Kapolda Sulsel : Busur Menjadi Budaya Tidak Bagus Ketika di Gunakan Saat Bentrok

Tribratanews.polri.go.id-Makassar. Kapolda Sulawesi Selatan (Sulsel), Irjen Pol Drs. Mas Guntur Laupe mengatakan bahwa busur atau anak panah masih menjadi senjata populer yang dipakai saat konflik antar kelompok di Kota Makassar. Dan sudah banyak korban berjatuhan dari penggunaan busur saat konflik.

Hal ini disampaikan Kapolda saat memberikan sambutannya di acara rapat Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) di kantor Gubernur Sulsel, Senin (18/11).

“Jelas ini (busur) sangat-sangat populer dari dulu hingga kini. Masih ada saja barang tersebut dan itu sangat membahayakan. Sudah ada yang meninggal kemarin 1 orang. Kita berharap ke depan busur-busur ini tidak lagi ada di kita ini khususnya Kota Makassar,” terang Kapolda.

Kapolda juga menambahkan bahwa penggunaan busur masih menjadi budaya yang tidak bagus, khususnya saat digunakan ketika perkelahian antar kelompok. Menurutnya busur merupakan senjata yang mudah dibuat meskipun tidak yamg menjualnya secara khusus.

“Mari kita sama-sama semuanya untuk menenangkan, bukan meniadikan alat ini untuk dijadikan suatu (senjata) pertengkaran dari kelompok anak-anak kita,” ungkap Kapolda.

Dalam penyerangan asrama mahasiswa di Makassar pada Minggu (17/11) dini hari lalu. Busur menjadi alat mereka saat itu asrama milik mahasiswa Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) di Jl Kijang, Makassar diserang orang tak dikenal. Korban mahasiswa tertusuk anak panah busur hingga kini masih menjalani perawatan.

“Mereka (penyerang) menggunanakan busur, mereka menggunakan bom molotov, tapi yang mengenai korban pada saat itu adalah yang menggunakan busur karena memang jaraknya jauh,” jelas Kapolda.

(ds/sw/hy)

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password