Polri: Masyarakat Tidak Perlu Takut, Kepolisian Tetap Bisa Mencegah Aksi Terorisme

Tribaratanews.polri.go.id-Jakarta. Karo Penmas Divhumas Polri Brigjen Pol. Dr. Dedi Prasetyo, M.Hum., M.Si., M.M. mengatakan bahwa Detasemen Khusus Anti Teror (Densus AT) 88 Mabes Polri menangkap seorang terduga teroris Jamaah Ansharut Daulah (JAD), Novendri (N) alias Abu Zahran alias Abu Jundi. Serangan utama yang dipersiapkan (N) adalah Upacara 17 Agustus, Polda Sumatera Barat, kemudian Polres, Polresta Padang, serangan seporandis di beberapa posko lalu lintas dan mengambil senjata anggota, Selasa (23/07/19).

“Dia merencanakan aksi terorisme dengan melakukan memetakan ke beberapa sasaran aksi terorisme khususnya di Sumatera Barat, sasarannya pada Upacara 17 Agustus,” ungkap Jenderal Pol. Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Selasa (23/7).

Brigjen Pol Dedi Prasetyo menjelaskan Tim Densus 88 sudah sejak lama mengikuti kelompok JAD. Pasca penangkapan JAD Bekasi merupakan titik awal pengungkapan jaringan JAD maupun rencana aksi yang akan dilakukan termasuk tanggal 21-22 Mei di depan KPU dan Bawaslu serta event nasional lainnya yaitu 17 Agustus mereka memanfaatkan momentum seperti itu.

Jenderal Bintang Satu itu menghimbau, menjelang hari kemerdekaan tetap waspada, namun masyarakat tidak perlu panik dan khawatir untuk merayakan rangkaian kegiatan kemerdekaan dengan semaksimal mungkin. Yakin kepada aparat dan stakeholder terkait untuk memantau agar rencana aksi kelompok terorisme tidak sampai terjadi.

“Tentunya harus waspada namun tidak perlu khawatir karena Densus 88 meningkatkan kewaspadaan yang cukup tinggi. Serta melibatkan beberapa aparat terkait agar serangan itu bisa dimitigasi secara maksimal, ungkap mantan Wakapolda Kalteng tersebut.

Terhadap kelompok yang melakukan survei ini, Tim Densus 88 sudah mengintainya sejak Januari 2019 ketika melakukan penangkapan salah satu deportan yang mau berangkat ke Iran. Dari keterangan yang bersangkutan yang merupakan residivis napiter terungkap semua jaringannya.

Tentunya pengungkapan jaringan ini cukup sulit selain keterbatasan alat komunikasi yang mereka miliki juga karena mereka selalu berpindah pindah tempat mencari lokasi yang aman. Oleh karena itu perlu betul-betul kecermatan dari Densus 88 karena jaringan ini belum selesai masih ada beberapa DPO.

Kasus ini seperti fenomena gunung es di permukaan kecil tapi di bawah permukaan cukup besar.

Polri sudah cukup berpengalaman, Jakarta sudah mau diserang mulai dari Bekasi, Bogor, Tangerang, Jabar, Jateng, Jatim semuanya sama, sentral aksinya di Jakarta selain di beberapa wilayah lainnya.

Para teroris beranggapan paling intens untuk memerangi terorisme adalah kepolisian sehingga kepolisian menjadi target utamanya sebagai Toghut yang dianggap menghambat visi mereka.

(ng/sw/hy)

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password