Narkoba di Sulsel : Satreskrim Polrestabes Tembak Bandar Narkoba

Tribratanews.polri.go.id, Makassar Sulsel – Satuan Reskrim Narkoba Polrestabes Makassar menghentikan perlawanan RL, seorang bandar narkoba, dalam sebuah penyergapan di Jalan Racing Centre, Rabu (25/1/2017) tengah malam. RL ditembak di bagian betis karena menyerang petugas diminta menyerahkan diri.

“Langkah represif terpaksa kita ambil karena dia menyerang petugas. RL ini salah satu bandar yang cukup lama dicari di Makassar,” terang Kasubbag Humas Polrestabes Makassar Kompol Burhanuddin HW.

Dalam penyergapan malam itu, turut diringkus empat pria lainnya hasil pengembangan dari keterangan RL. Mereka adalah HD (28), RR (41), RZ (30) dan RD (23).

Dikatakan Burhanuddin, RL sudah tiga bulan jadi incaran polisi. RL dikenal cukup licin. Ia berpindah-pindah sangat cepat sehingga kerap sulit teridentifikasi jejaknya.

“Tapi malam itu dia tidak berkutik karena sudah terkepung. Dia nekat melawan dan menyerang petugas, akhirnya dilumpuhkan dengan tembakan,” katanya.

Dari tangan RL disita barang bukti, 3 paket sabu dan 1 buah timangan digital. Selanjutnya anggota Polrestabes Makassar yang dipimpin AKP Irfan Arfandi melakukan pengembangan dan berhasil mengamankan empat tersangka yang sedang berpesta sabu beberapa jam berselang.

Mereka diduga masih rekan satu jaringan dengan RL. RL sendiri memiliki jaringan pelemparan narkoba cukup luas di Makassar dan sekitarnya. Ia diduga memiliki banyak kurir dan anak-anak jaringan pengedar.

Burhanuddin mengatakan, langkah tegas aparat diambil karena para bandar narkoba saat ini semakin nekat. Mereka tidak segan melawan atau melukai aparat jika merasa terhalangi.

RL bukan bandar pertama yang ditangkap. Sepanjang 2016 lalu, petugas juga telah meringkus bandar dari jaringan internasional. Beberapa di antaranya terpaksa ditembak karena mempersulit pengembangan dengan cara melarikan diri saat diminta menunjukkan barang bukti yang ia sembunyikan.

Praktisi hukum yang juga aktivis antinarkoba dari LKPN Sulsel, Andry Hidayat mengatakan, langkah represif memang dibutuhkan saat ini dalam kejahatan narkoba. Jika Indonesia tidak mau berada dalam fase darurat seperti Kolumbia, maka saatnya sekarang narkoba dilawan dengan perang masif.

“Penegakan hukum memang menjadi kuncinya. Semakin baik penegakan hukum, semakin efektif pemberantasan narkoba. Tidak ada toleransi, terutama mereka yang berstatus bandar. Merekalah akarnya, harus dicabut,” jelasnya

Andry menceritakan, Kolumbia pernah mengalami masa-masa transisi seperti Indonesia hari ini. Saat itu, Kolumbia keliru dalam memetakan akar masalahnya.

Akhirnya setelah tahun 80-an Kolumbia menjadi pasar narkoba paling produktif di dunia. Kartel narkoba membuat bisnis ini kian menggila. Lebih dari 40 persen anak muda usia produktif di negara itu telah mengenal dan pernah bersentuhan barang haram ini.

Setelah era 90-an, hukum tak mampu lagi menekan kartel. Mafia, uang dan pengaruh sudah memasuki birokrasi negara itu. Bahkan ekonomi Kolumbia turut dikendalikan oleh bisnis narkoba.

Kata Andry maukah kita sampai ke fase itu? “Tentu tidak. Nah kalau tidak mari kita mulai perangi sekarang. Ujung tombak penegakan hukum kita adalah Polri. Semoga langkah tegas Polri bisa mencegah kita seperti Kolumbia,” ketus Andry.

Andry mendukung langkah tegas aparat, namun harus tetap terukur. Ia juga meminta agar polisi fokus melakukan pengawasan internal karena narkoba sudah memasuki semua lini di birokrasi kita.

“Di kepolisian pun ada oknum yang terlibat. Jadi tugas polisi sekarang ganda, memberantas di masyarakat, juga menggeledah internal mereka,” kunci Andry. (*

Admin Polri56695 Posts

tribratanews.polri.go.id "Portal Berita Resmi Polri : Obyektif - Dipercaya - Patisipatif"

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password