Kapolri: Seorang Perwira TNI-Polri harus Mampu Berpikir Terbalik, atau Teori Black Swan

Tribratanews.polri.go.id-Jakarta. Kapolri Jenderal Polisi Prof. H. Muhammad Tito Karnavian, Ph.D. memberikan pembekalan terhadap 781 Calon Perwira Remaja (Capaja) 2019 di Akademi TNI-Polri. Pembekalan dengan situasi yang dihadapi TNI-Polri dalam kerangka kehidupan berbangsa dan bernegara, cara menghadapi persoalan ke depan, dan kontribusi yang dapat diberikan oleh Capaja yang sebentar lagi akan menjadi perwira remaja, Jumat (12/07/19).

Dalam arahannya, Jenderal Polisi Prof. H. Muhammad Tito Karnavian menjelaskan tentang teori Angsa Hitam atau Black Swan Theory terkait cara menghadapi persoalan dan tantangan bangsa Indonesia ke depan. Hal itu disampaikan Kapolri di Gedung Ahmad Yani Mabes TNI Cilangkap Jakarta Timur pada Jumat (12/7/19).

“Dalam berbagai kesempatan saya sering mengemukakan bahwa seorang akademisi dan perwira harus mampu berpikir terbalik, atau teori Black Swan. Teori ini muncul bahwa ada anggapan semua angsa warnanya putih tapi ketika muncul angsa hitam maka teori itu patah,” ungkap mantan Kepala BNPT tersebut.

Kapolri menekankan, dalam menghadapi persoalan ke depan para calon perwira TNI-Polri tersebut harus mampu berpikir Angsa Hitam atau berpikir terbalik.

“Kalau tidak bisa kita akan gagap ketika ada Angsa Hitam,” jelas Kapolri.

Mantan Kadensus 88AT itu melanjutkan, menurutnya Amerika Serikat pernah mengalami hal itu saat mendapat serangan teror oleh kelompok teroris Al Qaeda pada peristiwa 9/11 tahun 2011 yang menyasar pusat ekonomi, pusat militer, dan pusat pemerintahannya.

Jenderal Pol. Tito Karnavian mengatakan, sejak 1776 Amerika merdeka sebagai satu bangsa mereka tidak pernah diserang di main land, serangan yang besar hanya pernah terjadi di pinggiran, yakni di Pearl Harbour.

“Tapi serangan 9/11 oleh kelompok teroris Al Qaeda itu langsung menyerang ke tiga jantung utama yang jadi kebanggaan nasional mereka. Pusat ekonomi Twin Tower di New York hancur. Kemudian pusat militer mereka yang dengan bangga sangat aman, 1/5 hancur dengan serangan bunuh diri dan pusat politik mereka,” ungkap mantan Deputi Penindakan dan Pembinaan Kemampuan BNPT tersebut.

Guru Besar STIK-PTIK itu mengatakan, satu di antara penyebab berhasilnya serangan teror tersebut adalah karena Amerika berpikir bahwa hal itu tidak akan pernah terjadi.

“Negara sebesar Amerika dengan intel yang kuat bisa diserang di tiga titik kebanggaan mereka oleh serangan teroris. Ini terjadi karena salah satunya berpikir angsa putih. Maka kita juga harus mampu berpikir Angsa Hitam,” tegas Jenderal Bintang Empat tersebut.

Dalam pembekalan tersebut, sebanyak 781 calon perwira remaja (Capaja) Akademi TNI-Polri tampak memperhatikan dengan seksama. Para Capaja tersebut berasal dari Akademi Angkatan Darat sebanyak 259 orang yang terdiri dari 244 putra dan 15 putri. Kemudian dari Akademi Angkatan Laut (AAL) sebanyak 117 orang yang terdiri dari 103 putra dan 14 putri. Dari Akademi Angkatan Udara (AAU) sebanyak 99 orang yang terdiri dari 90 putra dan 9 putri.

Kemudian dari Akademi Kepolisian (Akpol) sebanyak 306 orang yang terdiri dari 256 putra dan 50 putri.

Mereka rencananya akan dilantik sebagai perwira berpangkat Letnan Dua dan Inspektur Polisi Dua di Istana Merdeka pada Selasa (16/7/2019).

Dalam acara tersebut turut hadir Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, S.I.P., Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Yuyu Sutisna, Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Siwi Sulma Adji, Wakil Kepala Staf Angkatan Darat Letjen TNI Tatang Sulaiman, Danjen Akademi TNI Laksdya TNI Aan Kurnia dan Kalemdiklat Polri Komjen Pol. Drs. Arief Sulistyanto, M.Si.

(ng/sw/hy)

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password