Jumat Bharakuda dan Warung Sodaqoh ala Polres Maros Sulsel

Tribratanews.polri.go.id, Maros Sulsel – Mengampanyekan pesan-pesan kamtibmas tidak melalu lewat ceramah hukum. Ada kalanya pesan kamtibmas itu masuk lewat sisi-sisi religius dan kemanusiaan.

Di Kabupaten Maros, Polres setempat punya dua program kamtibmas, tapi berbasis spiritual dan kemanusian. Kedua program itu adalah Jumat Bharakuda (Jumat Bhayangkara Berkhutbah dan Bersedekah) serta Warung Sodaqoh.

Jumat Bharakuda adalah program yang dilaksanakan di setiap minggu pertama dan ketiga pada hari Jumat. Dalam kegiatan ini, dilibatkan polisi santri yang disebar ke masjid-masjid untuk mengisi khutbah Jumat, sekaligus dirangkai dengan pemberian sumbangan Alquran dan perangkat alat salat.

Sementara Warung Sodaqoh adalah program yang dilaksanakan di setiap minggu kedua dan keempat. Disebut Warung Sodaqoh karena program ini fokus pada pemberian makanan gratis kepada kaum duafa dan fakir miskin.

Program ini pada prinsipnya bentuk sosialisasi kamtibmas. Hanya saja, dibungkus dengan pesan-pesan religius dan kemanusiaan.

“Ini wujud kepedulian Polri kepada masyarakat. Polri ingin satu program tapi dua tujuan tercapai. Pesan kamtibmasnya sampai, sisi sosial dan keagamaannya juga bisa dirasakan warga,” jelas Kapolres Maros AKBP Erik Ferdinand.

Menurut Erik, banyak hal positif yang dirasakan setelah bergulirnya dua program ini. Pertama hubungan sosial antara Polri dan masyarakat semakin intim.

Keintiman itu kata dia, telah mendorong sikap proaktif masyarakat dalam menjaga keamanan dan ketertiban di lingkungannya.
Program ini juga menghapus stigma adanya jarak antara polisi dan rakyat.

“Ini membuktikan bahwa polisi adalah bagian dari masyarakat. Setiap program kita selalu berbasis pada kepentingan publik,” jelasnya.

Kedua, program Jumat Bharakuda membuka kesempatan kepada anggota Polri untuk terjun langsung membagi ilmu agamanya kepada masyarakat lewat khutbah Jumat. Anggota yang memiliki ilmu agama yang cukup serta kemampuan ceramah, bisa menyalurkannya lewat program ini.

“Ternyata di Polres Maros banyak anggota yang bisa ceramah. Setiap Jumat kita bisa sebar “polisi santri” ke masjid-masjid dan terbukti disambut baik oleh masyarakat,” terang Erik.

Keterlibatan Polri dalam program sosial dan spiritual telah tersosialisasi hampir ke semua daerah. Program ini disambut cukup baik.
Tokoh cendekiawan dan staf ahli Polda Sulsel, Prof Dr Ahmad Sewang, mengatakan, agama itu memiliki mata rantai yang sangat kuat dengan semua sisi kehidupan. Baik keamanan, sosial, dan juga ekonomi.

Ketika agama dijadikan pondasi dalam berbuat, maka jalan akan lebih terarah. Ia menyebut agama sebagai pelita dalam kehidupan.

Polri yang masuk ke ranah publ
ik lewat sisi religius dan kemanusiaan adalah langkah yang sangat cerdas. Program itu akan lebih mudah sampai karena dibungkus oleh pesan-pesan agama.

“Di Sulsel, semangat spiritual itu mudah sampai. Berbicara keamanan akan lebih gampang diterima lewat pendekatan religius,” jelasnya.

Ia yakin, program Jumat Bharakuda dan Warung Sodaqoh ini akan mendekatkan polisi dengan rakyat. Di sinilah rakyat akan merasakan kehadiran polisi sebagai pelindung bagi mereka.

Polisi hadir dalam sosok berbeda, namun sangat intim dengan kehidupan mereka. Hal seperti ini dirindukan masyarakat.

“Akan mudah mengajak mereka untuk peduli lewat sisi spiritual. Tinggal bagaimana program ini dibungkus lebih baik lagi,” kuncinya.

IMG-20170127-WA0044

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password