaga ketakwaan dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Ia juga menyampaikan pentingnya menjaga keamanan lingkungan sebagai bagian dari tanggung jawab orang-orang beriman. (*)
==========

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password