Polda Jabar Tangkap Pelaku Perdagangan Hewan Dilindungi

Tribratanews.polri.go.id – Bandung. Jajaran Direktorat Kriminal Khusus Polda Jawa Barat (Jabar) beserta Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jabar berhasil menangkap dan mengagalkan pelaku penjualan hewan langka dan di lindungi memalui media sosial, pelaku tersebut bersama Dede Nurdin (29), dalam melakukan kejahatannya pelaku mendapatkan keuntungan jutaan rupiah.

Kabid Humas Polda Jabar, Kombes. Pol. Trunoyudo Wisnu Andiko, S.I.K., menjelaskan bahwa pengungkapan kasus berhasil dilakukan bekerjasama dengan Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jabar.

“Dalam penyelidikan, kami berhasil menangkap satu tersangka dalam kasus dugaan tindak pidana di bidang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya di Pangandaran, (27/20/2019),” jelas Kabid Humas Polda Jabar.

Kabid Humas Polda Jabar mengungkapkan, dalam penangkapan di Desa Babakan, Kecamatan Pangandaran itu, penyidik menyita barang bukti berupa enam ekor lutung, dua ekor Surili, satu ekor Owa dan satu unit ponsel pintar.

Hasil pemeriksaan, tersangka mendapatkan sejumlah satwa dari kenalannya yang berprofesi sebagai pemburu. Satu ekor lutung ia dapatkan dengan harga Rp200.000, Surili Rp300.000. Sedangkan seekor Owa didapatkannya dengan harga Rp2 juta.

“Satwa ini kemudian, oleh tersangka jual sesuai pesanan melalui media sosial. Bisninya itu ia mulai sejak sekitar awal Bulan Oktober 2019,” jelas Kabid Humas Polda Jabar.

Sementara itu di tempat yang sama Wadirkrimsus Polda Jabar, AKBP Hari Brata, mengatakan, perbuatan tersangka melanggar Undang-Undang RI Nomor 5 tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

“Ancaman hukumannya selama lima tahun. Saat ini, yang bersangkutan kami tahan. Sedangkan satwa yang berhasil disita akan diserahkan BKSDA dan lembaga konservasi Aspinal untuk dirawat,” jelas Wadirkrimsus Polda Jabar.

Wadirkrimsus Polda Jabar menegaskan, setelah proses penyidikan terhadap tersangka rampung, kasus ini akan terus dikembangkan dengan menangkap kurir, pemburu dan pembeli.

Sementara itu, Dede mengaku baru menjalankan bisnisnya selama hampir dua bulan setelah mendapatkan permintaan dari rekannya di Kabupaten Bogor. Karena tak punya pekerjaan tetap, permintaan itu ia sanggupi dan ditindaklanjuti dengan mencari pemburu yang biasa beroperasi di hutan perbatasan Ciamis-Tasikmalaya.

“Saya dapat kenalan seorang pemburu. Rata-rata mereka (pemburu) saya kasih upah Rp200.000 dari setiap ekornya. Kalau Owa memang lebih mahal. Saya jual lagi dengan selisih harga dua kali lipat,” jelas tersangka.

(fn/sw/hy)

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password