Gerimis, Dirlantas Sulsel Winarto, dan Saat Tanggung Jawab Memanggil

Tribratanews.polri.go.id, Makassar Sulsel – Gerimis masih menyelimuti Makassar, Kamis (25/1/2017) petang. Di tiga titik di sepanjang Jalan AP Pettarani, ratusan kendaraan terjebak macet.

Genangan memperparah situasi. Di pertigaan Jalan Boulevard-AP Pettarani, kendaraan merayap sejak pukul 17.00. Traffic light tak banyak membantu mengurai kemacetan.

Di sejumlah titik padat, anggota Satlantas berjibaku mengurai kendaraan sejak lepas Ashar. Menjelang petang, tumpahan kendaraan dari Urip Sumoharjo menuju selatan AP Pettarani semakin tak teratasi.

Polantas harus kerja keras. Apalagi, hujan sedikit menghalangi jarak pandang.

Yang menarik, Direktur Lalu Lintas Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan Kombes Pol Winarto, turut terjun di tengah-tengah kemacetan. Di bawah cuaca yang tak bersahabat, Winarto berusaha mengurai kendaraan yang memadat dari berbagai arah.

Ia berulang kali memberi aba-aba kepada pengendara agar berhenti. Di lain waktu ia memberi isyarat dengan tangan kepada kendaraan lain di sisi berbeda agar berjalan teratur.

Menjelang Magrib, kemacetan perlahan bisa diurai. Hujan belum juga reda, Winarto sedikit menepi dan menginstruksikan sejumlah petugas agar tetap mengawasi lalu lintas di jalur itu.

“Kalau terjadi kemacetan, cepat diurai. Jangan biarkan kendaraan terjebak lama karena itu akan memperparah situasi,” pintanya.

AP Pettarani adalah kawasan tersibuk sejak satu dekade terakhir. Pettarani-Panakkukang adalah pusat bisnis dan perkantoran.

Sumbu kemacetan di kawasan ini terdapat di beberapa titik. Di antaranya, di pertigaan Boulevar, pertigaan Hertasning, pertigaan Maccini Raya dan sekitar Pasar Tamamaung.

Pettarani menjadi jalur penghubung utama antara selatan dan utara kota. Kendaraan dari arah selatan (Sultan Alauddin dan Gowa), sebagian besar memotong di AP Pettarani. Begitu juga kendaraan dari arah utara dan timur kota, sebagian besar melintasi Pettarani untuk sampai ke selatan (Alauddin).

Situasi ini memicu kepadatan kendaraan pada jam-jam tertentu. Kemacetan biasanya terjadi pada jam sibuk, menjelang petang dan pagi hari antara pukul 07.00 sampai 08.00.

Kombes Winarto mengatakan, dalam situasi seperti di AP Pettarani, traffic light tidak bisa secara otomatis memecah kemacetan. Traffic light hanya akan mengatur dalam situasi normal.

Dalam kondisi demikian, diperlukan petugas untuk mengurai kemacetan secara manual. Apalagi, menjelang petang, tumpahan kendaraan di Pettarani, berada di atas angka normal.

“Anggota harus turun mengatur lalu lintas. Tidak peduli hujan atau panas, kalau tanggung jawab memanggil, ya tidak boleh tidak,” terang Winarto.

Winarto mengatakan, sebagai atasan ia harus memberi contoh kepada anggota Satlantas di lapangan. Menurutnya, tidak cukup hanya dengan memberi perintah lisan. Seorang pimpinan, yang dituntut adalah keteladanan.

“Saya turun ke lapangan karena tanggung jawab. Saya jadi atasan bukan berarti tidak ke lapangan lagi. Saya harus beri contoh bahwa kita bertanggung jawab memberi rasa nyaman dan aman di jalanan. Itu tugas kita,” paparnya.

Bukan baru kali ini Winarto terjun langsung mengatur lalu lintas di jalanan. Ia sudah kerap memimpin polantas mengatur kendaraan di jalur-jalur macet sejak dilantik jadi dirlantas.

Saat terjadi kecelakaan lalu lintas di AP Pettarani, awal Januari lalu, Winarto juga terjun langsung mengevakuasi korban.
Winarto mengaku, sudah sejak lama terinspirasi dalam kerja-kerja lapangan.

“Saya lebih senang memberi contoh daripada sekadar perintah saja. Kalau saya beri contoh, tanpa saya perintah pasti anggota akan ikut. Tapi kalau perintah belum tentu dilaksanakan. Inilah yang saya sebut keteladanan,” imbuhnya.

Banyak pihak memuji terobosan Dirlantas Kombes Pol Winarto. Langkah itu dinilai bisa mendorong semakin baiknya kinerja polantas di lapangan.

Aktivis perempuan yang juga peneliti transportasi, Amirah Saleh mengatakan, secanggih apapun teknologi transportasi, peran polantas tetap sangat dibutuhkan. Menurutnya, di AP Pettarani, polantas harus stand by 12 jam karena intensitas kemacetan di kawasan itu baru menurun pada pukul 21.00.

“Kalau dirlantas (Winarto) ikut turun itu hal yang sangat positif. Inilah yang sebenarnya disebut polantas reformasi. Tidak lagi sekadar jago tilang orang, tapi juga peka dengan kebutuhan pengguna jalan,” ujar mahasiswa program doktor Universitas Hasanuddin ini.(*)

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password