Lindungi Anak dari “Predator”, Polisi Tindaki Pelaku Pencabulan di Makassar

Tribratanews.polri.go.id, Makassar Sulsel – Dunia pendidikan di Makassar tercoreng. Lantaran tak bisa menahan syahwatnya, Frederik (50), salah seorang oknum guru di SD Katolik Santo Aloysius nekat mencabuli muridnya berinisial “J” saat jam pelajaran berlangsung.
Ironisnya, perbuatan tidak terpuji itu dilakukan tersangka saat membawakan mata pelajaran PKN. Peristiwa itu menimpa J yang masih duduk di bangku kelas IV, Kamis (19/1/2017).
Terbongkarnya kasus ini saat korban melaporkan kejadian yang menimpanya kepada orang tuanya. Tidak terima anaknya dilecehkan, orang tua korban lantas melaporkan perbuatan tersangka ke Polsek Rappocini.
“Kasus ini ketahuan setelah ada laporan dari orang tua korban yang tidak terima anaknya menjadi korban pencabulan oknum guru,” kata Kanit Reskrim Polsek Rapocini, AKP Robby Andi Manaugi, Senin (23/1/2017).
Robi menjelaskan, perbuatan tercela itu dilakukan tersangka saat memberikan pelajaran kepada muridnya. Saat itu, kata Robi, tersangka mendekati korbannya dan langsung meraba tubuh korban.
“Menurut pengakuan tersangka, dia pertama memegang pipi korban, lalu meraba dada dan kemaluan korban,” terang Robi.
Sementara itu, Kabid Humas Polda Sulsel, Dicky Sondany mengatakan, tersangka mengaku jika telah melakukan tindakan tidak terpuji itu kepada empat muridnya. Hanya saja saat ini, kata dia, ketiga korbannya belum melaporkan ke aparat kepolisian.
“Tersangka saat ini dijerat dengan pada 82 Ayat (1) UU 35/2014 Tentang Perlindungan Anak, ancaman pidana minimal 5 tahun dan maksimal 15 tahun penjara,” ujar Dicky Sondani, Selasa (24/1/2017).
Sementara itu, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) Kota Makassar, Andi Tenri Apalalo mengecam tindakan Frederik. Dia menyebut jika tersangka merupakan guru yang mati jiwa.
“Guru mati jiwa, mayat jalan. Hukum berat tersangkanya. Pecat dari sekolah karena sudah menjadi predator anak,” ujarnya geram.
Tenri mengatakan, pihaknya akan menurunkan tim untuk memberikan pendampingan kepada korban berupa pendampingan psikolog, konseling, dan pendamping lainnya yang membuat korban tidak trauma.
Maraknya tindak asusila yang menjadikan anak dibawah umur sebagai korban membuat Tenri berencana akan berkoordinasi dengan beberapa pihak terkait, untuk menciptakan provinsi yang religius.
“Kita akan berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan terutama pengurus sekolah, dan yang paling penting bertemu dengan para ulama untuk terapi jiwa,” tandasnya. (*)

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password